12/11/2021
Selamat Hari Ayah Nasional 12 November 2021
Ayah Sang Pendidik Peradaban
Oleh : Atik, Ummu Furqan
Tahun 2017 Indonesia dinobatkan sebagai negara peringkat ke-3 yang termasuk dalam βFatherless countryβ, Negeri tanpa Ayah. Bukan disebabkan banyaknya anak yatim, melainkan karena para Ayah enggan untuk turut mendidik serta memperhatikan tumbuh kembang anak-anaknya.
Hal ini juga didukung oleh fenomena semakin cepatnya anak-anak baligh, namun terlambat aqil.
Anak cepat baligh sebab over nutrisi dan stimulasi, sedangkan anak terlambat aqil karena kurangnya peran Ayah dalam mendidik anak.
Padahal, di dalam AlQuran, ada 17 ayat tentang pendidikan anak.
14 dari 17 ayat tersebut pelakunya adalah Ayah
2 dari 17 ayat tersebut pelakunya adalah ibu
1 dari 17 ayat tersebut pelakunya adalah keduanya.
Tokoh-tokoh pendidik yang kita temui dalam AlQuran, semisal Lukmanul Hakim, Ibrahim, Imran, Yakub, Zakaria ternyata semuanya adalah lelaki.
Di akhirat nanti yang akan ditanyai tentang anak-anak adalah Ayah. Ibu memang letih di dunia berperan sebagai eksekutor pendidikan, namun kepala sekolah atau penanggung jawabnya adalah Ayah. Teladan utama adalah Bapak.
Seorang Ayah yang tidak ikut mendidik anaknya ketika kecil, terancam tidak mendapatkan doa anak shalihnya. Mengapa? Sebab kata Rabbayani, dalam redaksi doa yang mahsyur itu, akar katanya berasal dari al-tarbiyah, Rabba-Yurabbi-Tarbiyyatan. Kata tersebut bermakna: pendidikan, pengasuhan dan pemeliharaan. 'Rabbighfirlii waliwaalidayya, warhamhuma k**a Rabbayani shagiira- Ya Rabb, ampunilah aku dan kedua orang tuaku serta rahmatilah keduanya sebagaimana mereka mendidikku di waktu kecil.
Sebagaimana keduanya mendidikku di waktu kecil, kalimat ini menjadi sebuah pengingat bagi Ayah, bahwa sebagaimana kualitas ia mendidik anaknya ketika kecil, seperti itulah kasih sayang Allah akan tercurah padanya kelak.
Lelaki muslim boleh menikahi perempuan ahli kitab, sebab seorang Ayahlah yang berkewajiban mendidik anaknya menjadi muslim.
Seorang Ayah kelak mampu menjadikan anaknya Yahudi, Nasrani, Majusi atau Muslim. Ayahlah yang kelak akan ditanyai kenapa anak gadisnya keluar tak menutup aurat.
Bagaimana cara Ayah mendidik anak, sementara ia sudah disibukkan dengan tanggungjawab mencari nafkah? Dalam sebuah kajian tentang peran Ayah, Ustaz Aad- seorang Psikolog dan konsultan pendidikan, menyampaikan bahwa pertama sekali seorang Ayah harus menjadi perancang visi dan misi keluarga, serta garis-garis besar haluan keluarga. Mau dibawa ke mana keluarganya? Ayahlah sang penentu arah dan tujuan keluarga.
Kemudian, Ayah bisa memanfaatkan modalitas pendidikan yang dimilikinya, yakni :
1. Nafkah : Anak-anak, ketika butuh uang dia akan tunduk kepada pemberi uang. Ayah karena pemberi nafkah, anak tunduk kepadanya.
2. Ego : Ayah punya ego dan ibu punya nego.
Ayah bisa keukeuh dengan prinsip dan bisa tegas mengatakan 'tidak' sementara ibu bisa dinego oleh anak-anaknya. Sebab ibu adalah pendidik sosiabilitas yang cenderung mengatakan jangan berkelahi, yang akur dst.
3. Wibawa dan Kepemimpinan: Lelaki dominan egonya. Maunya dituruti sehingga tidak mau anak-anak melawannya. Maka Ayah punya power dalam mendidik. Sang Pendidik Ego adalah Ayah.
4. Bakat yang diturunkan dan diwariskan: ketika melihat anaknya, Ayah seolah melihat dirinya sendiri, sebab kelakuan diturunkan dan diwariskan dari sang Ayah.
5. Hati: Ayah yang mendidik dengan hati akan dicintai anak-anaknya. Bahwa iman itu letaknya di hati dan mendidik iman adalah mendidik hati anak-anaknya. Mendidik iman adalah tugas seorang Ayah.
6. Doa: Lelaki banyak berjalan (musafir) dan doa musafir itu maqbul, maka Ayah punya modalitas untuk mendoakan kebaikan bagi anak-anaknya. Doa untuk anak yang sering kita baca adalah doa nabi Ibrahim.
7. Media komunikasi : Lelaki itu multi solution sementara perempuan multi tasking. Maka peran pendidikan harus ada pada Ayah.
Hendaknya anak tidak sekadar dididik dengan kecerdasan sosial, tetapi mesti dididik dengan ego juga. Anak harus berani mengatakan 'tidak'. Berani tampil beda dan tegas.
Agar muncul anak-anak yang berani mengatakan TIDAK pada hal-hal yang salah, negatif, terlarang agama dan tidak sejalan dengan norma. Bukankah dalam berakidah, kita juga dididik untuk berani mengatakan tidak? 'Tidak' ada tuhan selain Allah.
Kepada anak ajarkanlah keterpesonaan dan keterpukauan akan islam. Sehingga dia cinta agama dan menghunjam ke dalam jiwanya, yang pada akhirnya menjadi karakter hidupnya. Bukan sekadar mengajarkan kebiasaan agama pada ananda.
Jika anak-anak hanya dididik kebiasaan agama, akan muncul anak-anak shalih yang hafal AlQur'an, hafal hadits di usia dini, tetapi ketika menjadi pemuda/dewasa, anak-anak shalih itu akan tumbuh dengan kehidupan yang sangat kontras, mereka s**a narkoba, pacaran, dlsb. Ini disebut sebagai fenomena anak hilang.
Ada yang mengatakan bahwa akidah tidak relevan diajarkan pada anak-anak, sebab cara berpikir anak adalah konkrit dan akidah itu abstrak. Namun sebenarnya anak-anak itu abstrak bukan konkrit, buktinya dunia anak-anak lebih kepada imajinasi dan fantasi. Akidah itu simple dan anak- anak juga simple, maka akidah sangat relevan diajarkan sejak kecil.
Siapakah yang sebenarnya bertugas mengajarkan akidah? Jawabannya adalah Ayah. Seorang anak yang merasakan manisnya iman sebagai buah akidah yang benar, akan menjadi pribadi yang memiliki motivasi tinggi, optimistik, rida kepada Allah, Rasul dan Islam serta berdaya juang untuk berhimpun di jalan yang benar. Maka, betapa penting peran seorang Ayah sebagai pendidik peradaban.
Wallahu Ta'ala A'lam.
Sumber: Rumah Keluarga Indonesia, Pekanbaru