12/08/2020
Tentang Alam Rahim:
Semua jiwa-jiwa sebelum di kirimkan ke rahim ibu di panggil menghadap Allooh dan di ambil kesaksian dari jiwa mereka, perhatikan di sini yang bersaksi bukan ruh, jasad atau pun akal pikiran.
Peristiwa ini berlangsung di alam persaksian.
Allooh Ta’ala berkata: "
Alastu bi Robbikum?
(Bukankah aku Robbmu...
Semua jiwa mengatakan...
“Betul, kami bersaksi” Kami lakukan yang demikian itu agar di hari qiamat nanti tidak mengatakan sesungguhnya kami Bani Adam adalah orang2 yang lalai.
Berkata :
“Kami tidak pernah tahu ttg persaksian ini” (Al Qur'an [7]: 172)
Sa'at jiwa bersaksi, jiwa kita dalam kondisi mengenal Robbnya. Begitu di masukkan ke rahim ibu, dan lahir, kemudian menjadi tidak mengenal Allooh.
Yang tidak paham adalah akal raganya, tapi jiwa yang di dalam mengenal. Tapi, semakin seseorang bertambah usia, sang jiwa menjadi semakin terpuruk di dalam raga.
Menjadi lemah oleh pengaruh buruk lingkungannya.Si jiwa menjadi tidak hidup dan sang entitas yang sempat mengenal Allooh tadi menjadi tenggelam dalam dunia raga kita termasuk di dalamnya ada ego, hawa nafsu dan syahwat.
Salah satu tanda kita tidak lagi mengenal Allooh yakni tidak yakin Allooh akan menolong, ragu bahwa Allooh yang akan memberi rezeki.
Padahal ketika dalam kandungan kita di beri makan lewat plasenta, setiap bayi ada kantung kuningnya, itu adalah makanannya.
Bayangkan sejak dalam kandungan bayi itu sudah ada makanannya. Sa'at di lahirkan ada air susu ibu, semua itu ada rezekinya.
Jadi manusia ada rezekinya yang mendampingi sebagai bekal hingga ia meninggal pada sa'atnya.
Begitu besar juga sebenarnya masih ada kantung rezekinya cuma tidak kelihatan, tidak sekonkret plasenta seperti waktu bayi namun harus di upayakan. Tapi semua Allooh jamin, karena dunia ini di ciptakan bukan untuk mencari makan, tapi untuk mengenal Allooh, mengabdi pada Allooh Ta’ala.
Artinya apa?
Urusan rezeki kita itu Allooh yang jamin!
"Tidak Kuciptakan jin dan manusia kecuali untuk mengabdi kepada-Ku.
Sehingga kalau di dunia kita hanya sibuk cari ‘makan’ sampai mati dan lupa pada tugas untuk menemukan jalan ke utamaan, maka rugi sekali.
Kenapa jiwa dilahirkan di alam bumi? Tentu ada yang dicari di alam dunia. Oleh karena itu harus berpengetahuan, harus belajar. Seperti halnya kita punya anak, kalau ia lahir lalu dibiarkan tidak sekolah, maka tidak akan pandai. Jiwa pun sama harus mengenal semua alam yang Dia buat. Memang jiwa awalnya mengenal Allah, dibekali dahulu tauhidnya, lalu disuruh dicari pengejawantahannya di seluruh alam-alam yang akan dilaluinya.
Perjalanan setelah dari alam persaksian adalah di alam rahim. DI situ jiwa mulai dimasukkan ke dalam raga, dibekali dengan empat hal yang menjadi skenario dasar yang harus dia lakoni di alam berikutnya, yaitu alam dunia. Berbekal dengan semua itu, seyogyanya manusia mencari kesejatian dirinya, menemukan sebanyak mungkin al haq, mengenali kebenaran dalam kurun waktu yang singkat ini.
”Sesungguhnya setiap orang di antara kalian, penciptaannya dikumpulkan dalam rahim ibunya, selama 40 hari berupa sperma (nuthfah), kemudian menjadi segumpal darah (’alaqah) selama 40 hari juga, kemudian menjadi segumpal daging (mudhghah) selama 40 hari juga. Lalu diutuslah malaikat untuk meniupkan ruh kepadanya. Dia diperintahkan menuliskan empat kata: Rezekinya, ajalnya, amalnya, dan celaka atau bahagianya.
Demi Allah yang tiada Tuhan selain-Nya, salah seorang di antara kalian mengerjakan amalan ahli surga, sehingga tidak ada jarak antara dirinya dan surga kecuali sehasta saja. Ternyata ia didahului oleh ketetapan Allah untuk tidak masuk surga. Kemudian dia melakukan perbuatan ahli neraka, sehingga ia pun masuk neraka.
Ada p**a salah seorang di antara kalian yang mengerjakan amalan ahli neraka, sehingga tidak ada lagi jarak antara dirinya dan neraka kecuali sehasta saja.
Ternyata dia di dahului oleh ketetapan Allooh untuk tidak masuk neraka.
Kemudian dia melakukan perbuatan ahli surga sehingga dia pun masuk surga.
(HR Bukhori dan Muslim)