23/07/2019
Pengertian Aqiqah
’Aqiqah berasal dari kata ’aqqu (عَقُّ) yang mempunyai arti potong. Ibnul-Qayyim menukil perkataan Abu ’Ubaid bahwasannya Al-Ashmaa’iy dan lain-lain berkata :
أن أصلها الشعر الذي يكون على رأس الصبي حين يولد وإنما سميت الشاة التي تذبح عنه عقيقة لأنه يحلق عنه ذلك الشعر عند الذبح قال ولهذا قال أميطوا عنه الأذى يعني بذلك الشعر
”Pada asalnya makna ’aqiqah itu adalah rambut bawaan yang ada di kepala bayi ketika lahir. Hanya saja, istilah ini disebutkan untuk kambing yang disembelih ketika ’aqiqah karena rambut bayi dicukur ketika kambing tersebut disembelih. Oleh karena itu, disebutkan dalam hadits : ”Bersihkanlah dia dari kotoran”. Kotoran yang dimaksud adalah rambut bayi (yang dicukur ketika itu).[1]
Al-Jauhari mengatakan : ”Aqiqah adalah menyembelih hewan pada hari ketujuhnya, dan mencukur rambutnya”. Selanjutnya Ibnul-Qayyim berkata : “Dari penjelasan ini jelaslah bahwa aqiqah itu disebutkan demikian karena mengandung dua unsur di atas dan ini lebih utama”.[2][2]
Oleh karena itu, definisi ’aqiqah secara syar’iy yang paling tepat adalah binatang yang disembelih karena kelahiran seorang bayi sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah ta’ala dengan niat dan syarat-syarat tertentu.[3][3]
Lebih Dis**ai Menggunakan Istilah Nasikah daripada Aqiqah
عن عمرو بن شعيب عن أبيه عن جده قال : سئل رسول الله صلى الله عليه وسلم عن العقيقة فقال لا يحب الله عز وجل العقوق وكأنه كره الاسم قال لرسول الله صلى الله عليه وسلم إنما نسألك أحدنا يولد له قال من أحب أن ينسك عن ولده فلينسك عنه عن الغلام شاتان مكافأتان وعن الجارية شاة
Dari ’Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya ia berkata : Rasulullahshallallaahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya tentang aqiqah, maka beliau menjawab : “Allah ‘azza wa jalla tidak s**a dengan istilah Al-‘Uquuq (‘aqiiqah)”. Seakan-akan beliau membenci istilah tersebut (yaitu aqiqah). Penanya kembali berkata kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam : “Kami hanya bermaksud menanyakan jika salah seorang di antara kami mempunyai anak (yang baru dilahirkan)”. Maka beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam menjawab : “Barangsiapa yang ingin menyembelih karena kelahiran anaknya, maka hendaklah ia menyembelih. Untuk laki-laki dua kambing yang sama/setara dan untuk perempuan satu kambing”.[4][4]
Asy-Syaukani berkata :
قوله : "وكأنه كره الأسم" وذلك لأن العقيقة التي هي الذبيحة والعقوق للأمهات مشتقان من العق الذي هو الشق والقطع فقوله صلى اللّه عليه وآله وسلم: "لا أحب العقوق" بعد سؤاله عن العقيقة للاشارة إلى كراهة اسم العقيقة لما كانت هي والعقوق يرجعان إلى أصل واحد ولهذا قال صلى اللّه عليه وآله وسلم: "من أحب منكم أن ينسك" ارشادا منه إلى مشروعية تحويل العقيقة إلى النسيكة وما وقع منه صلى اللّه عليه وآله وسلم من قوله "مع الغلام عقيقة" و"كل غلام مرتهن بعقيقته" و"رهينة بعقيقته" فمن البيان للمخاطبين بما يعرفونه لان ذلك اللفظ هو المتعارف عند العرب ويمكن الجمع بأنه صلى اللّه عليه وآله وسلم تكلم بذلك لبيان الجواز وهو لا ينافي الكراهة التي اشعر بها.
”Perkataan : “seolah-olah beliau membenci istilah tersebut (aqiqah)”; karena aqiqah adalah sembelihan (dzabihah), sedangkan ‘uquq biasanya digunakan bagi kaum ibu. Istilah ini berasal dari kata al-’iq yaitu membelah dan memotong. Maka kata-kata beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam : لا أحب العقوق(“aku tidak menyukai istilah al-‘uquuq”) [5][5] setelah ditanya tentang masalah ‘aqiqah adalah isyarat bahwa beliau shallallaahu ‘alaihi wasallammembenci istilah ‘aqiqah karena al-‘aqiqah dan al-‘uquuq mempunyai asal kata yang satu/sama. Oleh karena itu, sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa aalihi wasallam : “Barangsiapa yang ingin menyembelih” adalah sebagai petunjuk disyari’atkannya mengganti istilah ‘aqiqah dengan istilah ‘an-nasikah’. Adapun istilah ‘aqiqah yang pernah disebutkan oleh Nabi shallallaahu ‘alaihi wa aalihi wasallam dalam sabdanya : “Untuk satu anak adalah satu ‘aqiqah” dan juga :“Setiap anak itu tergadaikan dengan ‘aqiqahnya” merupakan penjelasan (bayan) bagi orang-orang yang beliau ajak bicara dengan bahasa yang mereka pahami, karena kata ‘aqiqah adalah kata yang diketahui maknanya oleh orang-orang Arab pada saat itu. Memungkinkan p**a untuk menjamak (hadits-hadits tersebut) bahwa hal itu merupakan penjelasan beliau shallallaahu ‘alaihi wa aalihi wasallam yang membolehkan menggunakan kata ‘aqiqah. Dan itu tidaklah menafikkan kebencian (terhadap kata ‘aqiqah) sebagaimana diketahui dalam hadits ”Aku tidak menyukai istilah al-‘uquuq”.[6][6]
Dalil Disyari’atkannya ’Aqiqah
Banyak sekali dalil yang menjadi landasan disyari’atkannya ’aqiqah, diantaranya adalah :
1. Hadits Salmaan bin ’Aamir Adl-Dlabbiy radliyallaahu ’anhu, ia pernah berkata : Aku pernah mendengar Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallambersabda :
مع الغلام عقيقة، فأهريقوا عنه دماً، وأميطوا عنه الأذَى
”Untuk satu orang anak adalah satu ’aqiqah. Tumpahkanlah darah untuknya dan bersihkanlah dia dari kotoran”.[7][7]
2. Hadits Samurah bin Jundub radliyallaahu ’anhu, bahwasannya Rasulullahshallallaahu ’alaihi wasallam pernah bersabda :
كل غلام رهينة بعقيقته تذبح عنه يوم سابعه ويحلق ويسمى
”Setiap anak tergadai dengan ’aqiqahnya [8][8] yang disembelih pada hari ketujuh dari kelahirannya, dicukur (rambutnya), dan diberi nama”.[9][9]
3. Hadits ‘Aisyah radliyallaahu ‘anhaa : Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda :
عن الغلام شاتان مكافئتان وعن الجارية شاة
“Untuk seorang anak laki-laki adalah dua ekor kambing yang setara/sama, dan untuk anak perempuan adalah seekor kambing”.[10][10]
4. Dan yang lainnya.
Disyari’atkannya ‘aqiqah merupakan madzhab jumhur ‘ulamaa, kecualiashhaabur-ra’yi (Hanafiyyah). Mereka mengingkari pensyari’atan ‘aqiqah dan bahkan memakruhkannya dimana mereka berpegang pada dalil-dalil yang tidak layak digunakan sebagai hujjah. Diantara dalil yang mereka pakai adalah sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam :
لا أحب العقوق
“Aku tidak menyukai al-‘uquuq”.
Dalam riwayat lain :
لا يحب الله عز وجل العقوق
“Allah ‘azza wa jalla tidak menyukai al-‘uquuq”
Tentu saja pendalilan mereka tidak dapat kita terima, karena yang dimaksudkan dalam hadits tersebut adalah dibencinya istilah ‘aqiqah yang bersamaan dengan itu di-masyru’-kan menggantinya dengan istilah an-nasikah. Hal itu telah disinggung dalam pembahasan sebelumnya sehingga tidak perlu untuk diulang.
Selain itu mereka juga berdalil dengan hadits ’Abdullah bin Muhammad bin ‘Aqiil, dari ’Ali bin Al-Husain dari Abi Raafi’ maula Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam :
أن الحسن بن علي عليهما السلام حين ولدته أمه أرادت أن تعق عنه بكبش عظيم فأتت النبي صلى الله عليه وسلم فقال لها لا تعقي عنه بشيء ولكن احلقي شعر رأسه ثم تصدقي بوزنه من الورق في سبيل الله عز وجل أو على بن السبيل ولدت الحسين من العام المقبل فصنعت مثل ذلك
“Bahwasannya Al-Hasan bin ‘Ali ‘alaihimas-salaam ketika ia dilahirkan, ibunya (yaitu Fathimah) ingin meng-aqiqahinya dengan seekor kambing yang besar. Maka Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam datang dan berkata kepadanya :“Jangan kamu ‘aqiqahkan dia dengan sesuatu apapun. Akan tetapi, cukurlah rambut kepalanya kemudian bershadaqahlah di jalan Allah ‘azza wa jalla atau kepada ibnu sabiil dengan uang (perak) seberat rambutnya”. Dan ketika Al-Husain lahir di tahun berikutnya, Fathimah pun melakukan hal yang sama”.[11][11]
Tapi hadits ini dla’if karena rawi yang bernama ’Abdullah bin Muhammad bin ’Aqiil sehingga tidak bisa dipakai untuk hujjah. Kalaupun dianggap shahih, maka hadits itu juga tidak menunjukkan dimakruhkannya ‘aqiqah; karena dalam riwayat yang shahih[12][12] dijelaskan bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam sendiri yang menyembelih ‘aqiqah untuk Al-Hasan dan Al-Husain.[13][13]