10/06/2022
Kenapa Semarang?
Ada banyak kota besar lain di Indonesia, tapi mengapa program SHIFT UNEP ini dilakukan di Semarang?
Dengan luas wilayah 373,7 kilometer persegi, Semarang masih memiliki persawahan seluas 4165,4 hektare (ha) atau 41,6 kilometer persegi atau 11,1 persen (BPS, 2021). Persentase ini jauh melampaui Bandung (6,5 persen), Surabaya (5,4 persen) dan DKI Jakarta (1,4 persen).
Kota dengan keberadaan pertanian yang signifikan seperti Semarang, adalah kota yang sesuai tuntutan keberlanjutan yang semakin menguat belakangan ini. Kota besar namun masih memiliki lahan hijau yang cukup luas.
Sistem pangan perkotaan yang berkelanjutan (sustainable urban food system) adalah sebuah ideal baru yang ingin dicapai oleh kota-kota dunia. Tekanan sistem pangan yang terus meningkat terhadap planet bumi telah semakin dikenali, bukan saja oleh kalangan ilmiah, tetapi juga oleh para pengambil kebijakan kota.
Terlebih kota Semarang telah mengikuti Pakta Milan, Sebuah pakta kesepakatan bersama yang diikuti kota-kota di dunia untuk mengembangkan sistem pangan berkelanjutan yang inklusif, tangguh, aman, dan beragam, yang menyediakan makanan sehat dan terjangkau bagi semua orang dalam kerangka kerja berbasis HAM, yang meminimalkan limbah dan melestarikan keanekaragaman hayati sambil beradaptasi dan mengurangi dampak dari perubahan iklim.
Kota Semarang juga memiliki komitmen kuat mendukung pertanian perkotaan terbukti dengan telah terbitnya Perwal No. 24 Tahun 2021 dengan ditindaklanjuti menjadi gerakan ‘Ayo Nandur’, program diversifikasi pangan, serta beberapa kegiatan lain yang menjadi gerakan bersama pemerintah dan masyarakat luas.
°°°
There are many other big cities in Indonesia, but why was this UNEP SHIFT program conducted in Semarang?
With 373.7 square kilometers of area, Semarang still has 4165.4 hectares of rice fields (ha) or 41.6 square kilometers or 11.1 percent (BPS, 2021). This percentage far exceeds Bandung (6.5 percent), Surabaya (5.4 percent) and DKI Jakarta (1.4 percent).
A city with a significant agricultural presence, such as Semarang, is a city that fits the growing demand for sustainability in recent years. A big city but still has a fairly large green area.
A sustainable urban food system is a new ideal that the world's cities want to achieve. The growing pressures of the food system on the planet are increasingly recognized, not only by the scientific community, but also by city policy makers.
Moreover, the city of Semarang has followed the Milan Pact, a collective agreement pact followed by cities in the world to develop a sustainable food system that is inclusive, resilient, safe and diverse, which provides healthy and affordable food for all within a human rights-based framework, which minimize waste and conserve biodiversity while adapting and mitigating the impacts of climate change.
The city of Semarang also has a strong commitment to support urban agriculture as evidenced by the issuance of Perwal No. 24 of 2021, followed up with the ‘Ayo Nandur' (Let’s Plant) movement, a food diversification program, as well as several other activities that have become a joint movement with the government and the wider community.