03/06/2026
PKS malang dan tersayang
Ironisnya, di negeri ini integritas sering kalah oleh pop**aritas. Ketika ada partai yang mendapat nilai integritas tertinggi berdasarkan penilaian resmi Indeks Integritas Partai Politik (IIPP), fakta itu tidak otomatis membuat mayoritas pemilih berbondong-bondong mendukungnya.
Ini bukan semata soal satu partai, tetapi cermin cara berpikir politik bangsa. Banyak pemilih masih menentukan pilihan karena figur, pencitraan, bantuan sesaat, fanatisme kelompok, sentimen identitas, atau sekadar ikut arus. Sementara aspek yang lebih mendasar seperti integritas, tata kelola, transparansi, kaderisasi, dan rekam jejak sering berada di urutan belakang. Padahal justru dari situlah kualitas pemerintahan lahir.
Demokrasi pada akhirnya tidak hanya menghasilkan pemimpin sesuai keinginan rakyat, tetapi juga sesuai kualitas cara rakyat memilih. Jika masyarakat terus mengabaikan integritas dan lebih mengutamakan sensasi politik, maka jangan heran bila korupsi, pragmatisme, dan politik transaksional terus berulang dari generasi ke generasi.
Bangsa yang maju bukanlah bangsa yang hanya pandai mengkritik pemimpinnya. Bangsa yang maju adalah bangsa yang memiliki pemilih cerdas, yang mampu menghargai kejujuran di atas pencitraan, rekam jejak di atas janji, dan integritas di atas kepentingan sesaat.
Karena sejatinya, kualitas pemimpin adalah pantulan dari kualitas pemilihnya.
Jika integritas terus kalah di bilik suara, maka kemajuan akan selalu menjadi cita-cita yang dibicarakan, tetapi sulit diwujudkan.
Dan mungkin kalimat yang paling layak menjadi bahan renungan adalah:
Jangan hanya bertanya mengapa negeri ini belum maju. Bertanyalah lebih dulu, apakah kita sudah memilih berdasarkan integritas atau hanya berdasarkan apa yang ingin kita dengar
Berita tentang tingginya indeks integritas partai seharusnya menjadi bahan refleksi nasional. Sebab masalah terbesar demokrasi Indonesia mungkin bukan kurangnya orang baik, melainkan masih sedikitnya pemilih yang menjadikan integritas sebagai alasan utama dalam menentukan pilihan.
Jika pertanyaannya adalah apa motivasi PKS masih terus melanjutkan perjuangan politik di Indonesia?
dilihat dari sudut pandang yang sering disampaikan oleh PKS sendiri dan beberapa rekan kenalan saya di PKS.
Secara ideologis, PKS memandang politik bukan sekadar perebutan kekuasaan, melainkan sarana dakwah, pelayanan, dan perbaikan masyarakat. Karena itu, bagi kader-kadernya, kemenangan tidak selalu diukur dari jumlah kursi atau jabatan, tetapi dari sejauh mana nilai-nilai yang mereka perjuangkan bisa tetap hadir dalam kehidupan berbangsa.
Ada beberapa motivasi yang sering menjadi dasar yang bisa saya simpulkan.
Menjalankan amanah dakwah di ruang publik
PKS lahir dari gerakan tarbiyah yang meyakini bahwa perubahan masyarakat tidak cukup melalui pendidikan dan kegiatan sosial saja, tetapi juga perlu hadir dalam kebijakan negara.
Memperjuangkan politik yang bersih
Terlepas dari segala kekurangan dan kritik yang ada, PKS sering menempatkan isu integritas, anti korupsi, dan tata kelola pemerintahan sebagai bagian dari identitas politiknya.
Melayani masyarakat
Banyak kader PKS meyakini bahwa politik adalah jalan pelayanan (khidmat), bukan semata-mata karier atau kekuasaan.
Menjaga harapan perubahan
Dalam pandangan kader-kadernya, perjuangan politik adalah proses panjang. Mereka sering mengutip prinsip bahwa tugas manusia adalah berikhtiar, sedangkan hasil akhirnya diserahkan kepada tuhan YME
Mungkin PKS tetap bertahan bukan karena jalan politiknya mudah, bukan p**a karena peluang menang selalu besar. Tetapi karena mereka meyakini bahwa bangsa ini tetap membutuhkan orang-orang yang mau memperjuangkan nilai, meski nilai itu tidak selalu populer di hadapan pemilih. Sebab perjuangan bukan hanya tentang berapa kursi yang diraih, melainkan tentang tetap berdiri menjaga prinsip ketika banyak orang memilih jalan yang lebih mudah.
Saya berharap PKS bisa diberikan kesempatan menahkodai bangsa ini dengan power full kekuasaan penuh. Bisa di coba.