18/11/2024
ANGON
Di beberapa daerah, salah satunya di Minggir, saya pernah menyaksikan mas-mas angon atau menggembala bebek. Sebuah pemandangan yang mengingatkan saya akan masa kecil ketika angon bebek dan kambing.
Nah, sebelum sampai di sawah tempat angon, mas-mas itu menggeret puluhan bebek di dalam sebuah “kandang” persegi panjang dikasih roda.
Saya tidak tahu nama si mas angon. Yang saya lihat, dia lihai sekali mengendarai motor dengan menggeret kandang beroda itu. Iya, saya yakin itu tidak mudah.
Dari kejadian ini, ada 2 aksi yang membuat saya merenung. Pertama, si mas angon membawa puluhan bebek itu ke sawah yang kaya akan makanan, nutrisi, untuk si bebek. Ini sama seperti ikhtiar pemimpin. Membawa, mengarahkan, menuntun warganya ke “lahan masa depan” yang lebih sehat dan sejahtera.
Aksi ke-2 adalah ketika si mas angon melepaskan bebek-bebek itu ke sawah lalu mengarahkan atau mengawasi dari belakang. Sama seperti pemimpin, yang sejatinya juga berdiri di belakang untuk mendorong, mengawasi, dan membimbing warganya supaya tidak hanya sehat tetapi juga berkembang secara benar.
Ini mirip dengan ajaran Ki Hadjar Dewantara. Beliau merancang konsep 3 semboyan pendidikan. Salah satunya “tut wuri handayani” yang bermakna ‘di belakang memberi semangat atau dorongan’.
Semboyan ini ditujukan kepada para guru atau pengajar. Namun, bagi saya, ini semboyan yang luhur bagi siapa saja, terlebih pemimpin. Pada titik tertentu, ini sebuah ikhtiar bagi pemimpin yang mendapat mandat untuk “angon” secara bijak dan sesuai konstitusi, di mana saja mereka berkarya.
Kelak, ketika saya mendapatkan kepercayaan untuk memimpin, saya ingin sederek Sleman ikut menggandeng tangan saya. Mencubit lengan saya ketika saya lalai. Berbisik secara lantang di telinga saya jika tidak bisa menjadi “penyokong dari belakang” yang baik seperti petuah Ki Hadjar Dewantara.
Salam
Pak Harda - Calon Bupati Sleman 2025-2029