Hamparan sawah dihiasi kilau kuning keemasan padi membentang luas di Kampung Marlintung Desa Karang Anyar, Kecamatan Secanggang, Kabupaten Langkat. Di bagian selatan membentang daratan yang menghijau dan warna-warni rumah penduduk. Tampak di tengah desa sebuah tanah lapang, kantor kepala desa, SMP Negeri 2 dan Masjid Al-Mukhlisin. Marlintung adalah sebuah desa yang subur dan terkenal karena banyak
putra-putri daerah ini yang sudah berhasil, baik di luar daerah ataupun di kawasannya sendiri. Tapi tahukah kita semua bahwa Kampung Marlintung mempunyai cerita sejarah yang panjang dan unik? Dahulu Kampung Marlintung terdiri dari 2 blok. Bagian selatan adalah kebun tembakau peninggalan Belanda. Sedangkan bagian utara adalah hutan muda dengan tumbuhan rotan air (Banjar : rutan Pangkat), jarung, ilalang, kayu kalat. Nama Marlintung awalnya diambil dari nama pohon kayu Marlintung. Pohon ini dapat tumbuh besar dengan warna kayu putih dan bertipe keras dengan bentuk daun bulat memanjang dan kasar. Bentuk daunnya seperti daun mahoni tetapi besar seperti daun mangga. Tekstur dan warna daunnya seperti pohon jati. Daerah Marlintung awalnya adalah daerah Marlintung Banjaran saat ini. Menurut keterangan Hasan (72 tahun), daerah Marlintung (Marlintung Banjaran) dibuka pertama kali oleh H. Utuh Said (Utuh Was) disusul oleh teman-temannya yaitu Musak, Mamas, Sabrik.Dahulu, sekitar tahun 1937, masyarakat bebas membuka lahan pertanian atau tempat tinggal. Masyarakat membuka lahan dimana-mana. Tetapi karena peralatan dan bahan bangunan belum memadai seperti saat ini, masyarakat saat itu hanya membangun tempat tingga dengan berdindingkan ilalang, kulit-kulit kayu ataupun kayu-kayu yang didapat dari daerah sekitar. Menurut Hasan, kakek yang mempunyai perawakan tinggi besar, mata sipit ini, karena masih banyaknya binatang buas, masyarakat lebih memilih berpindah-pindah tempat. Setelah kemerdekaan RI diumumkan, barulah mulai terlihat administrasi kependudukan yang mengakibatkan masyarakat tidak bisa sembarang membuka hutan. Dan sejak saat itu berangsur perkebunan tembakau milik Belanda mulai dialihkan menjadi tanah milik rakyat. Sekitar tahun 1947-1948, banyak pendatang menduduki Kampung Marlintung. Sekitar tahun 1947, mulai dibentuk pemerintahan desa. Ini terbukti dengan mulai diangkatnya lurah-lurah. Saat itu, lurah pertama untuk wilayah Marlintung Banjaran adalah Janjan. Sedangkan untuk Daerah Marlintung bagian Selatan dipimpin Mesran. Setelah dimulainya pemerintahan desa, daerah Marlintung dibagi menjadi 3 bagian, Marlintung Banjaran, Marlintung bagian Timur (Marlintung Budi Utomo), Marlintung bagian Timur (Marlintung Karang Anyar dan Kapitan). Pembagian bagian Timur dan Barat dibatasi oleh parit besar irigasi perkebunan yang dahulunya disebut Parit Elang, yang terbentang dari selatan ke Utara menuju persawahan, pusingan kapal dan bermuara ke sungai pintu air empat. Parit Elang sendiri memiliki lebar 12 meter. Sedangkan yang selalu menarik perhatian adalah daerah Pusingan Kapal, yaitu bundaran berjari-jari 20 meter atau berdiamter 40 meter yang digunakan untuk memutar kapal-kapal. Ini digunakan karena dahulu jalan darat sulit ditempuh. Jadi pemerintah RI atau Belanda menggunakan transportasi air. Pusingan Kapal dijadikan pelabuhan kapal tongkang pembuat kanal perkebunan tembakau. Pada zaman dahulu, pembuatan Parit Elang dan Pusingan Kapal tidak terlepas dari asal-muasal Marlintung Kapitan, karena Kapitan berarti Kongsi China (bangsal China) pada tahun 1941-1943. Dahulu orang-orang bangsa China bekerja sebagai pembuat parit elang, pusingan dan saluran-saluran irigasi perkebunan. Kemudian pemerintah Belanda membuatkan Kongsi China (Kapitan) dan sampai sekarang daerah itu dinamakan Marlintung Kapitan. Sekitar tahun 1955, banyak pendatang, khususnya suku Jawa, berdatangan dan saat itu mulai susah membuka lahan sembarangan. Jadi, untuk kepentingan tempat tinggal dan lahan pertanian, warga harus membayar uang panceng (pengganti lahan pembukaan) kepada lurah. Harga tanahn bervariasi mulai Rp300-800 per hektare. Menurut Tukiman, kakek 69 tahun, mantan lurah tahun 1967-1969 yang juga tokoh pendiri Budi Utomo dan SD Marlintung, pembagian daerah Marlintung dan penentuan batas Langkat dan Deli Serdang terjadi pada tahun 1962. Mulai saat itu penduduk Marlintung mulai aktif bertani dan bertanam padi daray (agogo) dan palawija (kacang kedelai). Lama-kelamaan, peradaban dan kebudayaan mulai terbangun. Ini terbukti dari berkembangnya seni ketoprak (wayang orang) dan Reog Ponorogo, karena banyak pendatang dari Jawa. Kemudian berdiri radio amatir tahun 1966-1967, lalu pekan kamis tahun 1967-1968. Pada tahun 1963, Lurah Mesran pindah ke Banjaran, maka pemerintahan di Marlintung dipimpin Tomo. Pada tahun 1967-1969, Tomo digantikan Tukiman. Saat itu, wilayah Marlintung Barat dan Timur mulai bersatu sehingga terlihatlah bentuk kerjasama dan swadaya masyarakat. Ini terbukti dengan keinginan masyarakat membuat lapangan sebagai tempat sarana olahraga, perkumpulan adat, dan lainnya yang biayanya dikutip dari masyarakat dengan mengumpulkan 3 kaleng padi untuk membeli tanah. Setahun setelah lapangan dibuat persisinya pada 1969, masyarakat mendirikan SD Dewantara. Tetapi sekolah itu hanya bertahan 10 tahun karena pada tahun 1979 didirikan SDN 056008 Marlintung yang bertahan hingga kini. Sekolah Dewantara mengalami kekosongan selama 4 tahun. Tahun 1983, Suwito memindahkan Sekolah Budi Utomo dari Kampung Nangka ke Marlintung. Tetapi sekolah ini juga tidak bertahan lama—hanya sekitar 7 tahun. Lama kelamaan, Marlintung semakin berkembang. Pada tahun 1994, pemerintah membangun SMP No. 2 Secangang. Kampung Marlintung sampai saat ini masih dikenal dan disegani karena banyak sekali sarjana dan orang-orang sukses berasal dari Marlintung. Tapi ini kontras dengan kondisi pembangunan yang belum memadai.