27/03/2015
DUNIA TANPA SEKOLAH
Okt 08, 2014 | by Ajitec Artec
Bagi saya belajar adalah perjalanan sepanjang hayat. Bukan hanya duduk di bangku sekolah! Seperti yang saya liat sehari-hari. Selesai sekolah, selesai juga belajar.
Mengapa setiap orang begitu mengagung-agungkan sekolah? percaya nasibnya pada angka-angka yang tercetak di selembar kertas. Mematikan kreativitas di otak. Menyuntikkan doktrin di otakmu tentang betapa malangnya orang yang tidak sekolah (sementara kau tidak menyadari betapa malangnya dirimu!)
Jika kau mengatakan pendidikan adalah ukuran kemakmuran. Cobalah kau tanya Bill Gates dan Dell. Mengapa mereka lebih memilih D.O (drop·out) dari pada lulus kuliah. Tanyalah Anang Sam berapa banyak pengaruh sekolah membodohi pikiranmu. Hasil survey membuktikan : Semakin tinggi tingkat pendidikan. Makin rendah tingkat kesejahteraan! Kalau kau tidak percaya.Cobalah kumpulkan data orang-orang terkaya disekitarmu.
Saya ingin menulis novel. Mengapa saya harus mempelajari trigonometri yang demikian njelimet. Sinus, cosinus, tangen. Perduli apa itu semua. Saya tak membutuhkannya. Tidak! Otak saya bukan seperti John Nash. Kalau saya bilang trigonometri tidak penting buat saya, itu seperti saya mengatakan gergaji tidaklah penting buat seorang pianis.
Apa yang kau dapat jika jam ini kau belajar matematika, lalu dua jam berikutnya kau belajar biologi dan jam selanjutnya lagi kau dijejali geografi, kemudian ketika kau telah kelelahan masih disuruh duduk mendengarkan ceramah kesenian.
Tak heran Rabindranath Tagore mengatakan sekolah adalah suatu hal yang tak tertahankan.
Bagaimana jadinya dunia ini jika saja Thomas Alva Edison tak pernah dikeluarkan dari sekolah?! Akankah kita masih memakai obor. Atau menyalakan komputer dan menyetel tivi dengan aki yang harus diisi setiap minggu airnya seperti jaman film Michael London?
Bagaimana jalan cerita sejarah jika Einstein tidak dianggap mahluk idiot dan disingkirkan dari sekolah?
Apa gunanya membaca beratus-ratus buku jika kau biarkan dirimu terapung-apung dalam sungai kebodohan. Sebab keras kepala, doktrin gila yang membuatmu ketakutan, atau kepercayaan keliru turun-temurun yang akan kau dan mereka wariskan?
Sulit bagiku menjelaskan padamu tentang apa yang ada dikepalaku. Sebab pikiranmu bahkan alam bawah sadarmu yang telah terpola sekian lama mengatakan : sekolah adalah simbol status sosial. Dimana angka-angka ukuran kecerdasannya. Dan titel-titel adalah perhiasan kebanggaan. Hingga tak bersekolah berarti…
- Kau tak punya otak!
- Calon maling!
- MaDeSu! (Masa Depan Suram).
- Enyah jauh-jauh! Jangan kau kawani anakku, berandalan bermasa depan suram!
Bagiku itu tak penting.
Aku tak butuh gelar. Aku tak butuh angka-angka. Bagiku nilai seseorang adalah dirinya sendiri secara aktual. Dimana karya-karya tidak butuh wakil tertulis pada selembar kertas berlabel sertifikat atau ijazah! Tapi kenyataan faktual!
Apa kata dunia?
Ya apa kata dunia? Itulah problem sang orang tua. Sistem pola pikir tersesat yang sudah karatan tertanam di otak kami. Otak anda, otak kita semua. Nggak sekolah? Mau jadi apa nanti? Semboyan yang barangkali awalnya berangkat dari keprihatinan akan rendahnya tingkat pendidikan di negeri kita. Lalu kebablasan menerjemahkan menjadi bahwa sekolah (formal) adalah satu-satunya media untuk menjadi pintar serta meraih masa depan.
Bagaimana dengan yang miskin dan pas-pasan?
Mereka yang miskin dan pas-pasan barangkali hanya bisa berupaya dengan belajar sungguh-sungguh. Karena satu-satunya aset masa depan mereka, prestasi akademis (nilai-nilai di Ijazah). Dan itu berarti sekitar 95 persen yang harus tersingkir, kalah bersaing sisanya hanya bisa pasrah menunggu nasib, berdoa banyak-banyak semoga nasib membawa peruntungan mereka kearah lebih baik..
Mereka yang miskin dan tidak begitu cerdas. Apalagi berotak pas-pasan akan semakin prustasi. Di sekolah tak dianggap, guru-guru mencela. Di rumah orangtua memarahi, menuduh mereka anak malas. Di luar masyarakat mencibir, mencap brandalan. Tak ada yang memberi tempat. Tak ada yang memberi solusi. Dicekoki gaya hidup beracun yang ditawarkan media televisi. Hingga lahirlah generasi tempe. Pacaran, Tawuran, Narkoba.
Setuju atau tidak. Faktanya, kurikulum sekolah di negeri kita memang didesain untuk membangun hidup sebagai pekerja. Bukan pencipta lapangan kerja.
Coba tanya cita-cita anak anda.
Ingin jadi dokter
Ingin jadi pilot.
Ingin jadi arsitek.
Ingin jadi guru.
Ingin jadi tentara.
Ingin jadi presiden.
Ada yang ingin jadi pedagang? Ada yang ingin jadi tukang TAHU? Ada yang ingin jadi penulis?
Nyaris tak ada!
Mengapa demikian?
Itu karena pola pikir kita dibentuk bahwa menjadi dokter atau arsitek atau mentri atau dosen lebih mulia dan lebih makmur daripada pedagang atau tukang "TAHU". Jangan konotasikan pedagang dengan melulu orang yang jualan tahu di pasar. Mereka yang berbisnis retail juga pedagang. Awal pertama memulai mereka tak sebesar itu. Bahkan banyak yang memulainya dengan modal dengkul.Dan sebagian dari mereka yang berhasil. Justru mereka dengan pendidikan minim. Ada yang hanya lulus SD, SMP atau tidak lulus SD Bahkan nggak jarang yang hanya bisa baca tulis tanpa ijazah selembarpun ( seperti saya) Hahaha....
Mengapa orang yang sudah sekolah tinggi-tinggi kalah juang dengan mereka? Padahal secara basic pengetahuan lebih baik dari mereka (katanya).
Barangkali jawabannya sederhana. Orang-orang ini keracunan ilmunya sendiri. Pengetahuannya telah membelenggu dirinya. Ketika akan memulai usaha mereka akan berpikir seribu kali. Mengkalkulasi seribu macam kemungkinan.Segala macam teori ekonomi.Teori pasar. Teori moneter. Teori permintaan. Teori penawaran.Teori busuk yang menakut-nakuti langkah mereka.
Kenapa anda sulit ngomong inggris? Padahal dari SMP anda sudah belajar bahasa inggris.
Barangkali jawabnya juga sederhana. Karena anda selalu dijejali teori, bukan praktek. Teori membuat anda ketakutan. Bagaimana jika salah mengucap? Bagaimana jika salah tenses? Tentu memalukan, bukan? Orang-orang akan menertawakan padahal yang tertawa belum tentu bisa! Pendeknya semua pengetahuan itu sudah membuat anda ke-der, sebelum memulai.
Pola pikir akan membentuk kerangka berpikir, menyikapi keadaan, memberikan respon.
Mari kita simak seorang guru bahasa indonesia yang menyuruh siswanya membuat kalimat aktif dengan kata pergi. Maka inilah yang ditulis murid-muridnya di papan tulis.
Ibu pergi ke pasar membeli sayur.
Ayah pergi ke pasar membeli pupuk
Amir pergi ke pasar membeli seragam sekolah
Wati pergi ke pasar belanja ikan
Sarimin pergi ke pasar membeli pisang (wah bahkan sarimin pun nggak luput yah?...)
Nyaris tak ada kalimat : Bu guru pergi ke pasar menjual sayur.
Mengapa begitu?
Karena kalimat ‘Bu guru pergi ke pasar menjual sayur’ itu terdengar seperti aib. Bu guru kok jualan sayur? Memalukan. Apalagi jika muridnya menyusun kalimat : sep**ang sekolah Pak Guru pergi mencari rongsokan.
Bisa dipastikan sang murid akan segera disetrap berdiri dengan kaki satu dan tangan kiri melingkari kepala, menjewer telinganya kanannya sendiri.
Robert T. Kiyosaki bukan satu-satunya yang memberikan pelajaran "tidak perlu sekolah tinggi". Sebelumnya juga kita pernah mendengar nama Ivan Ilich. Bukunya Jangan Pergi Ke Sekolah cukup menjadi bahan kajian kontroversi di kalangan pendidikan menengah dan pendidikan tinggi.
Faktanya memang sangat banyak, pengusaha mampu sukses sekalipun mereka tidak lulus sekolah dasar, menengah, dan perguruan tinggi. Logika-logikanya memang cukup bisa diterima. Mereka telah mencuri start untuk belajar mencari uang dibanding teman-temannya yang ketika mereka mencari uang, sang teman sibuk belajar. Logika lainnya, sambungan otak anak-anak yang sejak kecil sudah berjuang mencari uang jauh lebih banyak dibandingkan dengan anak-anak yang duduk tekun mendengarkan pelajaran dari guru atau dosennya.
Terlalu banyak contoh pengusaha sukses yang tidak memiliki pendidikan. Miliarder kaya dari Jepang, Matsush*ta Konosuke, tidak lulus sekolah dasar karena masa kecilnya sangat miskin. Sichiro Honda karena dinilai bodoh oleh gurunya, dan terpaksa harus menamatkan sekolah dasarnya sampai 10 tahun. Aristotele Onasis, salah satu orang paling kaya di dunia, adalah murid paling nakal dan paling bodoh di sekolahnya. Akibatnya dia tidak lulus sekolah. Meski dinilai sebagai murid yang bodoh, Onasis memiliki kepintaran dalam berdagang sejak di bangku sekolah.Saat pelepasan siswa, teman-temannya menyarankan agar Onasis mengulang kelas kembali.Mendengar hal itu, Onasis marah."Kalianlah yang bodoh.Kalian pikir saya perlu ijazah?Kalian akan tahu siapa saya kelak," begitu kata Onasis. Ia kemudian dapat membuktikan bahwa ternyata dalam soal mengumpulkan uang, ia jauh lebih hebat dari teman-temannya.
Salah satu kelebihan orang-orang yang tidak lulus atau drop out adalah s**a mempelajari sesuatu yang bersifat informal. Sekalipun para orang kaya tersebut tidak pernah membaca buku Robert T. Kiyosaki, tapi mereka telah menggunakan uang, pikiran dan keahlian, dan waktu orang lain untuk membuat mereka menjadi kaya raya. Sekolah tidak mengajarkan cara mengelola bisnis Anda, tapi bagaimana Anda mengelola bisnis orang lain. "Ketika Anda mempekerjakan orang yang lebih pintar daripada Anda, Anda membuktikan bahwa Anda lebih pintar dari mereka," begitu menurut R.H. Grand.
Jadi tak usah bermimpi bangsa kita akan mampu bersaing dengan Jepang suatu hari nanti, jika pola pikir begini masih terus dipertahankan.