28/05/2022
Indonesia berduka setelah meninggalnya sosok Guru Bangsa yang patut dijadikan teladan bagi masyarakat.
Prof. Dr. KH. Ahmad Syafii Maarif, Ketua Umum PP Muhammadiyah Periode 1998 hingga 2005 tutup usia pada Jumat 27/05 di RS PKU Muhammadiyah, Gamping, Sleman, DIY.
Semasa hidup, almarhum dikenal sebagai sosok yang sederhana dan berkontribusi besar bagi Bangsa Indonesia. Tak heran jika sejumlah tokoh Tanah Air turut berduka sedalam-dalamnya atas wafatnya Buya Syafii.
Salah satunya, Pakar Hukum Tata Negara Indonesia, Prof. Yusril Ihza Mahendra.
Lewat akun Twitter pribadinya , Beliau mengenang keteladanan seorang Buya Syafii.
Menurutnya, Buya merupakan akademisi, intelektual dan budayawan bangsa. Kepergiannya merupakan kehilangan besar bagi bangsa Indonesia.
Sepanjang hidupnya Buya menghabiskan usianya untuk mengabdi kepada agama, masyarakat dan bangsa, baik melalui pendidikan, dakwah maupun pergerakan sosial dan keagamaan. Buya telah menulis puluhan buku dan ratusan artikel yang menjadi rujukan dan warisan intelektual bangsa Indonesia.
“Kehidupannya sederhana dan bersahaja, sering bergurau tetapi pemikirannya tajam dan kritis. Tak semua orang sepandangan dengan Buya, terutama dalam menganalisis kemajemukan bangsa kita. Namun Buya tetap hangat, menghargai siapapun, walau beda pendapat bahkan mengkritik pandangannya,” tulis Yusril seperti dikutip, Jumat (27/5).
Satu hal yang harus dipegang teguh dari warisan pemikiran Buya Syafii. Islam itu universal dan rahmatan lil ‘alamin. Aqidah dan etik yang diajarkan Islam adalah pegangan utama, berlaku abadi. Namun terhadap ajaran sosial dan politik, Islam membuka diri terhadap penafsiran
Dengan demikian, maka Islam tetap relevan dengan zaman yang terus berubah dan di tengah masyarakat yang majemuk. Islam menghargai kemajemukan itu dan menyuruh semua komponen masyakat bekerjasama berbuat kebajikan demi kepentingan bersama.
Secara politik, Buya memandang tidak ada tabrakan antara Islam dan Pancasila, sepanjang Pancasila itu dikembalikan kepada pemikiran para perumusnya yang merumuskannya sebagai sebuah kompromi antara golongan Kebangsaan dan Golongan Islam.
Pancasila, bagi Buya adalah falsafah negara yang sesuai dengan masyarakat majemuk yang menghargai dan menghormati keberadaan berbagai agama, etnik dan budaya. Pemikiran Buya mengenai Islam & masalah-masalah Kenegaraan, sangat penting utk dijadikan rujukan bagi membangun masa depan bangsa.
“Saya mengenal Buya Syafii tahun 1985 ketika sama-sama duduk dalam PP Muhammadiyah dibawah pimpinan almarhum AR Fachruddin. Seingat saya, saya mungkin orang pertama memanggilnya Buya karena waktu itu beliau tergolong masih relatif muda (50 tahun). Saya memanggil demikian sambil bercanda,” kenang Yusril.
“Seingat saya tokoh tua yang dipanggil Buya di PP Muhammadiyah waktu itu adalah Alm Buya Malik Ahmad. Kini Buya Syafii telah pergi meninggalkan kita. Beliau orang baik dan s**a bercanda. Mari kita maafkan sekiranya beliau melakukan kekhilafah kepada kita,” tambahnya.
“Saya pribadi berhutang budi kepada Buya. Ketika saya ujian Doktor Ilmu Politik membahas Partai Masyumi (1992), Buya Syafii termasuk salah seorang pengujinya bersama Muhammad Kamal Hassan (Malaysia). Buya sering menasehati saya kalau bertemu, tentang banyak hal tentunya,” lanjutnya.
“Mari kita doakan Buya, semoga Allah SWT mengampuni segala khilaf dan salahnya dan menerima segala amal kebajikan selama hidupnya serta memasukkannya ke dalam surga Jannatun Na’im,” pinta Ketum Partai Bulan Bintang tersebut.