07/10/2016
DUKUHSALAM
MENUJU DESA WISATA BUDAYA
(sebuah peta jalan)
A. Pendahuluan
Dukuhsalam adalah sebuah desa yang asri, aman, nyaman, dan prospektif. Letaknya di pinggir kota, berdampingan dengan ibukota kabupaten, Tegal. Posisinya di antara jalan raya besar Tegal-Purwokerto di sebelah barat, dan dilintasi Kali Gung di sebelah timurnya. Desa yang permai alamnya, guyup rukun masyarakatnya, dan terjaga tradisi budayanya.
Nama Dukuhsalam sangatlah bermakna. Kata Dukuhsalam adalah gabungan dari dua bahasa, yaitu Jawa dan Arab. Dukuh dalam bahasa Jawa artinya kawasan atau daerah di bawah desa, pedukuhan. Di beberapa desa di Jawa Tengah dan Timur, istilah Dukuh masih dipakai untuk nama pedukuhan. Namun, di Kabupaten Tegal, Jateng, Dukuh justru menjadi nama desa, seperti Dukuhwringin, Dukuhturi, Dukuhwaru dan Dukuhsalam.
Sementara kata salam dalam bahasa Arab artinya selamat. Seperti halnya dalam kalimat assalamu’alaikum (selamat atas kamu) atau assholatu wassalamumu ‘ala nabi (solawat dan salam atas nabi Muhammad). Atau kata Islam itu sendiri, yang menurut beberapa penganjur agama Islam artinya selamat. Islam berarti agama yang selamat, baik bagi pemeluknya maupun bukan pemeluknya. Karena Islam adalah agama rahmat bagi seluruh alam.
Sebagai sebuah harapan dan rasa percaya diri, nama Dukuhsalam adalah sebuah perintah bagi warga desa, bahwa untuk menjadi Islam, mereka harus memberikan keselamatan (lahir batin) kepada lingkungan hidup mereka, seperti alam, budaya, manusia sesama, atau makhluk hidup lainnya. Dukuhsalam juga sebuah pengingat, bahwa memberi keselamatan kepada semua makhluk adalah kewajiban setiap manusia, tanpa batas apapun.
Dari potret monografi desa, geografi desa, sumber daya alam, sumber daya manusia, dan sumber daya budaya yang ada, Dukuhsalam memiliki syarat yang cukup untuk dikembangkan menjadi desa wisata budaya. Desa yang mengembangkan wisatanya dengan basis budaya tradisi. Menggali dan mengembangkan kekayaan budaya untuk memberikan warna bagi kehidupan wisata, yang bermanfaat bagi kesejahteraan masyarakat desa, juga pemerintah daerah.
B. Monografi desa
Secara administratif, Desa Dukuhsalam terletak di Kecamatan Slawi, Kabupaten Tegal. Tak jauh dari ibukota kabupaten, Slawi. Sebelah timur berbatasan dengan Desa Penusupan, sebelah barat dengan Desa Dukuh Wringin, sebelah selatan dengan Desa Pendawa, dan sebelah utara dengan Kelurahan Slawi Wetan dan Slawi Kulon.
Desa Dukuhsalam terbagi menjadi 6 RW (rukun warga) dan 21 RT (rukun tetangga) dengan jumlah KK (kepala keluarga) masing-masing RT rata-rata 120 KK. Menurut data sensus penduduk tahun 2015, Dukuhsalam dihuni 6.713 jiwa.
Berdasar data monografi tahun 2014 wilayah desa seluas 112,602 Ha, dengan pemanfaatan terpusat pada lahan kering. Di antaranya untuk permukiman (50, 125 ha), pekarangan (15, 000 ha), sawah (40, 029 ha), tegalan (5, 453 ha), lain-lain (2,000 ha). Namun, fakta terbaru menunjukkan, lahan sawah sudah mulai berkurang lagi dan berganti dengan permukiman.
Dari sisi pendidikan, masih banyak penduduk yang tidak memenuhi wajib belajar pendidikan dasar 9 tahun seperti anjuran pemerintah. Kurang lebih ada 1.750 orang warga yang termasuk di dalamnya. Alasannya umum, misalnya penghasilan keluarga tak mencukupi untuk membiayai pendidikan anak sampai jenjang yang lebih tinggi (perguruan tinggi).
Sebab lain, banyak warga yang belum menyadari pentingnya pendidikan bagi anak. Mereka masih menganggap bahwa pendidikan bukanlah faktor utama suksesnya seseorang secara ekonomi. Menurut mereka, nasib manusia sudah ditentukan oleh yang di atas (Tuhan).
Di Dukuhsalam juga berdiri beberapa organisasi atau lembaga yang bisa digolongkan dalam dua jenis, yaitu formal dan informal. Lembaga formal seperti pemerintahan desa, Badan Pertimbangan Desa (BPD), LPMD, PKK, Satuan Tugas Lingkungan Masyarakat (Satgas Linmas), dan RT/RW (21 RT dan 6 RW).
Sementara lembaga informal meliputi Perkumpulan Olahraga, seperti Gelora Muda (sepak bola, bulu tangkis dan volley) dan Jamiyahan atau kelompok pengajian, baik laki-laki maupun perempuan ditingkat RT/RW (setiap Rabu sore, Jumat sore, Minggu sore, dan Jumat Kliwon). Secara ekonomi, mata pencaharian penduduk desa sebagian besar bekerja di sektor informal. Berikut adalah data mata pencaharian penduduk Dukuhsalam.
Tabel Mata Pencaharian Penduduk Desa Dukuhsalam
No. Mata Pencaharian Jumlah % (prosentase)
1. Petani
a. Petani pemilik sawah 39 0.7%
b. Buruh Tani 15 0,3%
2. Pengusaha sedang/besar 1 0,02%
3. Pertukangan 119 2,9%
4. Buruh industri 475 8,3%
5. Buruh bangunan 96 1,7%
6. Pedagang 352 6,2%
7. Pengangkut 455 8%
8. PNS 133 2,33%
9. POLRI/TNI 19 0,33%
10. Pensiunan 72 1,26%
11. Sopir 165 0,16%
12. Tukang becak 44 0,8%
13. Tenaga serabutan 349 6,1%
14. Wiraswasta 472 8,3%
15. Belum / tidak bekerja 2.901 50,1%
Jumlah 5.667 100%
Sumber: Monografi Desa Dukuhsalam Tahun 2014
Penduduk Desa Dukuhsalam mayoritas beragama Islam. Dari 5.748 penduduk, tercatat kurang lebih ada 5.716 jiwa (99,44%) muslim, 17 orang beragama katolik, dan 15 beragama Kristen Protestan. Namun, warga desa hidup damai. Guyup rukun saling tolong menolong dalam kehidupan desa. Setiap sore, anak-anak kecil berduyun menuju masjid untuk mengaji.
Tabel Kepercayaan Penduduk Desa Dukuhsalam
No. Kepercayaan/Agama Jumlah % porsentase
1. Islam 5.716 99,44%
2. Katolik 17 0, 30%
3. Protestan 15 0,26%
4. Hindu 0 0
5. Budha 0 0
Jumlah 5.7048 100%
Sumber: Monografi Desa Dukuhsalam Tahun 2014
Sumber daya Dukuhsalam
Desa Dukuhsalam memiliki beberapa sumber daya yang dapat dikembangkan menjadi Desa Wisata Budaya. Adanya pengembangan ini akan berdampak positif bagi kemajuan warga, baik secara ekonomi, sosial, budaya dan keamanan.
Setidaknya ada tiga titik besar sumber daya di Dukuhsalam, yaitu sumber daya alam (Kaligung dan situs sejarah desa), sumber daya manusia (tokoh budaya dan seniman), dan sumber daya budaya (kesenian, kerajinan, festival, dan kuliner).
1. Sumber daya alam
Ada dua sumber daya alam yang penting dan potensial untuk dikembangkan, yaitu Kali Gung dan dua situs sejarah desa (karang asem dan iwil-iwil). Keduanya berada di tengah-tengah permukiman penduduk.
1) Kali Gung
Kali Gung adalah Kali besar yang berada di sisi timur desa. Airnya berasal dari mata air Gunung Slamet. Mengalir ke daerah wisata Guci, bendungan di Danawarih, Lebaksiu, Dukuhsalam, hingga ke laut utara. Bendungan Danawarih dalam sejarah Tegal adalah karya Ki Gede Sebayu (pendiri Tegal), untuk mengairi sawah sekitar abad 16.
Kali Gung panoramanya sangat indah. Airnya melimpah saat musim hujan. Batu-batu besar berserakan secara alami, pasir menggenang di sana-sini. Keduanya terbawa saat banjir di musim hujan. Kanan kiri kali dipenuhi pepohonan bambu, trembesi dan jati. Di beberapa bagian, dimanfaatkan penduduk untuk kebun singkong dan kacang tanah. Dan di beberapa tempat sepanjang kali, terdapat gundukan pasir yang ditambang oleh penduduk.
Aliran air yang deras, bantaran kali yang cukup luas, panorama bebatuan yang berserak tertata indah dan pepohonan sekitar kali yang rimbun, memungkinkan area Kali Gung dimanfaatkan untuk wisata arung jeram dan outbound.
Oleh karena itu, mulai tahun ini (2015), karang taruna Desa Dukuhsalam sedang mengusahakan (survei dan pemetaan lokasi) untuk mengelola sepanjang aliran Kali Gung. Belajar dari wisata arung jeram yang ada (sungai elo dan Progo di Magelang), umumnya berjarak sekitar 12 kilometer. Namun, sebagai permulaan kami akan memulai dari Lebaksiu dan berakhir di Dukuhsalam (delapan kilometer).
Dampak dari pengembangan wisata arung jeram dan outbound ini, di Desa Dukuhsalam akan dikembangkan sarana prasarana pendukungnya, seperti homestay, warung makan, parkir, toko-toko souvenir, ruang pamer kerajinan dan hiburan pendukung.
2) Situs Karang Asem dan Iwil-iwil
Situs karang asem dan iwil-iwil adalah dua makam leluhur Dukuhsalam. Situs karang asem berupa Mbah makam Dawa. Sedangkan iwil-iwil adalah makam istrinya. Umumnya masyarakat juga menyebutnya situs Ketu Agung atau Mbah Ketu Agung. Keduanya dipercaya sebagai orang yang pertama kali tinggal sebelum desa ini disebut Dukuhsalam.
Kedua situs ini sekarang dikeramatkan oleh warga desa. Setiap bulan suro, warga menggelar selamatan sedekah bumi di kedua situs tersebut. Warga membuat dua gunungan berisi sayur, buah-buahan dan hasil bumi lalu diletakkan di kedua situs tersebut. Mereka kemudian berkumpul dan berdoa memanjatkan syukur dan keselamatan desa.
Keberadaan situs ini tentu saja sangat mendukung Dukuhsalam sebagai desa wisata budaya. Ritus sedekah bumi ini dapat dikembangkan menjadi ritus sakral untuk wisata religi. Dan ini dapat disinergikan dengan festival budaya tahunan yang digelar di Dukuhsalam.
2. Sumber daya manusia
Selain sumber daya alam, Dukuhsalam juga memiliki sumber daya manusia berupa tokoh-tokoh masyarakat, baik sebagai budayawan, seniman tradisional, maupun politikus. Mereka cukup dikenal di tingkat lokal, nasional dan internasional. Keberadaan mereka semua menjadikan Dukuhsalam dapat berpartisipasi aktif dalam kemajuan daerah, bangsa dan Negara.
Di antara tokoh-tokoh tersebut ada yang masih hidup dan ada yang sudah meninggal. Meskipun demikian, nama mereka cukup berkesan di hati masyarakat sebagai orang-orang yang memiliki andil besar dalam perjalanan dan kemajuan Dukuhsalam selama ini. Nama-nama mereka menginspirasi generasi muda desa.
Tokoh budaya dan seniman desa tersebut antara lain, seniman bela diri B**g Marnadi (Almarhum) Mbah Usuf (almarhum) Mbah Darjo (Almarhum), Dalang Suwati (almarhum), dalang Alif Tanwin, Dalang Setiawan, Dalang Ki Slamet Gundono (almarhum), seniman Sintren Ibu Keti dan Ibu Sri, Dalang Gunawan, Teguh Puji Harsono, mantan lawak Slamet kabayan, Mbak Iyem, dan lain-lain. Hingga kini, karya dan jejak mereka masih sering dirayakan oleh warga dalam pentas-pentas seni di kampung.
Khusus Ki Slamet Gundono, namanya sudah dikenal secara internasional. Ia populer sebagai dalang wayang suket. Kreasinya diakui seniman dunia. Kreativitasnya mendapat penghargaan Prince Claus Award dari Kedutaan Belanda (2005) sebagai pencapaian dan pengabdian terhormat sebagai seniman tradisi. Di Indonesia hanya beberapa seniman besar yang memperoleh ini, di antaranya Sastrawan Rendra dan Gunawan Muhammad. Slamet Gundono juga mendapat gelar maestro seni dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia (2013).
Ki Slamet Gundono juga membentuk berbagai kelompok seni di Dukuhsalam, yaitu Teater Kardus (Karya Dukuhsalam), Kalanjana Band, dan Kalaadanya Band. Ketiganya hingga kini masih pentas. Teater kardus sangat lucu dan menghibur. Pemainnya pernah dikursuskan peran di Solo. Hal ini membuat kemampuan mereka semakin terasah baik.
Di rumahnya, Gundono juga mendirikan perpustakaan dan sanggar dongeng suket (Donsket). Gunarsih, kakak Gundono, juga mendirikan teater mungil. Ia melatih dan mengumpulkan anak-anak TK menyanyi dan menari. Hingga kini, perpustakaan dan Donsket masih berdiri. Rumah Gundono juga masih dijadikan pusat pertunjukan seni yang dilakukan warga atau desa.
3. Sumber daya budaya
Selain kedua sumber daya di atas, Dukuhsalam juga kaya dengan sumber daya budaya, antara lain berupa kesenian tradisional, kerajinan, kuliner dan festival budaya tahunan.
1) Kesenian tradisional
Di antara kesenian tradisonal yang masih lestari di Dukuhsalam adalah seperti sintren, calung, ketoprak, wayang kulit, dan karawitan. Semuanya masih sering digelar untuk memperingati acara-acara nasional dan kampung, seperti memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia, acara karang taruna, dan festival hujan.
Semua kesenian tradisional di atas dimainkan oleh warga desa Dukuhsalam sendiri. Pada tahun 2009, Ki Slamet Gundono pernah menggelar Festival Sintren selama seminggu. Festival tersebut sukses digelar dengan melibatkan masyarakat desa dan pemuda-pemudi desa. Para tamu dan pengunjung datang dari berbagai daerah di Jawa dan luar Jawa, bahkan luar negeri (Jepang, Inggris, USA). Warga menerimanya dengan ramah. Para tamu menginap di rumah-rumah penduduk.
Ketoprak Dukuhsalam juga sangat menarik. Setiap peringatan 17 Agustus, ketoprak ini selalu berusaha tampil dengan lakon-lakon tradisional. Tahun 2014 yang lalu, mereka tampil dengan lakon Cindelaras. Mereka lucu dan menghibur. Warga sangat s**a menonton mereka.
Calung Dukuhsalam juga masih aktif. Mereka ikut mengisi di berbagai acara Pemerintah Daerah dan tampil di Taman Mini Indonesia Indah mengiringi duta seni dari Jawa Tengah. Calung ini cukup kreatif dalam memainkan lagu-lagu campursari, dangdut, dan pop.
Wayang kulit Dukuhsalam juga masih ada. Dalang kondang pada zamannya, Ki Setiawan dan Ki Alif Tanwin masih kuat mendalang. Belum lama ini mereka tampil mendalang di acara Festival Hujan (5-11 Januari 2015).
Karawitan Dukuhsalam juga masih ada. Pemainnya adalah orang-orangtua yang menyintai tembang-tembang Jawa. Di beberapa kesempatan mereka masih latihan. Kebetulan desa sudah memiliki seperangkat gamelan.
2) Kerajinan bambu dan batik tulis
Dukuhsalam memiliki dua kerajinan andalan, yaitu batik tulis dan bambu. Keduanya hingga kini masih digeluti masyarakat sebagai mata pencaharian yang dibanggakan. Dalam rangka pengembangan desa wisata budaya, keduanya masih banyak peluang untuk dikreasikan menjadi produk baru lagi.
Batik tulis Dukuhsalam sudah cukup terkenal dan dis**ai pembeli. Pelanggan dan pembelinya tak hanya lokal, tetapi juga mancanegara. Mereka menyukai motif dan kehalusan batiknya. Mereka membelinya untuk oleh-oleh atau untuk hadiah.
Batik tulis Dukuhsalam hingga kini masih berproduksi, meskipun hanya dilakukan oleh beberapa pengrajin. Mereka terkumpul di beberapa rumah yang terpisah. Meskipun demikian, produksi mereka sudah memiliki pasar sendiri.
Kerajinan batik tulis Dukuhsalam masih perlu untuk dikembangkan lagi. Promosinya perlu diperluas lagi untuk menjangkau pasar baru. Dan desa wisata budaya dapat menjadi ruang baru untuk mengembangkan produk ini.
Sementara itu, kerajinan bambu Dukuhsalam juga sangat produktif. Beberapa rumah memproduksi bambu menjadi dinding gedhek. Produksinya sudah terjual hingga ke luar Tegal, bahkan Jawa. Produk mereka sangat dis**ai pembeli, karena rajutannya rapat dan padat. Bambunya juga tahan lama.
Selama ini para pengrajin bambu umumnya membuat gedhek ukuran 3x3 meter. Namun demikian, mereka lebih banyak mengerjakannya sesuai pesanan pembeli. Terkadang ukurannya bisa mencapai 8x3 meter.
Kerajinan bambu Dukuhsalam masih berpeluang untuk dikembangkan lagi, misalnya dibuat dengan motif-motif lain. Limbah bekas sesetan bambu untuk gedhek juga bisa bisa dibuat untuk produk kerajinan lain, seperti sangkar burung, tempat lampu, atau sangkar jangkrik.
Hal ini sangat dimungkinkan dengan membuat workshop atau pelatihan kepada para pengrajin lama atau baru, atau para pemuda untuk menjadi usahawan limbah bambu gedhek. jika hal ini terjadi, maka Dukuhsalam akan lebih banyak memiliki kerajinan bambu.
Banyaknya pesanan membuat pengrajin terkadang kewalahan dan kekurangan bahan baku. Mereka mengambil bahan baku dari luar Tegal, seperti Bumi, Brebes, dan Purwokerto. Solusinya adalah meminta warga untuk menanam bambu di halaman rumah mereka dan pinggiran Kali Gung.
3) Kuliner
Dukuhsalam juga memiliki kebudayaan kuliner yang enak dan bisa dijadikan buah tangan (oleh-oleh) para tamu, yaitu wader dan dodol tape. Keduanya masih menjadi primadona para tamu yang singgah ke Dukuhsalam atau Slawi. Warga juga sering membawanya untuk buah tangan saudara atau teman di kota lain.
Wader adalah ikan kali yang gurih dan nikmat jika disantap dengan nasi panas dan sambal terasi. Biasanya juga ditemani dengan sayur asem yang juga khas. Ketiganya banyak dijual di warung-warung Dukuhsalam. Wader diperoleh dari nelayan di kali sekitar Desa Dukuhsalam atau daerah lain.
Menu wader dan sayur asem biasanya dijual Rp. 10.000 – 15.000,- satu porsi. Menu wader enak disantap kapan saja, pagi, siang, atau sore. Ditemani teh panas manis, tempe goreng, pete, dan krupuk, menu wader terasa sangat nikmat. Menu wader masih bisa dikembangkan lagi sebagai menu andalan untuk menarik wisatawan berkunjung.
Sementara dodol tape pas sekali dijadikan buah tangan. Rasanya manis, enak, dan khas. Bentuknya yang mungil, mudah untuk dibawa dan dikemas menarik. Hingga kini, beberapa rumah masih memproduksi makanan khas ini.
Dodol tape umumnya dikemas dalam plastik dengan dua harga. Pertama, plastik berisi 25 biji harga Rp. 3000. Kedua, berisi 50 biji harga Rp. 6000. Keduanya memiliki pasar masing-masing, dan saat ini cukup laris. Pedagang juga menyediakan harga kiloan, yakni Rp. 25.000 perkilo,
Kemasan dodol penting untuk dibuat inovasi terbaru, misalnya dibuat kemasan kotak dengan beberapa ukuran dan harga. Atau dengan plastic tetapi dengan cap atau merk tertentu yang menarik. Dengan begitu, pembeli akan mudah mengenali dan ada
4) Festival budaya tahunan
Mulai tahun 2014, Dukuhsalam memiliki festival budaya tahunan, yaitu festival hujan. Festival ini diadakan oleh desa dengan melibatkan warga desa. Festival hujan ini menampilkan kegiatan gelar seni, aksi tanam pohon di Kali gung, jalan santai, dan selamatan.
Festival dihadiri oleh seniman dari Tegal dan luar Tegal, bahkan mancanegara (amerika). Festival berjalan sukses dan meriah. Warga dan pemerintah desa bahu membahu menyukseskan acara ini. Warga setiap RT, mengirimkan nasi bungkus setiap hari untuk makan panitia, seniman, dan siapa saja. Dari acara ini, terlihat guyup rukun masyarakat Dukuhsalam.
Festival hujan diinspirasi oleh ide Ki Slamet Gundono. Saat masih hidup, Slamet Gundono sudah menggelar festival hujan di Solo. Untuk meneruskan dan menghormati ide Ki Slamet gundono ini, desa menggelar festival hujan yang pelaksanaanya didekatkan dengan bulan meninggalnya Slamet Gundono, yaitu bulan Desember-Januari.
Desa sudah mengagendakan untuk menggelar festival hujan sebagai festival budaya tahunan. Festival akan tetap melibatkan warga dan menambah kegiatan lebih banyak dan berkualitas, seperti pamer produk kreatif, workshop kreatif dan usaha, aksi lingkungan, dan sebagainya.
C. Langkah Strategis
Untuk menuju desa wisata yang berbasis budaya, Desa Dukuhsalam perlu menyiapkan langkah-langkah strategisnya, antara lain:
1. Desa melakukan sosialisasi dengan para tokoh masyarakat dan karang taruna, lalu mengajak mereka untuk ikut serta dalam menyukseskan program ini.
2. Desa membentuk tim untuk memetakan sumber daya desa yang meliputi sumber daya alam, manusia, dan budaya. Tujuannya untuk menyinergikan ketiganya agar dalam perjalanannya saling melengkapi dan tindak tumpang tindih.
3. Tim memisahkan sumber daya yang ada, lalu dilakukan analisa untuk menentukan prioritas apa yang harus dilakukan lebih dahulu.
4. Tim menyiapkan program pelatihan-pelatihan tertentu, antara lain seperti pelatihan pengelolaan wisata, pelatihan jurnalistik, pelatihan promosi, dan pelatihan keuangan, dengan tujuan menyiapkan sumber daya manusia yang mumpuni.
5. Tim menyiapkan sarana dan prasarana yang dibutuhkan, seperti jalan, homestay, warung, parkir, dan lain-lain.
6. Tim membuat program pelatihan-pelatihan usaha kepada para pengrajin desa (bambu, batik, kayu) dan kuliner (wader, dodol tape) agar semuanya dapat ditampilkan dan dijual semakin menarik.
7. Tim menyiapkan program-program kebudayaan (seni, pameran, festival, dsb) yang dapat membuat betah dan terkesan wisatawan.
8. Tim melakukan evaluasi dan pengembangan lebih lanjut terhadap sarana prasarana, program, tim, sponsor, dan lain-lain.
9. Mencari investor atau sponsor yang mau diajak kerjasama untuk pengembangan lebih lanjut.
10. Tujuan akhirnya adalah menjadi desa mandiri, baik secara ekonomi, politik, sosial, dan budaya.
D. Penutup
Itulah peta jalan Desa Dukuhsalam menuju desa wisata budaya. Gambaran tersebut merupakan apa yang dimiliki Dukuhsalam saat ini. Melalui pengembangan lebih lanjut, ke depan Dukuhsalam akan menjadi lebih baik dan modern. Untuk itu, kerja keras harus dimulai dari sekarang.
Dapatlah dibayangkan jika Kali Gung sudah menjadi lokasi arung jeram dan outbound, banyak warga yang menjadikan rumahnya home stay, kerajinan bambu berkembang inovasinya, hasil kuliner dikemas menjadi lebih menarik, festival kebudayaan digelar dengan kualitas pertunjukan yang menarik, dan warga diberikan pelatihan mengelola wisata. Maka yang terjadi adalah, warga Desa Dukuhsalam dapat menjadi desa wisata budaya yang mandiri dan modern.
Semoga usaha ini mendapat dukungan dan sinergi dari semua pihak. Dengan begitu, seluruh warga dan pemerintah desa tumbuh rasa memilikinya terhadap desa, sehingga mereka menjaga dan mengembangkan Desa Dukuhsalam secara mandiri. Semoga bumi, manusia, dan Gusti memberkati usaha ini. Amin.
Dukuhsalam, 23 Februari 2015
Kepala Desa Dukuhsalam
DEDI HASTOMO, SP