Catatan Marthen Natonis

Catatan Marthen Natonis โณJabatan adalah Kuasa untuk Melayani!

๐Ÿ“ Kunjungan Kerja Komisi I DPRD Kabupaten Timor Tengah Selatan ke Komisi I DPRD Provinsi NTTHari ini saya bersama anggot...
03/06/2026

๐Ÿ“ Kunjungan Kerja Komisi I DPRD Kabupaten Timor Tengah Selatan ke Komisi I DPRD Provinsi NTT

Hari ini saya bersama anggota Komisi I DPRD Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), melaksanakan konsultasi dan koordinasi dengan Komisi I DPRD Provinsi Nusa Tenggara Timur guna membahas sejumlah agenda strategis yang menjadi perhatian masyarakat dan pemerintah daerah.

Salah satu fokus pembahasan adalah proses lanjutan penetapan 20 Desa Persiapan di Kabupaten TTS menjadi Desa Definitif. Mengingat masa status desa persiapan akan berakhir pada Juni 2027, diperlukan percepatan, koordinasi, dan dukungan dari berbagai pihak agar seluruh persyaratan administratif maupun teknis dapat dipenuhi sesuai ketentuan yang berlaku.

Selain itu, kami juga berkonsultasi terkait persiapan Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) Serentak pada 86 desa di Kabupaten TTS yang masa jabatan kepala desanya akan berakhir pada 28 Juni 2026. Kami berharap seluruh tahapan dapat dipersiapkan dengan baik sehingga Pilkades dapat berlangsung secara lancar, demokratis, aman, dan menghasilkan pemimpin desa yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat.

Konsultasi ini juga menjadi wadah untuk bertukar pikiran mengenai tugas, fungsi, dan pola kerja Komisi I bersama seluruh mitra kerja, khususnya dalam bidang pemerintahan, hukum, pelayanan publik, ketertiban masyarakat, serta pengawasan terhadap pelaksanaan program-program pemerintah daerah.

Terima kasih kepada Komisi I DPRD Provinsi NTT atas penerimaan, perhatian, serta berbagai masukan yang konstruktif. Semoga hasil konsultasi ini dapat memperkuat kerja-kerja kelembagaan DPRD dan mendorong terwujudnya tata kelola pemerintahan yang lebih baik demi kemajuan Kabupaten Timor Tengah Selatan.

๐ŸŽ“ MAHASISWA BUKAN PENONTON PEMBANGUNAN โ€” MEREKA ADALAH PELAKUNYARefleksi dari Kuliah Umum Institut Pendidikan So'E (IPS)...
01/06/2026

๐ŸŽ“ MAHASISWA BUKAN PENONTON PEMBANGUNAN โ€” MEREKA ADALAH PELAKUNYA

Refleksi dari Kuliah Umum Institut Pendidikan So'E (IPS), Timor Tengah Selatan | Mei 2026

***

Di mana posisi mahasiswa dalam pembangunan Timor Tengah Selatan?
Pertanyaan itu bukan retorika. Ia adalah pertanyaan eksistensial yang menuntut jawaban nyata dari generasi muda TTS hari ini.

TTS: Daerah yang Kaya Harapan, Berat Tantangan

Kabupaten Timor Tengah Selatan masih tercatat sebagai salah satu daerah tertinggal di Indonesia. Angka kemiskinan tinggi. Indeks Pembangunan Manusia rendah. Infrastruktur pendidikan terbatas. Akses internet? Masih jadi kemewahan di banyak desa.
Tapi justru di sanalah kampus Institut Pendidikan So'E berdiri. Justru di sanalah ratusan mahasiswa muda belajar, bermimpi, dan bertumbuh.
Dan justru di situlah pertanyaan paling penting harus dijawab: Setelah wisuda, lalu ke mana?

TIGA PERAN YANG BUKAN SEKADAR JARGON

Kita semua pernah dengar: mahasiswa adalah agent of change, agent of social control, dan iron stock bangsa. Tapi apa artinya itu di tanah Timor?

1. Agent of Change โ€” Agen Perubahan yang Membumi

Perubahan bukan hanya soal turun ke jalan atau berpidato di mimbar nasional. Di TTS, perubahan bisa bermakna:
โ˜‘๏ธ Seorang mahasiswa yang mengajari anak-anak di pelosok Amanuban Selatan membaca.
โ˜‘๏ธ Seorang pemuda yang mendokumentasikan ketimpangan desanya lewat video pendek yang viral.
โ˜‘๏ธ Seorang mahasiswi yang mendampingi petani mengakses informasi harga komoditas secara online.

Filsuf Paulo Freire pernah menulis bahwa kaum terdidik yang sejati tidak memisahkan diri dari realitas masyarakat yang mereka hidupi. Dalam bahasa yang lebih sederhana: jangan jadi intelektual yang hanya pintar di atas kertas.

Gerakan Mengajar Desa yang menjadi latar Kuliah Umum ini adalah contoh nyata. Ketika seorang intelektual muda rela meninggalkan zona nyaman kota untuk hadir di desa-desa terpencil TTS, itulah agent of change dalam makna paling sejati.

Tapi ada satu catatan kritis: gerakan-gerakan voluntarisme yang mulia ini seringkali bersifat sporadis. TTS butuh lebih dari semangat pengabdian musiman. Ia butuh sistem. Kebijakan. Komitmen jangka panjang. Dan di sinilah suara mahasiswa harus lebih keras dari sekadar langkah kaki.

2. Agent of Social Control โ€” Pengawas yang Tidak Bisa Dibeli

Di daerah di mana politik patron-klien masih kuat, di mana dana desa rawan diselewengkan, di mana akuntabilitas birokrasi masih jadi pekerjaan rumah yang panjang โ€” suara kritis mahasiswa tidak hanya hak, itu kewajiban moral.

Kontrol sosial yang efektif butuh satu syarat utama: otonomi kritis. Mahasiswa harus mampu menilai secara jujur dan mandiri, tanpa terbelenggu loyalitas kepada siapapun โ€” pemerintah daerah, partai politik, atau kelompok kepentingan manapun.

Di era digital, kontrol sosial tidak harus berbentuk demo di jalanan. Mahasiswa yang melek digital bisa melakukan:
1). Citizen journalism โ€” melaporkan fakta lapangan yang tidak diliput media mainstream
2). Analisis anggaran publik โ€” membedah APBD dan Dana Desa secara terbuka
3. Kampanye kebijakan via media sosial โ€” mendorong transparansi dan good governance
Satu video pendek yang viral bisa menggerakkan perhatian publik lebih cepat daripada selusin surat resmi yang tertumpuk di meja birokrasi.

3. Iron Stock โ€” Generasi Besi yang Berakar di Tanah Timor

Iron stock artinya: mahasiswa hari ini adalah pemimpin TTS di masa depan.
Tapi ada paradoks yang menyakitkan: semakin tinggi pendidikan seseorang, semakin besar kemungkinan ia meninggalkan TTS. Brain drain โ€” kehilangan orang-orang terbaik ke kota lain โ€” adalah salah satu tantangan terbesar daerah ini.

Institut Pendidikan So'E dan kampus-kampus lokal lainnya adalah benteng terakhir dalam mempersiapkan pemimpin yang benar-benar berakar di tanah Timor. Pemimpin yang tidak hanya hafal teori, tapi mampu menerjemahkan ilmu ke dalam aksi nyata di tengah komunitasnya.

TTS kaya akan nilai lokal โ€” dengan semangat "em alkit nek mes, he tafena hit kuan" (mari satukan hati untuk membangun daerah kita tercinta), mengandung makna implisit bahwa TTS memiliki kearifan lokal dan rasa kebersamaan yang kuat. Nilai-nilai inilah yang harus menjadi fondasi kepemimpinan generasi iron stock, bukan sekadar adaptasi terhadap budaya luar.

LITERASI DIGITAL: KUNCI YANG BELUM SEMUA ORANG PUNYA

Tema Kuliah Umum ini menyebut literasi digital bukan tanpa alasan. Di dunia yang dikendalikan algoritma dan dibentuk oleh konten media sosial, mahasiswa yang melek digital punya daya ungkit yang jauh lebih besar.

Tapi kita harus jujur tentang paradoks ini:
Di satu sisi, literasi digital membuka peluang luar biasa โ€” akses informasi, jaringan, dan platform untuk bersuara.
Di sisi lain, banyak wilayah TTS masih kekurangan sinyal, listrik belum merata, dan daya beli masyarakat untuk mengakses perangkat digital sangat terbatas.

Artinya? "Literasi digital" tidak bisa hanya jadi materi kuliah umum. Ia harus menjadi tuntutan kepada pemerintah daerah untuk membangun infrastruktur digital sebagai bagian dari keadilan informasi.
Dan ada satu ancaman lagi yang tidak boleh diabaikan: disinformasi. Mahasiswa yang tidak kritis terhadap informasi digital justru bisa menjadi agen penyebar hoaks dan polarisasi. Literasi digital sejati bukan hanya soal bisa pakai gadget โ€” tapi kemampuan untuk memilah kebenaran dari kebohongan.

DARI PENDENGAR PASIF MENJADI SUBJEK AKTIF

Ada gambaran simbolis yang menarik dari Kuliah Umum itu: mahasiswa duduk rapi menghadap pembicara. Top-down. Satu arah.
Tantangan terbesar kampus di TTS sekarang adalah: bagaimana mengubah budaya belajar dari model "mendengar dan menyerap" menjadi model dialog โ€” di mana mahasiswa bukan hanya menerima ilmu, tapi ikut menciptakan pengetahuan dan perubahan sosial.
Paulo Freire menyebutnya banking education โ€” pendidikan yang memperlakukan mahasiswa seperti celengan yang diisi. Yang dibutuhkan TTS adalah sebaliknya: pendidikan yang membebaskan dan mengaktifkan.

APA YANG BISA DILAKUKAN SEKARANG?

โ˜‘๏ธ Untuk para mahasiswa:
Bangun tradisi riset yang menjadikan komunitas desa sebagai mitra, bukan objek.
Kembangkan literasi digital yang kritis โ€” bukan sekadar konsumsi konten, tapi produksi narasi yang memihak kebenaran.
Jaga independensi dari cooptasi politik, tapi tetap buka dialog dengan pemerintah.

โ˜‘๏ธ Untuk kampus dan perguruan tinggi:
Integrasikan pembelajaran berbasis komunitas lokal ke dalam kurikulum.
Buka ruang dialog kritis yang aman dan bebas tekanan.

โ˜‘๏ธ Untuk pemerintah daerah dan DPRD TTS:
Prioritaskan infrastruktur digital sebagai investasi jangka panjang.
Buka ruang partisipasi bermakna bagi mahasiswa dalam perencanaan pembangunan.
Dorong kebijakan yang membuat alumni bangga kembali ke TTS, bukan pergi selamanya.

PENUTUP: SATU KULIAH UMUM, SERIBU LANGKAH KE DEPAN

Satu kali kuliah umum tidak akan mengubah TTS.
Yang dibutuhkan adalah gerakan yang konsisten, terorganisir, dan berakar โ€” gerakan yang tidak berhenti ketika kamera dimatikan dan spanduk diturunkan.

Mahasiswa TTS dipanggil bukan hanya untuk hadir di forum-forum inspiratif. Mereka dipanggil untuk pulang ke desa mereka dan bekerja, berpikir, dan berjuang bersama masyarakatnya.
Timor Tengah Selatan bukan hanya nama sebuah kabupaten. Ia adalah tanah air dari jutaan harapan yang menunggu untuk diwujudkan oleh generasi yang berani bermimpi dan teguh berbuat.
Dan mahasiswa โ€” dengan segala keterbatasan dan potensinya โ€” adalah pemegang kunci dari pintu perubahan itu.

๐Ÿ“ Artikel ini ditulis sebagai refleksi akademis Bpk. Marthen Natonis, S. Hut., M. Si atas Kuliah Umum bertema "Gerakan Sosial & Literasi Digital sebagai Kunci Kemajuan Pemuda Indonesia" di Institut Pendidikan SoE, Kabupaten Timor Tengah Selatan โ€” Mei 2026.

๐ŸŒฑ Pemanfaatan Lahan Tidur untuk Masa Depan Pertanian DesaSetelah mengikuti ibadah raya di Desa Oinlasi, Kecamatan Kie, s...
31/05/2026

๐ŸŒฑ Pemanfaatan Lahan Tidur untuk Masa Depan Pertanian Desa

Setelah mengikuti ibadah raya di Desa Oinlasi, Kecamatan Kie, saya berkesempatan berdiskusi bersama dua Ketua Kelompok Tani mengenai pemanfaatan lahan tidur untuk pengembangan tanaman hortikultura.

Pertemuan ini menjadi ruang yang baik untuk mendengar langsung aspirasi, kebutuhan, serta gagasan para petani dalam meningkatkan produktivitas pertanian. Kami membahas potensi lahan yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal agar dapat dikembangkan menjadi areal budidaya berbagai komoditas hortikultura yang bernilai ekonomi.

Saya meyakini bahwa dengan pengelolaan yang baik, dukungan teknologi pertanian, serta semangat kerja para petani, lahan-lahan tidur dapat menjadi sumber penghasilan baru yang berdampak positif bagi kesejahteraan masyarakat.

Sebagai wakil rakyat, saya mendukung setiap upaya yang mendorong kemajuan sektor pertanian sebagai penggerak ekonomi desa. Semoga melalui kerja sama dan komitmen bersama, Desa Oinlasi dapat berkembang menjadi salah satu sentra hortikultura yang mampu meningkatkan kesejahteraan petani dan masyarakat secara luas.







Menghadiri sekaligus menyampaikan sambutan dalam acara syukuran HUT Persekutuan Doa Hidup Baru menjadi sebuah kehormatan...
29/05/2026

Menghadiri sekaligus menyampaikan sambutan dalam acara syukuran HUT Persekutuan Doa Hidup Baru menjadi sebuah kehormatan dan sukacita tersendiri.

Dalam kesempatan tersebut, saya menyampaikan bahwa gereja dan persekutuan doa merupakan dua elemen yang tidak dapat dipisahkan. Keduanya harus saling menopang, menguatkan, dan bertumbuh bersama demi membangun kehidupan iman yang dewasa serta pelayanan yang berdampak bagi masyarakat.

Persekutuan doa yang hidup akan menjadi kekuatan rohani bagi gereja, sementara gereja yang kuat akan melahirkan komunitas-komunitas doa yang bertumbuh dan penuh semangat pelayanan.

Kiranya semangat kebersamaan, persatuan, dan kehidupan doa terus terjaga untuk kemuliaan Tuhan dan kebaikan sesama.




๐Ÿ“Œ KEGIATAN LEMBAGASaya bersama Ketua DPRD Kabupaten TTS, Bpk. Mordekhai Liu, dan Ketua Pansus LKPJ, Bpk. Semy Sanam, mel...
28/05/2026

๐Ÿ“Œ KEGIATAN LEMBAGA

Saya bersama Ketua DPRD Kabupaten TTS, Bpk. Mordekhai Liu, dan Ketua Pansus LKPJ, Bpk. Semy Sanam, melaksanakan konsultasi di Kementerian Dalam Negeri RI melalui Dirjen Otonomi Daerah sekaligus menyerahkan rekomendasi dan catatan strategis Pansus LKPJ Kepala Daerah Kabupaten TTS.

Kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen DPRD Kabupaten TTS dalam memastikan hasil pembahasan LKPJ menjadi bahan evaluasi dan perbaikan penyelenggaraan pemerintahan daerah ke depan, demi peningkatan kualitas pelayanan publik dan pembangunan bagi masyarakat Kabupaten TTS.

27/05/2026

๐ŸŽฅ Penghasilan Tetap (Siltap) tahun 2026 hanya direncanakan 8 bulan?

Pernyataan dari Bapak Marthen Natonis, S. Hut., M. Si, menyoroti kekhawatiran terhadap rencana pembayaran Siltap perangkat desa tahun 2026 yang hanya dianggarkan untuk delapan bulan.

Hal ini tentu menimbulkan banyak pertanyaan di tengah masyarakat dan aparat desa, karena Siltap merupakan hak dasar yang berkaitan langsung dengan kesejahteraan serta pelayanan pemerintahan desa kepada masyarakat. Jika hanya dianggarkan 8 bulan, maka ada potensi ketidakpastian pembayaran selama 4 bulan lainnya.

Dalam video ini juga ditegaskan bahwa:
โœ… Pemerintah perlu memberikan kejelasan terkait mekanisme penganggaran
โœ… Hak perangkat desa harus menjadi perhatian serius
โœ… Jangan sampai pelayanan publik di desa terganggu akibat persoalan kesejahteraan aparat desa
โœ… DPRD memiliki fungsi pengawasan agar kebijakan tetap berpihak kepada masyarakat

Harapannya, persoalan ini bisa segera mendapat solusi sehingga perangkat desa tetap bekerja dengan tenang dan pelayanan kepada rakyat tetap berjalan maksimal. ๐Ÿ’ช๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ





๐ŸŒ™โœจ Selamat Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah | 2026 Masehi โœจ๐ŸŒ™Atas nama pribadi, DPD Partai Perindo Kab. TTS dan Komisi I ...
27/05/2026

๐ŸŒ™โœจ Selamat Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah | 2026 Masehi โœจ๐ŸŒ™

Atas nama pribadi, DPD Partai Perindo Kab. TTS dan Komisi I DPRD TTS, saya mengucapkan selamat merayakan Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah kepada seluruh umat Muslim.

Semoga momentum Idul Adha membawa keberkahan, mempererat persaudaraan, menumbuhkan keikhlasan dalam berbagi, serta memperkuat kepedulian sosial demi membangun Kabupaten Timor Tengah Selatan yang lebih maju dan sejahtera. ๐Ÿค๐Ÿ’™

Taqabbalallahu minna wa minkum, mohon maaf lahir dan batin.

โ€”
Marthen Natonis, S.Hut., M. Si
------
Ketua Fraksi Perindo DPRD TTS
Ketua Komisi I DPRD TTS

๐Ÿ“Œ Komisi I DPRD Kabupaten TTS Menerima Aspirasi Pemekaran DesaPimpinan dan Anggota Komisi I DPRD Kabupaten TTS menerima ...
27/05/2026

๐Ÿ“Œ Komisi I DPRD Kabupaten TTS Menerima Aspirasi Pemekaran Desa

Pimpinan dan Anggota Komisi I DPRD Kabupaten TTS menerima aspirasi dari Pemerintah dan masyarakat Desa Napi, Kecamatan Kie, terkait usulan pemekaran desa. Pertemuan ini dipimpin langsung oleh Ketua Komisi I DPRD Kabupaten TTS, Bapak Marthen Natonis, S. Hut., M. Si.

Aspirasi ini disampaikan sebagai upaya mendekatkan pelayanan pemerintahan, mempercepat pembangunan, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Usulan pemekaran desa dinilai telah memenuhi syarat administratif, kewilayahan, serta kebutuhan pelayanan masyarakat.

DPRD Kabupaten TTS berkomitmen mengawal dan menindaklanjuti aspirasi ini sesuai mekanisme dan ketentuan peraturan yang berlaku. Semoga setiap aspirasi masyarakat dapat menjadi bagian dari pembangunan daerah yang lebih baik dan merata. ๐Ÿค

Address

Soe

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Catatan Marthen Natonis posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Organization

Send a message to Catatan Marthen Natonis:

Share