06/12/2025
Ketika Dakwah Menjelma Menjadi Pisau, Luka Umat yang Tergores oleh Puritanisme Ekstrem”
Pada suatu masa, dakwah adalah cahaya yang menghangatkan hati umat, mengikat yang jauh dan mengobati yang terluka. Namun sejarah juga menyimpan sisi lain, ketika agama berubah menjadi palu, dan manusia menjadi paku, ketika kalimat Laa Ilaaha Illallah tidak lagi dibisikkan untuk membangunkan manusia menuju keindahan tauhid, tetapi diteriakkan untuk menuding, mencela, bahkan menghapus keberadaan orang lain. Pada titik itulah puritanisme kehilangan ruhnya dan berubah menjadi radikalisme, bukan lagi penjaga kemurnian agama, tetapi pedang yang diarahkan ke tubuh umat sendiri.
Radikalisme puritan bermula bukan dari peluru, tetapi dari kata-kata. Ia berangkat dari semangat “pemurnian” yang pada awalnya terdengar mulia, mengembalikan agama kepada kemurniannya. Namun ketika pemurnian kehilangan hikmah, ketika keyakinan hilang keseimbangannya, ketika syariat terpisah dari akhlak, maka lahirlah keyakinan yang tandus. Sejak itulah umat mulai melihat sebagian kecil yang menyebut diri sebagai pembawa panji tauhid menjadikan sesama Muslim sebagai musuh, bukan saudara. Nabi ﷺ memperingatkan: “Mencaci seorang Muslim adalah kefasikan, dan memeranginya adalah kekufuran.” (HR. Bukhari dan Muslim). Tetapi kata-kata kekasih Allah itu tenggelam di tengah gelombang fanatisme yang membutakan, sehingga kecintaan pada “kebenaran” berubah menjadi kebencian pada manusia.
Al-Qur’an telah mengingatkan dengan tegas,
"Taatilah Allah dan Rasul-Nya, janganlah kamu berbantah-bantahan yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan kekuatanmu hilang, serta bersabarlah. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Anfal: 46).
Ayat ini tidak diturunkan untuk menghias dinding masjid, tetapi sebagai pedoman untuk mempertahankan kekuatan umat. Namun ketika sebagian orang menutup mata terhadap dalil ini, perpecahan menjadi qurban yang dianggap sah. Dakwah yang seharusnya menyatukan kini melahirkan dinding-dinding baru, mazhab versus mazhab, jamaah versus jamaah, bahkan keluarga versus keluarga.
Ironinya, puritanisme ekstrem hampir tidak pernah mengarahkan kemarahannya kepada penindas umat, bukan kepada pendudukan Al-Aqsa, bukan kepada penjajahan ekonomi, bukan kepada tirani global. Ia lebih sibuk menjadikan umat Islam sendiri sebagai lawan ideologis. Pada saat saudara-saudara kita terjajah dan masjid-masjid kita dihancurkan, sebagian orang malah menjadikan perbedaan rukuk, doa, zikir, atau maulid sebagai alasan memutus ukhuwah. Mereka menyangka sedang menjaga tauhid, padahal sedang merobek tubuh umat yang Nabi ﷺ bangun dengan darah, peluh, dan kasih sayang.
Nabi yang mereka klaim bela adalah Nabi yang wajahnya berubah marah ketika melihat sahabat-sahabat saling mencela. Tidak ada satu pun riwayat sahih yang menunjukkan Rasulullah ﷺ mengkafirkan Muslim yang bersyahadat hanya karena perbedaan ibadah atau tradisi. Sebaliknya, beliau bersabda: “Barangsiapa mengatakan kepada saudaranya: wahai kafir, maka kata itu akan kembali kepada salah satu dari keduanya.” (HR. Muslim). Sabda itu adalah dinding pengaman agar umat tidak bermain-main dengan takfir, tetapi bagi radikalisme puritan, dinding itu ditembus, seakan Allah memberikan hak menghakimi akhirat kepada siapa saja yang paling lantang berteriak di mimbar.
Buku-buku akademik telah menjelaskan bagaimana radikalisme puritan menyebar bukan terutama melalui senjata, melainkan melalui bahasa agama yang diselipkan racun kebencian. Karya Madawi Al-Rasheed (A History of Saudi Arabia, Cambridge University Press), Thomas Hegghammer (Jihad in Saudi Arabia, Cambridge University Press), dan Gilles Kepel (Jihad: The Trail of Political Islam, Harvard University Press) menunjukkan bagaimana puritanisme ketika kehilangan akhlak dan tasawuf melahirkan kultur takfir: dari mencela amalan, menganggap sesat, lalu mengkafirkan, hingga akhirnya menghalalkan darah. Jalan menuju radikalisme bukan sebuah lompatan, tetapi perjalanan bertahap dari mimbar-mimbar dingin yang mengajarkan agama tanpa cinta.
Sementara itu, Al-Qur’an datang bukan untuk memecah umat, tetapi untuk menyatukannya. Allah berfirman: “Sesungguhnya (agama ini) adalah agama kamu semua; agama yang satu, dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah kepada-Ku.” (QS. Al-Mu’minun: 52). Ayat ini adalah undangan untuk kembali dari kebenaran yang menyesatkan menuju cinta yang menyelamatkan, dari dakwah yang melukai menuju dakwah yang memeluk.
Kita perlu memahami, memerangi radikalisme tidak sama dengan memerangi agama. Justru memerangi radikalisme adalah upaya mempertahankan agama agar tetap menjadi rahmat bagi manusia. Sebab agama yang kehilangan rahmah bukan lagi agama. Ia hanyalah ideologi yang meminjam nama Tuhan untuk menyalakan api konflik. Islam datang untuk memadamkan api itu, bukan untuk menambah bahan bakarnya.
Maka barangsiapa ingin menjaga tauhid, hendaklah ia menjaga akhlak Nabi. Barangsiapa ingin menjaga sunnah, hendaklah ia menjaga persaudaraan umat. Barangsiapa ingin menjaga agama, hendaklah ia menjaga manusia. Sebab agama yang tidak menjaga manusia bukan agama, tetapi berhala baru yang menuntut tumbal dari saudara seimannya sendiri.
Semoga Allah merawat umat ini dari tajamnya lidah takfir, dari kerasnya hati yang mengatasnamakan sunnah, dan dari radikalisme yang berwajah agama tetapi kehilangan nur Muhammad ﷺ. Karena pada akhirnya, kemenangan agama bukan ketika lawan dibungkam, tetapi ketika hati manusia kembali kepada Tuhan dengan cinta.