24/05/2025
BARANGNYA MANA?
๐๐ญ๐ฆ๐ฉ: ๐๐ฆ๐ณ๐ณ๐บ ๐๐ซ๐ข๐ฉ๐ซ๐ฐ๐ฏ๐ฐ
Ada jenis keraguan yang bukan lagi bernuansa pencarian, melainkan menjadi profesi. Kita menyaksikan satu sosokโyang dulunya pernah diberi kepercayaan publik, meski tak hafal lagu kebangsaan, mantan pejabatโnamun kini menjelma menjadi โmantan yang tak mau selesai.โ Ketika kebenaran telah diumumkan oleh otoritas resmiโBareskrim Polri, bahwa Ijazah Jokowi ๐ฎ๐๐น๐ถโorang ini masih saja ๐ธ๐ข๐ต๐ฐ๐ฏ ๐ฏ๐จ๐ฆ๐บ๐ฆ๐ญ bertanya dengan nada setengah nyinyir: "Barangnya mana?"
Bukan ingin tahu, tapi ingin menyangkal.
๐ฃ๐๐ถ๐ธ๐ผ๐น๐ผ๐ด๐ถ ๐ฑ๐ฎ๐ฟ๐ถ ๐๐๐ธ๐ฎ ๐๐ฎ๐ป๐ด ๐ง๐ฎ๐ธ ๐ ๐ฎ๐ ๐ฆ๐ฒ๐บ๐ฏ๐๐ต
Psikologi sosial menyebut ini sebagai ๐ค๐ฐ๐จ๐ฏ๐ช๐ต๐ช๐ท๐ฆ ๐ฅ๐ช๐ด๐ด๐ฐ๐ฏ๐ข๐ฏ๐ค๐ฆ (Leon Festinger, ๐ ๐๐ฉ๐ฆ๐ฐ๐ณ๐บ ๐ฐ๐ง ๐๐ฐ๐จ๐ฏ๐ช๐ต๐ช๐ท๐ฆ ๐๐ช๐ด๐ด๐ฐ๐ฏ๐ข๐ฏ๐ค๐ฆ).
Teori ketegangan batin saat realitas menghantam keras dinding keyakinan pribadi. Dalam keadaan ini, banyak orang memilih menyangkal kebenaran daripada membongkar ulang bangunan keyakinan yang telah lama dihuni.
Namun dalam dosis kronis, disonansi ini bisa melahirkan ๐ฅ๐ฆ๐ญ๐ถ๐ด๐ช๐ฐ๐ฏ๐ข๐ญ ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ด๐ช๐ด๐ต๐ฆ๐ฏ๐ค๐ฆ (Albert Ellis secara tidak langsung membahas bentuk irasionalitas ini)โketika seseorang mempercayai sesuatu begitu kuat, hingga seluruh fakta yang berlawanan dianggap sebagai bagian dari konspirasi. Di sinilah muncul apa yang bisa kita sebut sebagai โpenyebar kabutโโmereka yang tak hanya tersesat, ๐ต๐ข๐ฑ๐ช ๐ช๐ฏ๐จ๐ช๐ฏ ๐ฐ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐ญ๐ข๐ช๐ฏ ๐ช๐ฌ๐ถ๐ต ๐ต๐ฆ๐ณ๐ด๐ฆ๐ด๐ข๐ต ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ด๐ข๐ฎ๐ข๐ฏ๐บ๐ข.
Ditambah lagi dengan ๐ค๐ฐ๐ฏ๐ง๐ช๐ณ๐ฎ๐ข๐ต๐ช๐ฐ๐ฏ ๐ฃ๐ช๐ข๐ด (Ray Nickerson)โkecenderungan menyerap hanya informasi yang cocok dengan narasi pribadiโmaka kebenaran bukan lagi soal bukti, melainkan soal loyalitas pada versi yang sudah terlanjur diyakini.
Dan ketika emosi menjadi bahan bakar: dendam, kekecewaan, gengsi yang mengeras, maka disonansi itu bisa menjadi ๐ฆ๐ฑ๐ช๐ฅ๐ฆ๐ฎ๐ช ๐ด๐ฐ๐ด๐ช๐ข๐ญ.
๐ ๐ฒ๐ป๐๐น๐ฎ๐ฟ ๐๐ฒ๐๐ฎ๐ ๐๐บ๐ผ๐๐ถ
Semua fenomena tersebut berbahaya, sekaligus menular. Dalam dunia digital, satu suara sumbang bisa menjadi simfoni kebingungan. Bukan karena kebenarannya kuat, tapi karena nadanya terus diulangโhingga menggoyahkan mereka yang rapuh, ragu, atau tak sempat mencerna.
Dalam sosiologi, fenomena ini dikenal sebagai ๐ฎ๐ฐ๐ณ๐ข๐ญ ๐ฑ๐ข๐ฏ๐ช๐ค (Stanley Cohen, ๐๐ฐ๐ญ๐ฌ ๐๐ฆ๐ท๐ช๐ญ๐ด ๐ข๐ฏ๐ฅ ๐๐ฐ๐ณ๐ข๐ญ ๐๐ข๐ฏ๐ช๐ค๐ด: ๐๐ฉ๐ฆ ๐๐ณ๐ฆ๐ข๐ต๐ช๐ฐ๐ฏ ๐ฐ๐ง ๐ต๐ฉ๐ฆ ๐๐ฐ๐ฅ๐ด ๐ข๐ฏ๐ฅ ๐๐ฐ๐ค๐ฌ๐ฆ๐ณ๐ด): keresahan yang dibentuk oleh hasutan kolektif, bukan oleh kebenaran. Media sosial mempercepatnya. Suara-suara sinis saling menyambut dalam gema algoritma, menjelma jadi orkestrasi ke(curiga)an. Yang awalnya hanya satu pertanyaan retorisโ"Barangnya mana, atau Mana Barangnya?"โberubah menjadi insinuasi yang menyulut, seolah kecurigaan itu adalah bentuk kecerdasan.
Padahal, yang sedang dimainkan bukanlah logika, melainkan ilusi kendali atas narasi yang telah lepas dari genggaman.
๐๐ฒ๐๐ถ๐ธ๐ฎ ๐ฅ๐ฎ๐๐ฎ ๐ ๐ฎ๐น๐ ๐ง๐ฎ๐ธ ๐๐ฎ๐ด๐ถ ๐๐ฎ๐ฑ๐ถ ๐ฅ๐ฒ๐บ ๐ฆ๐ผ๐๐ถ๐ฎ๐น
Dalam tradisi Timur, ada etika bernama tahu diri. Nilai ini mengajarkan bahwa ada saatnya seseorang memilih diam, bukan karena tak punya suara, tetapi karena suara yang akan keluar hanya akan menambah kebisingan. Namun kini, rasa malu telah digantikan oleh ego yang lapar akan relevansi. Semakin tak punya isi, semakin keras bicara.
Orang yang kehilangan rasa malu bisa menjadi "bahaya yang menyebar dengan diam-diam". Seperti asap dari api yang tak terlihat, ia masuk ke celah logika masyarakatโdan perlahan-lahan, membuat kebenaran tampak seperti opini belaka.
๐ ๐ฒ๐ป๐ท๐ฎ๐ฑ๐ถ ๐ฅ๐๐ฎ๐ป๐ด ๐๐ฒ๐ป๐ถ๐ป๐ด
Kadang, kita tidak sedang berhadapan dengan argumen, tapi dengan luka yang belum selesai. Dan luka yang dipelihara terlalu lama, akan berubah jadi identitas. Dalam keadaan seperti itu, mengajak bicara pun menjadi tugas sunyi: karena logika tak lagi berfungsi, dan setiap fakta dianggap ancaman.
Apa yang dibutuhkan bangsa ini bukanlah lebih banyak penggugat, tapi lebih banyak penjernih.
Bukan mereka yang mempertanyakan segalanya demi sorotan, tapi mereka yang berani diam demi integritas.
Dan jika masih ada yang bertanya:
"Barangnya mana?"
Barangkali kita tak perlu lagi menunjukkan dokumenโcukup kita sodorkan cermin.
Agar siapa pun yang melihat,
tak hanya melihat kebenaran,
tapi juga melihat dirinya sendiri.
Dan seperti yang diajarkan oleh sejarah dan para pendidik batin: kadangโkita tidak bisa menyembuhkan orang yang menolak disembuhkan. ๐๐ข๐ฑ๐ช ๐ฌ๐ช๐ต๐ข ๐ฃ๐ช๐ด๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ซ๐ข๐จ๐ข ๐ข๐จ๐ข๐ณ ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ช๐ฌ๐ถ๐ต ๐ต๐ฆ๐ณ๐ต๐ถ๐ญ๐ข๐ณ. ๐๐ช๐ต๐ข ๐ฃ๐ช๐ด๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ซ๐ข๐ฅ๐ช ๐ณ๐ถ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ช๐ฏ๐จ, ๐ต๐ฆ๐ฎ๐ฑ๐ข๐ต ๐ฐ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐ญ๐ข๐ช๐ฏ ๐ฃ๐ช๐ด๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ญ๐ช๐ฉ๐ข๐ต ๐ค๐ฆ๐ณ๐ฎ๐ช๐ฏ.
***