SatuSuara

SatuSuara Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from SatuSuara, Surabaya.

Mahasiswa budeg ya begini, dah jelas kapan pemilu nya dan gx ada itu 3 periode..kok malah bawa ranjang buat demo 😄😆🤣
11/04/2022

Mahasiswa budeg ya begini, dah jelas kapan pemilu nya dan gx ada itu 3 periode..kok malah bawa ranjang buat demo 😄😆🤣

Detik2 sebelum penganiayaan
11/04/2022

Detik2 sebelum penganiayaan

26/04/2020

Kematian Kim Il Sung dirahasiakan 34 jam, kematian Kim Jong-il, dirahasiakan selama 48 jam. Kim Jong-un diduga mengidap penyakit kardiovaskular

Masker Tonggoku
30/03/2020

Masker Tonggoku

Buat teman2 relawan & pendukung pakde jokowi yang jagoannya tidak terpilih jadi menteri. Mungkin sampeyan sedikit baper ...
24/10/2019

Buat teman2 relawan & pendukung pakde jokowi yang jagoannya tidak terpilih jadi menteri. Mungkin sampeyan sedikit baper kayak saya juga gakpapa, wong memang "ngefans" kok dilarang-larang. Cuman pesan saya, bapernya jangan kelamaan.

Mungkin sampeyan tidak 100% yakin dengan pilihan jokowi, tapi kalo mau jujur, kamu saja mungkin juga gak 100% yakin dengan pasanganmu.

Tapi seseorang harus terpilih sebagai pembantu presiden menahkodai perahu negeri ini. Jika dulu kamu memutuskan untuk memilih jokowi sebagai nahkoda, maka percayakan sepenuhnya pada beliau untuk memilih anak buah kapalnya.

Berikan dukungan semangat OPTIMISME & ENERGI POSITIF, agar semangat beliau menahkodai perahu negeri mengarungi samudra peradaban dunia ini sampai pada garis kesejahteraan bagi bangsa & negara. ITU SAJA! 😊
Eko Aries

Ho oh 🤣🤣🤣
08/09/2019

Ho oh 🤣🤣🤣

KASUS MIRIP “KKN DESA PENARI” DI KAMPUNGKUSedang viral kisah “KKN di desa Penari” mengenai sepasang mahasiswa dan mahasi...
08/09/2019

KASUS MIRIP “KKN DESA PENARI” DI KAMPUNGKU

Sedang viral kisah “KKN di desa Penari” mengenai sepasang mahasiswa dan mahasiswi KKN yang meregang nyawa karena berani melanggar pantangan adat & kepercayaan masyarakat sekitar. Kisah yang hampir serupa juga pernah terjadi di kampung ibuku dimana seorang warga tewas karena berani melanggar pantangan saat sebuah ritual tertentu dilakukan di kampung tersebut.

Kisah ini terjadi beberapa puluh tahun yang lalu di keluarga kakek saya, di saat paman saya masih SMP dan saya belum lahir. Saksi hidupnya adalah ibu saya (karena kakek dan nenek sudah meninggal) dan warga kampung yang kini usianya minimal setara dengan ibu saya. Kejadiannya dimulai saat paman saya yang masih seusia SMP saat itu sedang bermain-main di sebuah Taman Makam Pahlawan yang ada di kota kami.

Entah bagaimana kejadiannya (karena paman saya juga tidak bisa jelas mengingatnya) tiba-tiba jiwa paman saya tertukar di sana dimana jiwa paman saya berada di taman itu sedang jiwa lain yang kebetulan namanya sama dengan paman saya dan kebetulan itu adalah jiwa seorang pejuang 45 tiba-tiba bisa masuk dan menguasai raga paman saya.

Berdasar keterangan paman saya yang masih bisa mengingat kejadian itu, disana dia dimuliakan, disambut dengan pesta dan akan diangkat menjadi Pangeran karena kebetulan penguasa gaib di wilayah itu dulunya adalah seorang tokoh pejuang dan seorang kyai sakti yang adalah saudara seperguruan dengan kakeknya kakek saya (istilahnya orang Jawa : mbah Canggah) dan juga dengan Pangeran Diponegoro sehingga paman sayapun dianggap sebagai “cucunya sendiri” oleh sang penguasa gaib itu. (Sekedar info, kasta dan status sosial tidak hanya dikenal di dunia manusia tapi juga di dunia astral.)

Yang heran adalah almarhum nenek saya, karena sekembali dari Taman Makam Pahlawan paman saya memiliki tabiat yang aneh yaitu s**a latihan baris berbaris sendiri dan kemana-mana selalu memanggul senjata mainan, yang mana hal ini tidak pernah dilakukannya sebelumnya. Namun dia akan menyahut dan menjawab jika dipanggil namanya (karena kebetulan pejuang yang jiwanya tertukar dengan paman saya itu memiliki nama yang sama dengan nama paman saya.)

Kakek saya yang kebetulan adalah orang yang waskita dan linuwih (punya kelebihan indera keenam) tahu bahwa yang berada di raga paman saya saat ini bukanlah jiwanya sendiri melainkan jiwa lain yang kebetulan punya nama yang sama dengan nama anaknya. Kakek sayapun kemudian berusaha mencari dan mengembalikan jiwa paman saya.

Saya tidak tahu bagaimana kronologinya (karena saat saya lahir kakek sudah meninggal sehingga saya tidak bisa menanyakan mengenai kejadian itu), yang jelas akhirnya kakek mengambil salah satu batu di kuburan sebagai syarat untuk mengembalikan jiwa paman saya dan menukarnya kembali dengan jiwa si pejuang 45 yang ada dalam raga paman saya.

Dan saat ritual “penukaran jiwa” itu hendak dilakukan kakek meminta seluruh warga kampung untuk begadang dan tidak diperbolehkan tidur hingga pagi hari untuk menghindari resiko dan hal-hal yang tidak diinginkan. Dan karena kakek saya termasuk orang yang dihormati dan dipercaya di kampung itu maka semua warga kampungpun bersedia melakukannya.

Akhirnya ritual dilakukan, pintu rumah kami dibuka dan sambil melempar batu kuburan itu keluar kakek saya berseru, “Si ....... (nama paman saya) sudah kembali.” Akhirnya paman sayapun kembali sadar dan jiwa yang sempat berada di dalam raganyapun berhasil dikembalikan ke tempat asalnya.

Pagi harinya warga kampung heboh karena ada satu warga yang tak percaya dan berani melanggar instruksi kakek saya tadi (yaitu tidur dan tidak begadang hingga pagi hari) sehingga akhirnya meninggal. Namun warga kampung juga tidak berani menyalahkan kakek saya karena sudah memberikan peringatan dan menganggap hal itu hanya sebagai kebetulan atau musibah belaka.

Kejadian ini memiliki kemiripan dengan kisah “KKN di desa Penari” dimana ada konsekuensi kehilangan nyawa saat kita berani menentang, melanggar dan berurusan dengan kekuatan gaib yang tak tampak oleh mata yang biasanya kita remehkan dan kita anggap sebagai tahayul belaka, apalagi di jaman modern seperti sekarang ini. Saya tidak bermaksud menakut-nakuti ataupun mengajak Anda untuk melakukan kultus terhadap hal gaib. Saya hanya ingin mengatakan bahwa ada hal-hal yang tidak bisa kita mengerti dan berada di luar kuasa serta kendali kita.

Mungkin ada sebagian dari Anda yang akan berkata “Sebagai orang beriman kita tidak perlu percaya dan takut dengan hal begituan.” Oke, itu ada benarnya juga karena jika Anda benar-benar terhubung dengan Roh Suci Anda (Tuhan) maka tidak akan ada satu makhluk gaibpun yang bisa mengganggu dan mencelakakan Anda, sehebat apapun dia. Tapi sudahkah Anda benar-benar dikenal dan disayang oleh Tuhan? Benarkah Anda sudah terhubung dengan Roh Suci Anda (Orang Kristen biasanya menyebutnya dengan istilah Roh Kudus) ataukah Anda sekedar gede bacot doang tapi sebenarnya kosong melompong di dalam?

Disinilah masalahnya. Banyak orang yang sok yakin dan merasa sudah mengenal Tuhan tapi sebenarnya dia hanya tertipu dan terjebak oleh ilusi ego dan pikirannya sendiri. Orang yang seperti ini meskipun mulutnya koar-koar teriak sok yakin dengan Tuhan tapi sekali saja disenggol oleh “penguasa gaib” toh bakal mampus juga karena dasar spiritualnya kosong dan tidak memiliki tameng ataupun aura pelindung spiritual. Contohnya ya kump**an orang yang s**a teriak “bunuh-bunuh” di jalan raya sambil sebut nama Tuhan itu hehe.......

Salam Semesta Tiada Batas

(NB : Di dekat lokasi TMP yang saya sebutkan di atas pernah dilakukan pertunjukan atau konser musik. Tapi tanpa ada gempa dan angin serta sebab yang jelas, tiba-tiba saja panggung ambruk. Menurut orang yang memiliki indera keenam katanya ada naga besar yang melilit panggung tersebut. Hingga sekarang tidak pernah ada lagi orang yang berani bikin acara hiburan berskala besar di sekitar lokasi itu. )
Muhammad Zazuli

Proyek Stadion BMW Rp 4,5 T, Jakpro Menangkan yang Lebih Mahal Direktur Konstruksi Jakarta International Stadium (JIS) P...
08/09/2019

Proyek Stadion BMW Rp 4,5 T, Jakpro Menangkan yang Lebih Mahal



Direktur Konstruksi Jakarta International Stadium (JIS) PT Jakarta Propertindo (Jakpro) Iwan Takwin membenarkan sudah didapatkannya pemenang lelang proyek pembangunan stadion bertaraf internasional senilai Rp 4,5 triliun tersebut. Pemenang lelang proyek yang lebih dikenal sebagai Stadion BMW, karena berada di atas lahan Taman BMW, itu ditetapkan adalah Kerjasama Operasional (KSO) Wijaya Karya (Wika) Gedung, Jaya Konstruksi, dan PP.

Mereka dinyatakan unggul dalam persentasi kualitas dan inovasi dibandingkan pesaingnya, konsorsium yang dipimpin PT Adhi Karya. "Porsi penilaian tender lelang karena kami mau kualitas, maka 70 persen penilaian teknis dan 30 persen harga. Itu sudah berjalan dan akhirnya diputuskan pemenangnya (KSO Wijaya Karya)," ujar Iwan saat dihubungi Tempo, Kamis 5 September 2019.

Berdasarkan dokumen yang dimiliki Tempo penawaran harga dari KSO Wika Gedung memiliki selisih sekitar Rp 300 miliar lebih mahal yakni Rp 4,085 triliun. Sedang KSO Adhi Karya Rp 3,782 triliun. Dokumen bertitel Pengumuman Peringkat untuk pekerjaan rancang bangun diteken Senior Manager Divisi Pengadaan PT Jakpro Asep Kandar pada 8 Agustus 2019.

https://metro.tempo.co/read/1243566/pesan-anies-ke-wali-kota-jakarta-utara-awasi-itf-dan-stadion-bmw

REFORMASI TOTAL DI TUBUH PSSI"Jangan dulu bermimpi ke piala dunia" Nampaknya penggemar bola tanah air belum bisa berhara...
08/09/2019

REFORMASI TOTAL DI TUBUH PSSI
"Jangan dulu bermimpi ke piala dunia"


Nampaknya penggemar bola tanah air belum bisa berharap banyak untuk prestasi Timnas Sepakbola Indonesia senior di tingkat dunia. Karena untuk level Asia Tenggara saja, Indonesia masih sulit mengalahkan Malaysia, Thailand, dan Vietnam. Yang terkini, Indonesia kalah di kandang sendiri dari Malaysia 2-3, untuk kualifikasi Piala Dunia 2022 Qatar.

Sementara ini Indonesia baru bisa berharap di kelompok umur hingga U-19 dulu, itupun masih di level Asia Tenggara. Sebab untuk naik di level Asia, Indonesia masih sulit menembus dominasi ras bambu seperti Jepang, Korea, dan China. Belum lagi hadangan negara-negara Timur Tengah, dan negara pecahan Uni Soviet.

Ada beberapa kelemahan mendasar yang puluhan tahun belum pernah bisa diperbaiki. Pertama faktor stamina yang tak bisa main spartan selama 90 menit. Kedua, sering kesulitan saat menghadapi bola-bola mati atau bola service. Ketiga kerap membuat pelanggaran tak penting, bahkan di sekitar area 16 meter yang menjadi jarak tembak ideal.

Keempat. Tak memiliki mental juara dan daya juang yang tinggi, sehingga bila poinnya terkejar mudah sekali drop mentalnya. Kelima faktor komunikasi di lapangan yang kerap menjadi keluhan para pelatih. Para pemain tidak teriak atau diam, hingga terkadang timbul salah pengertian dalam menerima atau antisipasi lawan.

Keenam. Saat bertahan tidak melihat pergerakan lawan tanpa bola, atau lebih fokus melihat ke bola saja. Ketujuh. Sering salah passing, padahal untuk pemain nasional itu jelas fatal, dan beberapa pemain terlalu lama membawa bola, atau sebaliknya terlalu cepat mengalirkan bola karena panik.

Semua ini jelas karena produk kompetisi yang belum menjadi industri sepakbola modern dan profesional. Padahal potensi Indonesia sangatlah besar, ditambah bakat-bakat alam dari wilayah Indonesia Timur, khususnya Papua. Dengan kondisi ini, berapa kali pun pelatih nasional diganti, selama iklimnya masih seperti ini, pastilah akan tetap stagnasi. Terlebih bila pelatihnya bukan orang yang paham budaya sepakbola Indonesia.

Karenanya hanya reformasi total di tubuh PSSI melalui penggantian semua pengurus dengan insan yang paham betul akan sepakbola modern, namun sudah selesai dengan dirinya sendiri. Jadi bukan pengurus yang mencari makan dari PSSI. Utamanya untuk posisi Ketua Umumnya. Sehingga harapan menuju Piala Dunia Indonesia Australia 2034, dan bidding Piala Dunia U-20 Indonesia bisa terwujud, atau lupakan untuk selamanya bila tak direformasi.

"Dua hal yang tak bisa diremehkan adalah masalah sistem pengamanan, karena supporter bola Indonesia rawan kerusuhan seperti yang terjadi kemarin, yang tentu sangat memalukan dan akan berpengaruh kepada penilaian FIFA saat bidding. Kedua, stop naturalisasi pemain asing, kecuali ia masih keturunan darah Indonesia, dan berusia maximal 23 tahun."

Salam olahraga..

APBD DKI Serapan anggaran DKI tahun 2018 lebih rendah dari tahun 2017. Pada 2017, serapan APBD mencapai 82,60 persen ata...
17/08/2019

APBD DKI

Serapan anggaran DKI tahun 2018 lebih rendah dari tahun 2017. Pada 2017, serapan APBD mencapai 82,60 persen atau 0,57 persen lebih tinggi dari serapan 2018. Di tahun 2018, beberapa belanja publik gagal dieksekusi.

Ada 16 puskesmas dan 93 sekolah yang gagal dibangun dan diperbaiki. Selain itu, ada lima rusun yang dicoret karena salah skema pembiayaan. Prasarana umum seperti jembatan penyeberangan orang (JPO), hanya terealisasi dua dari 10 yang sudah dianggarkan. Begitu p**a 40 JPO yang sudah memprihatinkan kondisinya di seluruh Jakarta, belum diperbaiki di tahun 2018.

Tahun 2019 ini sampai dengan juli baru 33,5 persen serapan anggaran. Sekarang DKI membuat rencana dan plafon anggaran berikutnya mendekati Rp. 100 triliun. Dahsyat.!

Berkaitan dengan APBD bahwa semakin besar APBD dan serapan anggaran, semakin berprestasi Pemda itu. Kalau dari kacamata pengusaha, saya tidak sependapat. Tapi saya juga tidak setuju kalau anggaran yang ada tidak bisa diimpelemtasikan. Itu artinya kualitas perencanaan rendah. Menunjukan team tidak punya visi dan kreatifitas menyelesaikan agendanya.

Nah karena PEMDA itu bukan perusahaan, maka kita tidak bisa melihat realisasi anggaran dan besaran anggaran sebagai indikator prestasi PEMDA. Mengapa? Kalau melihat besaran APBD yang ada, itu lebih banyak politik, sebagai warisan dari gaya pemerintah era Soeharto yang sampai sekarang masih ada itu.

Saya s**a dengan gaya Ahok. Dia tahu bahwa APBD itu produk politik, dan orientasinya pastilah kompromi antara DPRD dan Gubernur. Ahok tidak mau kompromi. Caranya? Dia ikuti saja plafon APBD yang sudah ada aturannya. Terserah DPRD mau setuju atau tidak. Kalau DPRD setuju maka dalam realisasi APBD, Ahok tidak focus gimana menghabiskan anggaran agar realisasi tinggi. Tetapi focus meningkatkan kinerja berdasarkan anggaran.

Kalau bisa keluar uang 10, kenapa harus keluar 100. Kalau karena itu realisasi rendah, ya biarian aja. Toh uang APBD tidak hilang. Itu akan jadi SILPA. Istilah Ahok, penghematan Anggaran. Kalau karena itu p**a kinerjanya dianggap buruk sesuai Peraturan pemerintah, Ahok juga tidak peduli.

Tetapi dengan realisasi anggaran yang rendah, Ahok bisa meningkatkan kinerja 3 kali dari realisasi APBD yang ada, bahkan lebih baik dari Gubernur sebelumnya. Program ala PINA (Pembiayaan Investasi non Anggaran) dibuatnya dengan kebijakan keras.

Para pengembang yang berhutang Fasum, dia kejar. Diapun menciptakan berbagai skema agar developer tidak punya alasan ngemplang utang fasum. Hasilnya adalah pembanguan sarana umum terjadi secara meluas. Diapun menerapkan eTax untuk mendukung realisasi PAD, dan ini tidak ada ruang bagi aparat PEMDA mau main main.

PAD pun meningkat sehingga daya dukung APBD semakin besar untuk intervensi sosial seperti program kesehatan, bantuan biaya sekolah anak didik.

Bagaimana Ahok bisa seperti itu? Pertama, dia sangat kuasai hal tekhnis pembangunan. Kedua, dia sangat paham sistem birokasi. Ketiga, karena itu dia punya kebijakan ampuh yaitu mengenai index minimal TKD yang harus dicapai oleh setiap pejabat PEMDA.

Kesalahan Anies adalah mengubah Pergub era Ahok tentang TKD (Tunjangan Kinerja Daerah), yang berdampak hilangnya daya saing dan kompetensi setiap pejabat di DKI. Kembali kebijakan dan kinerja diukur secara kolektif, dan karenanya APBD berpotensi dibancakin. Realisasi APBD, rendah kualitas kinerjanya dan lebih banyak tidak langsung dirasakan oleh rakyat.

Saran saya kepada Anies, kembalikan aturan TKD seperti era Ahok dan awasi dengan ketat. Kalau engga paham, antum punya Tim Gubernur Untuk Percepatan Pembangunan (TGUPP). Manfaatkan itu. Mereka kan dibayar mahal. Itu uang rakyat loh.

Babo EJB

MENAFSIR INDONESIAApa yang terpikir dalam benak soal negara kita? Apa yang kita lihat? Apa yang kita rasakan? Itulah Ind...
17/08/2019

MENAFSIR INDONESIA

Apa yang terpikir dalam benak soal negara kita? Apa yang kita lihat? Apa yang kita rasakan? Itulah Indonesia menurut kita. Berbagai wajah Indonesia muncul karena persepsi dan cara pandang kita.

Sama seperti gambaran sosok Tuhan yang berdasarkan persepsi kita, wajah Indonesia kemudian kita benturkan dengan wajah yang digambarkan orang lain.

SIMPULAN KITA

Dialektika pemikiran muncul yang kadang memberi kesimp**an bersama. Atau malahan yang muncul adalah sepakat untuk tidak sepakat. Semuanya memunculkan garis demarkasi antara jawaban atas pertanyaan : Apakah Indonesia kita sudah maju?

Jawaban atas semua itu ada pada diri kita masing-masing. Apakah Indonesia masih berarti buat kita. Ataukah Indonesia bukan lagi rumah kita yang dihancurkan saja.

Menafsir Indonesia dengan demikian berp**ang pada pribadi rakyatnya masing-masing. Yang muncul jelas di setiap peringatan tujuh belasan lewat perilaku kelompok yang sangat khas Indonesia.

MERAMPAS KEMERDEKAAN

Peringatan kemerdekaan membuat kemerdekaan orang lain dirampas. Jalan-jalan ditutup karena ada pesta rakyat seharian. Memaksa orang lain menggerutu di hari kemerdekaan.

Tapi apa yang bisa kita lakukan dengan perampasan kemerdekaan selama seharian itu?

Kita secara umum menerima ini sebagai bagian takdir sebagai orang Indonesia. Kita penuh maklum dengan karakter bangsa ini yang menyenangi perilaku gerombolan untuk menindas yang lebih kecil hingga lemah.

Yang lemah seperti biasa menyingkir dari keserakahan kelompok. Mereka susah payah mencari jalan p**ang ditengah masifnya penutupan jalan-jalan utama sampai gang-gang di kampung. Yang tengah euphoria perayaan kemerdekaan.

Itulah sebenarnya cara kita sehari-hari menyiasati hambatan. Untuk kembali p**ang. Kembali pada jati diri kita sendiri.

FATAMORGANA

Merayakan dan menafsirkan kemerdekaan dengan merampas kemerdekaan orang lain, perlahan menjadi sikap bangsa ini yang tengah meneroka abad yang penuh dengan kejutan revolusi digital dan internet yang meluber ke media sosial.

Kita sekarang ini sedang dalam posisi gegar budaya yang membuat kita bingung, marah serta pesimis. Saat ini sudah tidak ada lagi pembedaan antara dunia maya dengan dunia nyata. Keduanya sudah melebur hingga mempengaruhi perilaku kehidupan keseharian kita.

Hingga kadang kita melihat Indonesia makmur seperti fatamorgana.

ABAI

Begitu banyak postingan media sosial yang penuh hujatan dan kontroversi memperbesar prasangka dan persepsi kita melihat benturan dashyat akibat revolusi digital.

Dalam keadaan ini posisi kita justru sedang memerangi diri kita sendiri. Kita lebih sering terlihat emosional dan berfikiran pendek gara-gara postingan di media sosial. Kita mencampakkan akal sehat kita.

Kita seolah tidak berdaya menyaksikan penceramah dobol yang jumawa soal salib. Kita marah karena sangkaan kita disangkal keras oleh lembaga yang berwibawa. Kita terbawa dan berkelahi di dunia nyata hanya karena saling merasa benar atas posisi kita di media sosial.

Keadaan dan suasana jiwa yang serba gelisah ini membuat kita rancu dalam menafsirkan Indonesia. Kita memandang Indonesia mundur kebelakang karena pemikiran kita sendiri tapi abai melihat sisi cerah bangsa ini.

PUNCAK EMAS

Sejatinya bangsa ini akan terus menggilas orang-orang yang pesimis dengan derap langkah ribuan mereka yang kini menyibukkan diri dengan mencipta dan berkarya di ruang-ruang kantor cyber berkecepatan internet tinggi bertarif sewa murah karena bisa dibayar jam-jaman atau harian.

Merekalah yang sudah dan akan menjadi tulang punggung kemajuan bangsa kita diabad digital. Mereka anak-anak muda. Yang cinak, bukan cinak , Kristen, Buddha, Hindu dan yang berjilbaban serta jenggotan.

Yang sadar bahwa berkah digital akan menggilas segenap pesimisme, jualan kontroversi di media sosial lewat kemakmuran yang nyata.

Mereka wajah kebhinekaan Indonesia yang sebenarnya. Yang menjauh dari saling sahut kejam di media sosial.

Mereka bahagia dengan diri mereka. Mencetak uang dan memakmurkan diri mereka dan keluarganya. Mereka paham bahwa abad digital yang nyawanya adalah pengolahan data adalah sumber harta yang tidak habis-habisnya meski sudah menghasilkan milyaran dollar masuk ke kantong-kantong mereka.

Mereka sama dengan diaspora Indonesia diperbaiki penjuru dunia.

Mereka sama dengan sekelompok bersahaja yang berjaya di desa dan kota kecil mereka.

Mereka sama yang pekerja kantoran, pabrikan yang lebih mementingkan kerja nyata ketimbang menghabiskan waktu dengan perang kata di dunia maya.

Dan ketika mereka melanglang buana selalu jatuh air matanya ketika menyanyikan Indonesia Raya. Mereka berduyun-duyun memenuhi kedutaan Indonesia mengikuti upacara peringatan kemerdekaan dengan penuh khidmat.

Itulah cara mereka menafsir kemerdekaan bangsanya. Yang menghindari perilaku merampas kemerdekaan untuk kemerdekaan mereka sendiri.

INDONESIA RUMAH KITA

Kita yakin Indonesia akan maju dan menyingkirkan perilaku perampasan kemerdekaan melalui karya-karya kita secara individual. Yang dipastikan akan menjadi jutaan puncak emas yang menopang kejayaan Indonesia.

Yang bermanfaat. Yang memberikan semangat berbagi. Yang makin makmur dan yang berhasil menebas habis intoleransi. Yang memberi keyakinan kuat keberhasilan kita adalah keberhasilan Indonesia juga

Hingga kita akan senantiasa meneteskan air mata dengan mulut bergetar ketika melantunkan bait syair Tanah Air ku.

Dimana kita sadar bahwa meski kita pergi jauh, Indonesia tidak pernah kita lupakan. Tidak akan hilang dari kalbu karena Indonesia adalah tanah air yang kita cintai.

Tetes air mata kita membuktikan optimis kita bahwa Indonesia adalah rumah kita yang sebenarnya.

Bukan agama kita atau suku bangsa kita.
Budi Setiawan
Credit foto : Dame Ambarita/sumutpos.co

Address

Surabaya

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when SatuSuara posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share