Pura Luhur Pucak Bukit Rangda

Pura Luhur Pucak Bukit Rangda Halaman Pura Luhur Pucak Bukit Rangda berusaha memberikan informasi yang diperlukan pemedek.
(1)

04/04/2026

Majeng ring SEMETON PEMEDEK

Terima kasih banyak untuk penggemar baru saya yang sedang naik daun! Githa Suryani
03/01/2026

Terima kasih banyak untuk penggemar baru saya yang sedang naik daun! Githa Suryani

07/12/2025

Tribun Bali

Sembahyang Piodalan di Pura Luhur Pucak Bukit RangdaSembahyang di Pura Luhur Pucak Bukit Rangda selalu membawa sesuatu y...
30/11/2025

Sembahyang Piodalan di Pura Luhur Pucak Bukit Rangda

Sembahyang di Pura Luhur Pucak Bukit Rangda selalu membawa sesuatu yang sulit dijelaskan: seperti angin yang datang pelan, menyapu lelah yang tak terlihat,
atau cahaya pura yang seolah membelai hati dengan keheningan yang suci.

Namun hari itu bukan hanya tentang menundukkan kepala dan merangkai doa.
Ada sesuatu yang ikut pulang bersama kami—kehangatan perjumpaan.

Di sela wangi d**a dan nyanyi kidung, langkah kami dipertemukan kembali dengan wajah-wajah lama:
teman yang pernah berjalan seiring, sahabat yang dulu ada di titik-titik penting hidup, orang-orang yang pernah tertawa bersama namun lama tak bersua.

Simakrama itu mengalir seperti air suci: bening, tulus, dan membawa segar pada jiwa.
Setiap salaman adalah jembatan kecil yang menghubungkan masa lalu dan masa kini.
Setiap senyum adalah pengingat bahwa persaudaraan tidak pernah benar-benar hilang—hanya tertidur menunggu kita membangunkannya kembali.

Di pura itu, doa-doa kami naik ke angkasa, dan cerita-cerita lama turun kembali ke hati.
Sembahyang memberi ketenangan, Simakrama memberi kehangatan. Dua hal yang menyatu,
seperti d**a dan nyala api yang tak bisa dipisahkan.

Piodalan hari itu bukan sekadar ritual,
melainkan perjalanan batin: menghaturkan sembah bakti ke hadapan Hyang Widhi, dan menghaturkan senyum tulus kepada sesama.

Di puncak bukit, kami pulang dengan hati yang lebih penuh,
lebih ringan,
lebih hidup.

15/06/2025

Om Swastyastu
Rahajeng wengi Semeton Pemedek Pura Luhur Pucak Bukit Rangda sinamian.

Sehubungan hari ini tepat 8 tahun kehadiran kami di facebook. Mohon memberikan masukan dan saran konstruktif demi kebaikan dan kemajuan kita bersama. Suksema

15/06/2025

Merayakan tahun ke-8 saya di Facebook. Terima kasih atas dukungan berkelanjutan. Saya tidak mungkin berhasil tanpa Anda semua. 🙏🤗🎉

28/01/2024

Tirtayatra Sebagai Yajna Utama

Banyak bentuk yadjna yang telah dilaksanakan oleh umat Hindu dengan tanpa disadari karena dilaksanakan dengan niskarma karma (dilakukan tanpa pamrih, dilakukan tanpa mengikatkan diri akan hasil), karma yang demikian disebut dengan karma (perbuatan) sebagai persembahan kepada Tuhan, yang biasa disebut dengan yajna (korban suci) seperti: Dewa Yajna, Resi Yajna, Pitra Yajna, Manusa Yajna dan Bhuta Yajna.

Tirtayatra sebenarnya sudah banyak dilakukan umat Hindu sejak dulu dan sejalan dengan kemajuan serta meningkatnya kesejahteraan maka tempat suci yang dikunjunginya semakin meluas serta umat mulai menyadari, bahwa tirtayatra sebagai salah satu cara melakukan yajna (korban suci) yang paling mudah karena dapat dilaksanakan oleh setiap umat Hindu termasuk orang miskin sekalipun.

Dalam petuah Bhagawan Waisampayana kepada Maha Raja Janamejaya yang disarikan oleh Bhagawan Wararuci memang jelas disebutkan. Melakukan tirtayatra dianggap lebih utama dari pada melakukan yajna sebagaimana dimuat dalam Sarasamuscaya (Himpunan intisari karya Bhagawan Byasa) pada Sloka 279 disebutkan "Sada daridrairrapi hi cakyam praptum nardhipa tirthabhigamanam punyam yajnerapi wicisyate" dalam bahasa Kawi (Jawa Kuna) diterjemahkan sebagai berikut "Apan mangke kottamning tirthayatra, atyanta pawitra, Iwih sangkeng kapawananing yajna, wenang ulahakena ring daridra". Artinya adalah begitu keutamaan tirthayatra, amat suci, lebih utama dari pada pensucian dengan yajna (yadnya), dapat dilakukan oleh daridra (orang miskin) sekalipun.

Pengertian dan Tujuan Tirtayatra

Yang dimaksud dengan tirtayatra adalah niat tulus untuk mengunjungi tempat-tempat suci atau tempat bersejarah dan tempat-tempat lain yang dikeramatkan. Tirtayatra bertujuan untuk melihat dari dekat tempat bersejarah untuk menyaksikan secara nyata tempat-tempat penting dalam pertumbuhan dan perkembangan agama Hindu, agar dapat mempertebal Panca Sradha (lima keyakinan) dan kebenaran terhadap sejarah perkembangan ajaran Hindu.

Untuk meyakini sesuatu, kita (penganut Hindu) telah memiliki cara yang disebut dengan Tri Premana (tiga cara) yaitu: Agama Pramana yang dimaksudkan adalah bahwa kita meyakini adanya sesuatu berdasarkan atas informasi yang kita terima dari pelajaran yang diberikan oleh para guru/para ahli atau cerita-cerita dari orang-orang suci yang telah lebih dahulu mengalami yang kita percayai;
Anumana Pramana yaitu kita meyakini sesuatu atas dasar hasil analisa akan suatu penomena baik alam, flora, fauna dll;
Pratyaksa Pramana dimana kita meyakini sesuatu atas dasar penglihatan langsung atau pengalaman pribadi yang tiap-tiap orang tidaklah sama pengalaman spiritualnya.

Selama melaksanakan tirtayatra (perjalan suci) para yatri (peserta) akan mendengarkan cerita-cerita mengenai tokoh sejarah atau tempat yang dikunjungi (Sravanam), pada saat tertentu juga turut menyanyikan kidung suci keagamaan atau menyebut-nyebut nama Tuhan berulang-ulang (kirtanam), dalam perjalanan selalu mengingat Tuhan dengan segala manifestasinya (Smaranam), melakukan pemujaan di beberapa, Pura atau Mandir (Arcanam), juga ada kesempatan membaca cerita-cerita suci keagamaan atau sloka-sloka kitab suci (Wandanam), selalu berusaha mengabdi kepada Tuhan dengan jalan mengekang rasa ego atau ahamkara (Dasyam), ada juga yang melakukan pemujaan dengan merebahkan diri tertelungkup di hadapan yang dipuja, Tuhan dilambangkan amat agung, cara ini dikenal dengan istilah "memuja kaki padma Tuhan" (Padesevanam). oleh karena kegiatan itulah melakukan tirtayatra dianggap sungguh-sungguh utama.

Termasuk sebagai Tempat Suci menurut Hindu.

Dalam kitab Sarasamuscaya secara umum disebut tempat suci adalah Pura (Temple, Kuil, Candi), tempat-tempat lain seperti: Campuhan (pertemuan air laut dengan sungai atau pertemuan dua sungai atau lebih), Mata Air, Gunung, Sungai dan Danau yang di tiap-tiap pulau pasti ada Petirtaan (tempat pensucian atau petilasan).

Menurut kitab-kitab Purana tempat pensucian yang dijadikan tempat pelaksanaan Kumbha Mela (upacara penyucian diri dengan cara mandi) yaitu: Allahabad (Prayag), Haridwar, Awanti dan Nasik. Di 4 (empat) tempat tersebut diyakini sebagai tempat tercecernya titha amertha (air kehid**an) saat para Dewa merebutnya dari tangan-tangan para Danawa.

Selain tempat tersebut ada beberapa kota suci lagi di India yang dijadikan tujuan dari para Yatri (orang yang melakukan tirtayatra) yaitu tempat-tempat yang dikenal dengan sebutan Moksa Puri atau Sapta Puri yaitu: Ayodya, Mathura, Haridwar, kasi (Varanasi sekarang disebut Benares), Kanchipuram, Ujjain dan Dwaraka.

Masih banyak lagi tempat-tempat penting dalam sejarah perkembangan agama Hindu seperti lembah Sungai Sindhu (tempat para Rsi menerima wahyu), Jyotisar (tempat yang diyakini, bahwa di tempat tersebut untuk pertama kalinya Sri Kresna, memberikan wejangan suci kepada Arjuna), Hutan Tulasi (tempat masa kecil Sri Kresna), lapangan Kuru Ksetra (tempat terjadinya perang Mahabaratha), Gunung Citrakuta tempat pengembaraan Sri Rama, Gunung Kaelasa dll.

Melakukan tirtayatra bukanlah perjalanan biasa untuk mengkeramatkan tempat-tempat tersebut, tetapi untuk menambah keyakinan akan kebenaran ajaran Hindu dan meningkatkan rasa bhakti, mengagumi kemahakuasaan serta kebesaran Tuhan, kemanapun dan dimanapun kita memuja atau menyembah tetap ditujukan kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan segala manifestasinya (Ista Dewata) menurut cara masing-masing, selalu menghormat kepada: para Rsi, leluhur yang telah mendahului kita, sebagai sesama Manusia dan Bhuta (mahluk lain), sehingga tercipta hubungan yang tetap harmonis antara kita sesama Manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa (Sang Pencipta), antara manusia dengan alam lingkungan tempat kita hidup dan berkembang (Tri Hita Karana).

Sumber: Rauh Ariawan l Warta Hindu Dharma NO. 418 Desember 2001

Semeton Pemedek sareng sinamian, tiyang ngaturang:
14/01/2023

Semeton Pemedek sareng sinamian, tiyang ngaturang:

Dudonan Pujawali Pura Luhur Pucak Bukit Rangda. Saniscara, Kliwon, Kuningan, 14 Januari 2023:
12/01/2023

Dudonan Pujawali Pura Luhur Pucak Bukit Rangda. Saniscara, Kliwon, Kuningan, 14 Januari 2023:

Address

Jalan Banjar Surabrata, Desa Lalanglinggah, Kecamatan Selemadeg Barat
Tabanan
82162

Telephone

+628573345567

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Pura Luhur Pucak Bukit Rangda posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Organization

Send a message to Pura Luhur Pucak Bukit Rangda:

Share