14/09/2026
Bagaimana respons pengamat terhadap pencopotan Purbaya?
Ekonom dari CELIOS, Nailul Huda, menilai pencopotan Purbaya Yudhi Sadewa tidak terlepas dari buruknya pengelolaan keuangan negara.
Menurut dia, publik menilai kinerja ekonomi secara nasional memburuk, dan tidak merasakan dampak kebijakan fiskal pemerintah meskipun belanja negara meningkat tajam.
Ia juga menyoroti masih negatifnya outlook surat utang Indonesia dari sejumlah lembaga pemeringkat, yang menurutnya membuat banyak investor keluar dari portofolio surat utang negara. Pada bulan Maret lalu, Fitch Ratings merevisi outlook peringkat utang Indonesia dari sebelumnya stabil menjadi negatif.
“Selain itu, Purbaya sering melanggar batas antara kebijakan fiskal dan moneter dengan ikut berkomentar miring terhadap kinerja bank sentral,” katanya.
Meski demikian, Huda menilai penunjukan Suahasil Nazara tidak serta-merta menandai perubahan kebijakan.
“Penunjukkan Suahasil sebagai Menkeu sebenarnya bukan sebuah perubahan karena Suahasil sendiri selama ini menjadi Wakil Menkeu dari zaman Sri Mulyani,” ujarnya.
Huda berpendapat kendali utama tetap berada di tangan presiden.
Ia mengatakan Suahasil, baik sebagai wakil maupun menteri keuangan, harus menerima konsekuensi menjalankan program-program prioritas yang memerlukan anggaran besar.
“Siapapun Menkeu-nya, saya rasa tetap tidak bisa melawan ego dari Presiden untuk program-program prioritas Presiden,” kata Huda.
Menurutnya, kemampuan menjaga defisit fiskal di bawah 3% bukan bergantung pada siapa menteri keuangannya, melainkan pada kesediaan pemerintah menghentikan program prioritas yang dianggap tidak berguna, seperti MBG.
Ke depan, ia menilai tantangan utama Suahasil adalah mengembalikan APBN ke jalur yang lebih rasional.