Surabrata

Surabrata Surabrata adalah Kota dari Kecamatan Selemadeg Barat, Kabupaten Tabanan, Bali

Surabrata adalah Banjar yang terletak di sebelah Utara Jalan Raya Denpasar - Gilimanuk.

Dengan Rika Ajus – Saya baru saja diakui sebagai salah satu penggemar beratnya! 🎉
24/01/2026

Dengan Rika Ajus – Saya baru saja diakui sebagai salah satu penggemar beratnya! 🎉

01/01/2026

Untuk Semeton Surabrata:

29/03/2025

Untuk Semeton Surabrata yang merayskan:

17/04/2024

TOL GILIMANUK - MENGWI

Pemerintah akan meneruskan pembangunan Tol Gilimanuk - Mengwi di Bali pada tahun 2024 ini. Proyek ini sempat mangkrak sejak 2022 setelah badan usaha jalan tol (BUJT) yakni PT Jagat Kerti Bali mundur dengan alasan tidak bisa melakukan pemenuhan untuk pembiayaan atau financial close. Dalam proses pembangunan, PT Jagat Kerti Bali juga sudah membebaskan lahan 44,64 hektare senilai Rp 112,37 miliar. Bagaimana ceritanya?

Mengutip laporan KPBU Kementerian Keuangan, proyek Tol Gilimanuk - Mengwi merupakan salah satu Proyek Strategis Nasional sebagaimana tercantum dalam Peraturan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Nomor 7 Tahun 2021 tentang Perubahan Daftar Proyek Strategis Nasional. Proses Transaksi dari proyek ini dimulai sejak Pengumuman Prakualifikasi proyek ini pada tanggal 25 Februari 2021.

Pada tanggal 23 Februari 2022 diumumkan penetapan hasil negosiasi pelelangan pengusahaan Tol Gilimanuk - Mengwi dan menyatakan bahwa Konsorsium PT Sumber Rhodium Perkasa (80%), PT Cipta Sejahtera Nusantara (15%) dan PT Sentosa Dwi Agung (5%) sebagai pemenang lelang atas proyek ini. Konsorsium ini membentuk Badan Usaha Pelaksana (BUP) yang selanjutnya dikenal sebagai PT Tol Jagat Kerthi Bali.

Setelah proses pengumuman pemenang lelang, Pada 8 Maret 2022 dilakukan Penandatanganan Perjanjian Pengusahaan Jalan Tol Gilimanuk Mengwi antara Direktur Utama PT Tol Jagat Kerthi Bali dengan Kepala BPJT, Perjanjian penjaminan antara antara Direktur Utama PT PII dengan Direktur Utama PT Tol Jagat Kerthi Bali dan Perjanjian Regres antara Menteri PUPR dengan Direktur Utama PT PII. Jalan Tol Gilimanuk - Mengwi akan menjadi ruas kedua di Provinsi Bali setelah jalan tol Bali Mandara yang bertujuan untuk pengembangan sektor pariwisata Bali, utamanya peningkatan konektivitas dari Pelabuhan Gilimanuk hingga ke Metropolitan Sarbagita yang kerap mengalami kemacetan.

Jalan tol ini juga berfungsi untuk mempercepat arus transportasi barang dan transportasi masal dari Arah Bali Barat - Bali Timur (dan sebaliknya) dan mempersingkat waktu tempuh Gilimanuk ke Denpasar dari 5 - 7 jam (dalam keadaan normal) menjadi hanya 1.5 - 2 jam.

Sumber

28/01/2024

Tirtayatra Sebagai Yajna Utama

Banyak bentuk yadjna yang telah dilaksanakan oleh umat Hindu dengan tanpa disadari karena dilaksanakan dengan niskarma karma (dilakukan tanpa pamrih, dilakukan tanpa mengikatkan diri akan hasil), karma yang demikian disebut dengan karma (perbuatan) sebagai persembahan kepada Tuhan, yang biasa disebut dengan yajna (korban suci) seperti: Dewa Yajna, Resi Yajna, Pitra Yajna, Manusa Yajna dan Bhuta Yajna.

Tirtayatra sebenarnya sudah banyak dilakukan umat Hindu sejak dulu dan sejalan dengan kemajuan serta meningkatnya kesejahteraan maka tempat suci yang dikunjunginya semakin meluas serta umat mulai menyadari, bahwa tirtayatra sebagai salah satu cara melakukan yajna (korban suci) yang paling mudah karena dapat dilaksanakan oleh setiap umat Hindu termasuk orang miskin sekalipun.

Dalam petuah Bhagawan Waisampayana kepada Maha Raja Janamejaya yang disarikan oleh Bhagawan Wararuci memang jelas disebutkan. Melakukan tirtayatra dianggap lebih utama dari pada melakukan yajna sebagaimana dimuat dalam Sarasamuscaya (Himpunan intisari karya Bhagawan Byasa) pada Sloka 279 disebutkan "Sada daridrairrapi hi cakyam praptum nardhipa tirthabhigamanam punyam yajnerapi wicisyate" dalam bahasa Kawi (Jawa Kuna) diterjemahkan sebagai berikut "Apan mangke kottamning tirthayatra, atyanta pawitra, Iwih sangkeng kapawananing yajna, wenang ulahakena ring daridra". Artinya adalah begitu keutamaan tirthayatra, amat suci, lebih utama dari pada pensucian dengan yajna (yadnya), dapat dilakukan oleh daridra (orang miskin) sekalipun.

Pengertian dan Tujuan Tirtayatra

Yang dimaksud dengan tirtayatra adalah niat tulus untuk mengunjungi tempat-tempat suci atau tempat bersejarah dan tempat-tempat lain yang dikeramatkan. Tirtayatra bertujuan untuk melihat dari dekat tempat bersejarah untuk menyaksikan secara nyata tempat-tempat penting dalam pertumbuhan dan perkembangan agama Hindu, agar dapat mempertebal Panca Sradha (lima keyakinan) dan kebenaran terhadap sejarah perkembangan ajaran Hindu.

Untuk meyakini sesuatu, kita (penganut Hindu) telah memiliki cara yang disebut dengan Tri Premana (tiga cara) yaitu: Agama Pramana yang dimaksudkan adalah bahwa kita meyakini adanya sesuatu berdasarkan atas informasi yang kita terima dari pelajaran yang diberikan oleh para guru/para ahli atau cerita-cerita dari orang-orang suci yang telah lebih dahulu mengalami yang kita percayai;
Anumana Pramana yaitu kita meyakini sesuatu atas dasar hasil analisa akan suatu penomena baik alam, flora, fauna dll;
Pratyaksa Pramana dimana kita meyakini sesuatu atas dasar penglihatan langsung atau pengalaman pribadi yang tiap-tiap orang tidaklah sama pengalaman spiritualnya.

Selama melaksanakan tirtayatra (perjalan suci) para yatri (peserta) akan mendengarkan cerita-cerita mengenai tokoh sejarah atau tempat yang dikunjungi (Sravanam), pada saat tertentu juga turut menyanyikan kidung suci keagamaan atau menyebut-nyebut nama Tuhan berulang-ulang (kirtanam), dalam perjalanan selalu mengingat Tuhan dengan segala manifestasinya (Smaranam), melakukan pemujaan di beberapa, Pura atau Mandir (Arcanam), juga ada kesempatan membaca cerita-cerita suci keagamaan atau sloka-sloka kitab suci (Wandanam), selalu berusaha mengabdi kepada Tuhan dengan jalan mengekang rasa ego atau ahamkara (Dasyam), ada juga yang melakukan pemujaan dengan merebahkan diri tertelungkup di hadapan yang dipuja, Tuhan dilambangkan amat agung, cara ini dikenal dengan istilah "memuja kaki padma Tuhan" (Padesevanam). oleh karena kegiatan itulah melakukan tirtayatra dianggap sungguh-sungguh utama.

Termasuk sebagai Tempat Suci menurut Hindu.

Dalam kitab Sarasamuscaya secara umum disebut tempat suci adalah Pura (Temple, Kuil, Candi), tempat-tempat lain seperti: Campuhan (pertemuan air laut dengan sungai atau pertemuan dua sungai atau lebih), Mata Air, Gunung, Sungai dan Danau yang di tiap-tiap pulau pasti ada Petirtaan (tempat pensucian atau petilasan).

Menurut kitab-kitab Purana tempat pensucian yang dijadikan tempat pelaksanaan Kumbha Mela (upacara penyucian diri dengan cara mandi) yaitu: Allahabad (Prayag), Haridwar, Awanti dan Nasik. Di 4 (empat) tempat tersebut diyakini sebagai tempat tercecernya titha amertha (air kehidupan) saat para Dewa merebutnya dari tangan-tangan para Danawa.

Selain tempat tersebut ada beberapa kota suci lagi di India yang dijadikan tujuan dari para Yatri (orang yang melakukan tirtayatra) yaitu tempat-tempat yang dikenal dengan sebutan Moksa Puri atau Sapta Puri yaitu: Ayodya, Mathura, Haridwar, kasi (Varanasi sekarang disebut Benares), Kanchipuram, Ujjain dan Dwaraka.

Masih banyak lagi tempat-tempat penting dalam sejarah perkembangan agama Hindu seperti lembah Sungai Sindhu (tempat para Rsi menerima wahyu), Jyotisar (tempat yang diyakini, bahwa di tempat tersebut untuk pertama kalinya Sri Kresna, memberikan wejangan suci kepada Arjuna), Hutan Tulasi (tempat masa kecil Sri Kresna), lapangan Kuru Ksetra (tempat terjadinya perang Mahabaratha), Gunung Citrakuta tempat pengembaraan Sri Rama, Gunung Kaelasa dll.

Melakukan tirtayatra bukanlah perjalanan biasa untuk mengkeramatkan tempat-tempat tersebut, tetapi untuk menambah keyakinan akan kebenaran ajaran Hindu dan meningkatkan rasa bhakti, mengagumi kemahakuasaan serta kebesaran Tuhan, kemanapun dan dimanapun kita memuja atau menyembah tetap ditujukan kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan segala manifestasinya (Ista Dewata) menurut cara masing-masing, selalu menghormat kepada: para Rsi, leluhur yang telah mendahului kita, sebagai sesama Manusia dan Bhuta (mahluk lain), sehingga tercipta hubungan yang tetap harmonis antara kita sesama Manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa (Sang Pencipta), antara manusia dengan alam lingkungan tempat kita hidup dan berkembang (Tri Hita Karana).

Sumber: Rauh Ariawan l Warta Hindu Dharma NO. 418 Desember 2001

25/03/2020

Om Swastyastu!
Titiyang sekeluarga ngaturang
RAHAJENG RAHINA SUCI NYEPI TAHUN BARU SAKA 1942, 25.03.2020 :
melarapan antuk catur berata penyepian, dumogi semeton titiyang sareng sami ngemangguhang kerahajengan lan kerahayuan sareng sami.
Tat astu swaha.
Nyoman Sunaya & Keluarga.

Odalan ring Pura Batu Mejan:
26/01/2020

Odalan ring Pura Batu Mejan:

15/05/2019

Om Swastyastu.
Rahajeng Rahina Suci Pagerwesi.
Dumogi mepikolihan rahajeng, rahayu lan dirgayusia. Swaha

Address

Jalan Denpasar/Gilimanuk, Lalanglinggah, Selemadeg Barat
Selemadeg
82162

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Surabrata posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Organization

Send a message to Surabrata:

Share

Category