26/01/2024
Tradisi Nyadran/ Sadranan merupakan tradisi yang dilakukan secara turun
temurun oleh masyarakat Jawa. Tradisi ini dilakukan pada bulan
ruwah menjelang bulan puasa. Tradisi nyadran biasanya dilakukan di makam
leluhur atau makam tokoh yang banyak berjasa bagi syiar agama pada masa lampau.
Tradisi yang hingga saat ini masih berlangsung di masyarakat pedesaan itu
mempunyai makna simbolis, hubungan diri orang Jawa dengan para leluhur, dengan
sesama, dan tentu saja dengan Tuhan. Tradisi nyadran intinya berupa ziarah kubur pada bulan Syaβban / Ruwah dalam kalender Jawa, menjadi semacam kewajiban bagi orang Jawa.
Nyadran/ Sadranan kegiatan Ziarah dengan membersihkan makam leluhur, memanjatkan doa permohonan ampun, dan tabur bunga tersebut adalah simbol bakti dan ungkapan penghormatan serta terima kasih seseorang terhadap para
leluhurnya. Makna yang terkandung dalam persiapan puasa di bulan Ramadan adalah agar orang mendapatkan berkah dan ibadahnya diterima Allah. Lewat ritual nyadran, masyarakat Jawa melakukan penyucian diri. Mereka mengunjungi makam
leluhur, membersihkan batu-batu nisan dari rumput liar dan ilalang, dan
melakukan kendurian. Meski bentuk kegiatan sama, namun makna nyadran sangat
berbeda dengan ziarah kubur. Perbedaan itu, antara lain karena waktu pelaksanaan ritual nyadran telah ditentukan secara sepihak oleh pihak yang memiliki otoritas di daerah tersebut. Di hampir semua desa, pihak yang
berwenang menentukan waktu nyadran adalah juru kunci atau sosok yang paling dituakan dalam masyarakat.
Hari ini : Jumat 26 Januari 2024 di Makam Mbah Guntur yg ada di wilayah RW 06 dilaksanakan Tradisi Sadranan.