24/01/2026
*Makna Murka Berlapis*
*يُفِيدُ تَفْسِيرُ قَوْلِهِ تَعَالَى: ﴿فَبَاءُوا بِغَضَبٍ عَلَىٰ غَضَبٍ﴾ (سُورَةُ الْبَقَرَةِ: ٩٠) أَنَّ الْيَهُودَ قَدْ تَعَرَّضُوا لِغَضَبَيْنِ مُتَعَاقِبَيْنِ مِنَ اللَّهِ تَعَالَى؛ فَأَمَّا الْغَضَبُ الْأَوَّلُ فَكَانَ بِسَبَبِ عِبَادَتِهِمُ الْعِجْلَ وَاعْتِدَائِهِمْ عَلَى الْأَنْبِيَاءِ بِالْقَتْلِ، وَأَمَّا الْغَضَبُ الثَّانِي فَنَتَجَ عَنْ كُفْرِهِمْ بِسَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَبِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ، وَجُحُودِهِمْ بِعِيسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ وَبِالْإِنْجِيلِ، فَمَعْنَى «بَاءُوا» أَنَّهُمْ رَجَعُوا مُتَحَمِّلِينَ أَوْ صَارُوا مُسْتَحِقِّينَ لِذَلِكَ، فَاجْتَمَعَ عَلَيْهِمْ غَضَبَانِ مُتَرَاكِمَانِ جَزَاءً لِبَغْيِهِمْ وَحَسَدِهِمْ.*
_'Penafsiran firman Allah Ta‘ala “maka mereka kembali dengan kemurkaan di atas kemurkaan” (QS. Al-Baqarah: 90) menunjukkan bahwa kaum Yahudi ditimpa dua kemurkaan Allah yang berurutan; kemurkaan pertama akibat penyembahan anak sapi dan pembunuhan para nabi, sedangkan kemurkaan kedua disebabkan kekufuran terhadap Nabi Muhammad ﷺ dan wahyu yang diturunkan kepadanya serta pengingkaran terhadap Nabi Isa AS dan Injil. Kata “bā’ū” bermakna kembali dengan membawa atau menjadi layak menerima hal tersebut, sehingga dua kemurkaan itu menumpuk sebagai balasan atas kedurhakaan dan kedengkian mereka.'_
Berdasarkan landasan teks tersebut, teori tafsir tahlīlī menuntut penarikan makna secara bertahap dari unsur bahasa, sejarah, dan tujuan ayat. Tesis utama menyatakan bahwa frasa 'ghaḍab ‘alā ghaḍab' merepresentasikan hukuman ilahi yang bersifat kumulatif dan historis, di mana pelanggaran akidah dan kejahatan moral melahirkan konsekuensi teologis yang berlapis, sehingga ayat ini dipahami sebagai penegasan keadilan Allah terhadap perilaku kolektif Bani Israil. Namun demikian, sebagai antitesis, pendekatan hermeneutika kontekstual berpandangan bahwa ayat ini tidak dimaksudkan untuk mengeneralisasi murka kepada suatu kelompok secara abadi, melainkan sebagai kritik etis terhadap pola pembangkangan yang dapat terulang pada umat mana pun, sehingga fokusnya bergeser dari identitas ke perilaku.
Dari dialektika tersebut, sintesis dapat dirumuskan bahwa ayat ini memuat dimensi historis sekaligus normatif: ia menjelaskan sebab-sebab kemurkaan Allah dalam konteks umat terdahulu, sekaligus menjadi peringatan universal bahwa penolakan terhadap kebenaran, kedengkian, dan penyimpangan akidah, menurut teori sunnatullah dalam Al-Qur’an, akan melahirkan akumulasi konsekuensi spiritual dan moral bagi siapa pun yang melakukannya.