Senduk G.A. Roeroe - Azer

Senduk G.A. Roeroe - Azer Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from Senduk G.A. Roeroe - Azer, Public Service, Tomohon.

Pendidikan Teologi Fakultas Teologi Universitas Kristen Satya
Wacana (UKSW) Salatiga, Sekolah Tinggi Teologi Jakarta ( STT Jakarta ), Fakultas Teologi Universitas Kristen Indonesia Tomohon (UKIT Tomohon).

Moment Kebersamaan Dengan Hamba Tuhan Yesus Lainnya
02/04/2026

Moment Kebersamaan Dengan Hamba Tuhan Yesus Lainnya

MENJADI GARAM DAN TERANG DI PANGGUNG POLITIK: PANGGILAN ORANG KRISTENPdt. Senduk G.A.Roeroe Dalam realitas kehidupan ber...
02/04/2026

MENJADI GARAM DAN TERANG DI PANGGUNG POLITIK: PANGGILAN ORANG KRISTEN

Pdt. Senduk G.A.Roeroe

Dalam realitas kehidupan berbangsa dan bernegara dewasa ini, politik sering kali dipersepsikan sebagai ruang yang kotor—dipenuhi kompromi, kepentingan sempit, serta praktik yang menjauh dari nilai-nilai moral. Korupsi yang merajalela, manipulasi kekuasaan yang semakin canggih, serta hilangnya orientasi pada kesejahteraan bersama yang menjadikan politik tampak kehilangan makna terdalamnya. Ia tidak lagi dipahami sebagai sarana untuk mewujudkan kebaikan bersama (bonum commune), melainkan sebagai arena untuk mendapatkan jabatan, mempertahankan kepentingan kekuasaan dan menguasai ruang publik.

Di tengah situasi ini, muncul kecenderungan di kalangan orang beriman—termasuk orang Kristen—untuk mengambil jarak dari dunia politik. Politik dianggap terlalu “kotor,” terlalu “duniawi,” bahkan terlalu berbahaya untuk disentuh oleh iman. Sikap ini tampak sebagai bentuk kesalehan, seolah-olah menjaga kemurnian iman dengan menjauh dari realitas dunia. Namun, di balik itu, tersimpan sebuah pertanyaan teologis yang sangat mendasar: apakah iman memang dipanggil untuk menjauh dari dunia, atau justru untuk hadir di dalamnya?

Dalam terang pengajaran Yesus Kristus, iman tidak pernah dimaksudkan untuk hidup dalam ruang privat semata. Ia selalu memiliki dimensi publik. Ketika Yesus menyebut para pengikut-Nya sebagai ἅλας τῆς γῆς (halas tēs gēs) garam dunia dan φῶς τοῦ κόσμου (phōs tou kosmou) terang dunia (Matius 5:13-16), Tuhan Yesus tidak sedang memberikan pilihan, melainkan menegaskan identitas. Garam tidak memiliki arti jika tidak bercampur, dan terang tidak memiliki makna jika disembunyikan. Dengan demikian, iman Kristen pada hakikatnya adalah iman yang hadir di tengah kehidupan, iman yang masuk ke dalam realitas kehidupan, iman yang mengambil bagian dalam kehidupan bersama.

Namun persoalan utama bukanlah pada kurangnya kehadiran orang Kristen dalam politik, melainkan pada keberanian mereka untuk tetap setia pada kebenaran ketika berada di dalamnya. Banyak orang memulai dengan idealisme, tetapi berakhir dalam kompromi. Banyak yang mengetahui apa yang benar, tetapi memilih diam. Banyak yang ingin berubah, tetapi takut kehilangan. Di sinilah letak persoalan yang paling mendalam: ketakutan.

Ketakutan ini tidak selalu muncul dalam bentuk yang dramatis. Ia hadir secara halus, menyusup dalam keputusan-keputusan sehari-hari: menunda kebenaran, menghindari konflik, memilih aman, atau menyesuaikan diri dengan sistem ( timor amittendi ) ketakutan akan kehilangan. Kehilangan jabatan, kehilangan pengaruh, kehilangan relasi, kehilangan kenyamanan hidup. Ketakutan ini perlahan-lahan membentuk sikap, menentukan pilihan, dan pada akhirnya membungkam kebenaran.

Di titik inilah refleksi teologis Pdt.Prof.Dr.W.A. Roeroe tentang “picah blanga” menjadi sangat relevan. “Picah blanga” adalah metafora yang menggambarkan kondisi di mana seseorang takut kehilangan “belanga”—yakni sumber keamanan material dan sosialnya—sehingga memilih diam daripada menyuarakan kebenaran.

Dalam konteks politik, ini bukan sekadar fenomena individual, tetapi realitas struktural. Banyak orang tahu apa yang benar, tetapi tidak berani mengatakannya. Bukan karena tidak peduli, tetapi karena takut.

Dengan demikian, masalah utama dalam politik bukan hanya korupsi atau penyalahgunaan kekuasaan, melainkan ketakutan yang membuat orang baik memilih diam. Ketika kebenaran tidak lagi disuarakan, kebohongan akan dengan mudah mengambil alih ruang publik. Ketika keberanian hilang, integritas pun ikut runtuh.

Di sinilah iman Kristen diuji secara paling nyata. Sebab iman tidak hanya berbicara tentang apa yang dipercayai, tetapi tentang bagaimana seseorang hidup di tengah realitas yang penuh tekanan.

Yesus Kristus sendiri menantang logika dunia dengan pertanyaan yang sangat radikal: “Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi kehilangan nyawanya?” (Markus 8:36). Pernyataan ini tidak hanya bersifat spiritual, tetapi juga eksistensial dan politis. Ia menggugat sistem nilai yang menempatkan keuntungan di atas kebenaran dan keamanan di atas integritas.

Dalam tradisi teologi klasik, pemikiran Augustinus memberikan fondasi penting dalam memahami relasi antara iman dan kehidupan publik. Dalam De Civitate Dei (Kota Allah), Augustinus membedakan antara civitas Dei (kota Allah) dan civitas terrena (kota dunia) .

Namun pembedaan ini bukan dimaksudkan untuk memisahkan orang beriman dari dunia, melainkan untuk menegaskan orientasi hati. Orang Kristen hidup di dalam dunia, tetapi tidak boleh kehilangan arah kepada Allah. Dengan demikian, keterlibatan dalam politik tidak ditolak, melainkan harus diarahkan oleh kasih kepada Allah (amor Dei) dan bukan oleh kasih diri (amor sui) yang melahirkan ambisi dan dominasi.

Sejalan dengan itu, Thomas Aquinas mengembangkan pemikiran yang lebih sistematis mengenai politik sebagai bagian dari tatanan moral. Dalam Summa Theologiae, Aquinas menegaskan bahwa tujuan hukum dan politik adalah bonum commune —kebaikan bersama. Politik harus tunduk pada hukum moral yang berasal dari Allah (lex aeterna), dan kekuasaan kehilangan legitimasi ketika digunakan untuk kepentingan pribadi.

Dalam garis tradisi Reformasi, John Calvin memberikan penekanan yang sangat penting mengenai peran pemerintah dan keterlibatan orang percaya dalam kehidupan publik. Dalam Institutes of the Christian Religion, Calvin menulis;

“Civil government is designed… to cherish and protect the outward worship of God, to defend sound doctrine of piety and the position of the church, to adjust our life to the society of men, to form our social behavior to civil righteousness, to reconcile us with one another, and to promote general peace and tranquility.” (“Pemerintahan sipil ditetapkan… untuk memelihara dan melindungi penyembahan kepada Allah secara lahiriah, mempertahankan ajaran kesalehan yang benar dan kedudukan gereja, menata kehidupan kita dalam masyarakat, membentuk perilaku sosial kita menuju kebenaran sipil, mendamaikan kita satu sama lain, serta memelihara damai dan ketertiban umum.”
(Institutes, IV.20.2)

Calvin melihat pemerintahan sipil sebagai anugerah Allah (ordinatio Dei) yang diberikan untuk menjaga ketertiban, keadilan, dan kesejahteraan masyarakat. Dengan demikian, politik bukan wilayah yang berada di luar kedaulatan Allah, melainkan bagian dari karya pemeliharaan-Nya atas dunia.

Calvin menegaskan bahwa pejabat publik adalah “pelayan Allah” (minister Dei);
“The magistrate is a minister of God… appointed for the protection of the good and the punishment of the wicked.” (“Penguasa adalah pelayan Allah… yang ditetapkan untuk melindungi orang baik dan menghukum orang jahat.”)
(Institutes, IV.20.9)

Jadi bagi Calvin, pejabat publik dipanggil untuk menegakkan keadilan dan melindungi yang lemah. Oleh karena itu, kekuasaan bukanlah hak untuk menguasai, melainkan tanggung jawab untuk melayani. Dalam perspektif ini, keterlibatan orang Kristen dalam politik bukan hanya soal partisipasi, tetapi soal panggilan untuk menghadirkan pemerintahan yang adil dan takut akan Tuhan.

Namun Calvin juga realistis terhadap natur manusia yang telah jatuh dalam dosa. Karena itu, ia menekankan pentingnya hukum, struktur, dan akuntabilitas untuk membatasi penyalahgunaan kekuasaan. Kekuasaan tanpa pengawasan akan cenderung korup, dan karena itu harus diikat oleh hukum yang adil. Di sini kita melihat bahwa keberanian profetik tidak hanya berbentuk suara moral, tetapi juga dalam upaya membangun sistem yang benar.

Dengan demikian, baik Augustinus, Aquinas, maupun Calvin sama-sama menyadari realitas dosa dalam kehidupan manusia dan struktur sosial. Politik tidak pernah sempurna, tetapi tetap harus diperjuangkan sebagai ruang untuk menghadirkan kebaikan bersama. Ketidaksempurnaan bukan alasan untuk mundur, melainkan panggilan untuk setia.

Yesus Kristus menantang logika dunia dengan pertanyaan yang sangat radikal: “Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi kehilangan nyawanya?” (Markus 8:36). Pernyataan ini menggugat sistem nilai yang menempatkan keuntungan di atas kebenaran dan keamanan di atas integritas.

Dalam terang itu, kebenaran—yang dalam bahasa Yunani disebut ἀλήθεια (alētheia), yakni sesuatu yang tersingkap dan tidak tersembunyi—seharusnya dihidupi dan dinyatakan dengan keberanian. Namun ironisnya, dalam dunia yang dikuasai ketakutan, kebenaran justru kembali disembunyikan: orang tahu tetapi tidak mengatakan, orang melihat tetapi tidak bertindak.

Di sinilah letak tragedi moral yang paling dalam—ketika manusia memilih mempertahankan dunia yang dapat diperoleh, tetapi mengorbankan kebenaran yang seharusnya dihidupi
Pemikiran Franz Magnis-Suseno menegaskan bahwa politik harus berakar pada etika. Tanpa etika, politik kehilangan legitimasi moralnya dan berubah menjadi sarana dominasi.

Namun etika tidak cukup hanya dipahami; ia harus dihidupi. Dan untuk menghidupi etika, diperlukan keberanian. Integritas bukan sekadar pengetahuan tentang yang benar, tetapi kesediaan untuk melakukan yang benar, bahkan ketika itu tidak menguntungkan.

Di sisi lain, T.B. Simatupang melihat bahwa keterlibatan orang Kristen dalam kehidupan publik adalah bagian dari panggilan iman. Namun keterlibatan ini harus bersifat profetik. Artinya, iman tidak hanya hadir, tetapi juga bersuara. Tidak hanya berpartisipasi, tetapi juga mengoreksi. Tidak hanya menyesuaikan diri, tetapi juga menghadirkan alternatif.

Dalam bahasa Yunani, keberanian untuk berbicara secara terbuka disebut παρρησία (parrhesia). Ini bukan sekadar keberanian biasa, tetapi keberanian yang lahir dari keyakinan akan kebenaran. Parrhesia adalah keberanian untuk mengatakan apa yang harus dikatakan, meskipun ada risiko. Ini adalah keberanian yang tidak bergantung pada situasi, tetapi pada kebenaran itu sendiri.

Tradisi Alkitab penuh dengan contoh keberanian semacam ini. Para nabi tidak berbicara demi popularitas atau keamanan. Mereka berbicara karena mereka tidak bisa tidak berbicara. Mereka berdiri di hadapan kekuasaan tanpa jaminan keselamatan. Mereka menegur raja, mengkritik sistem, dan menyuarakan keadilan, bahkan ketika hal itu membawa konsekuensi yang berat.

Puncak dari keberanian profetik ini terlihat dalam kehidupan Yesus Kristus sendiri. Ia tidak memilih jalan aman, tetapi jalan salib. Dalam bahasa Latin, ini disebut via crucis, via dolorosa —jalan salib, jalan penderitaan. Jalan ini bukan jalan kekuasaan, tetapi jalan pengorbanan. Bukan jalan dominasi, tetapi jalan ketaatan. Dalam jalan ini, kehilangan bukanlah kegagalan, melainkan bagian dari kesetiaan.

Dengan demikian, iman Kristen pada hakikatnya adalah iman yang siap menghadapi risiko. Ia bukan iman yang mencari keamanan, tetapi iman yang setia pada kebenaran. Ia bukan iman yang menghindari konflik, tetapi iman yang berani menghadapi ketidakadilan.

Dalam konteks politik, hal ini berarti bahwa menjadi garam dan terang bukan sekadar hadir, tetapi menghadirkan sesuatu yang berbeda. Garam harus memberi rasa dan mencegah pembusukan. Terang harus bersinar dan mengusir kegelapan. Ini berarti menghadirkan integritas di tengah korupsi, kejujuran di tengah manipulasi, dan keberanian di tengah ketakutan.

Namun semua ini menuntut kesediaan untuk membayar harga. Tidak ada terang tanpa risiko untuk ditolak. Tidak ada garam tanpa kemungkinan untuk larut. Tidak ada kebenaran tanpa kemungkinan untuk ditentang.

Masalah terbesar dalam kehidupan publik bukan hanya kejahatan yang dilakukan oleh mereka yang berkuasa, tetapi diamnya mereka yang mengetahui kebenaran. Ketika orang baik memilih diam, ruang publik akan dikuasai oleh mereka yang tidak peduli pada kebenaran. Ketika ketakutan mengalahkan keberanian, maka kebohongan akan dengan mudah menjadi norma.

Dalam bahasa Latin, ada ungkapan yang sederhana tetapi sangat tajam: silentium malum est—diam adalah kejahatan. Ungkapan ini bukan sekadar retorika, tetapi pengingat bahwa ketidakberanian juga memiliki konsekuensi moral. Karena itu,panggilan iman adalah: non timere veritatem—jangan takut akan kebenaran. Iman yang sejati adalah fides viva—iman yang hidup, yang berani hadir dan bersuara.

Karena itu, pertanyaan yang paling mendasar bukanlah apakah orang Kristen boleh terlibat dalam politik, melainkan apakah mereka berani tetap setia ketika keterlibatan itu menuntut pengorbanan. Apakah mereka bersedia kehilangan demi kebenaran? Apakah mereka bersedia berbicara ketika diam lebih aman? Apakah mereka bersedia berdiri ketika orang lain memilih duduk?

Panggilan ini dapat dirumuskan dengan sederhana: non timere veritatem - jangan takut akan kebenaran. Seruan ini menegaskan bahwa iman yang sejati tidak berhenti pada pengakuan batin semata, melainkan harus terwujud sebagai fides viva - iman yang hidup (living faith) yang berani hadir, bersuara, dan mengambil sikap dalam dunia nyata.

Iman seperti ini tidak dibatasi oleh ruang ibadah, tetapi melampaui tembok-tembok gereja untuk masuk ke dalam ruang publik, menyuarakan kebenaran di tengah tekanan, dan menghadirkan terang di tengah kegelapan.

Ia bukan hanya berorientasi pada keselamatan pribadi, tetapi juga terlibat aktif dalam memperjuangkan kebaikan bersama, sehingga iman menjadi nyata sebagai kekuatan yang mengubah kehidupan sosial, bukan sekadar keyakinan yang tersembunyi.

Dengan demikian, menjadi garam dan terang bukanlah tugas tambahan, melainkan panggilan mendasar yang merupakan tanggung jawab utama setiap orang yang percaya kepada Tuhan Yesus. Panggilan ini menuntut integritas, keberanian, dan kesetiaan yang teguh kepada-Nya, serta diwujudkan dalam iman yang hidup - fides viva - yakni iman yang tidak mati dalam ketakutan, tetapi terus bertumbuh dalam keberanian.

Karena itu, di tengah dunia politik yang sering diliputi kegelapan, terang harus tetap bersinar; di tengah kehidupan yang mudah membusuk, garam harus tetap memberi rasa; dan di tengah ketakutan yang membungkam, iman harus melahirkan keberanian. Dalam konteks ini, seorang Kristen yang terpanggil menjadi politikus tidak boleh kehilangan identitas imannya, melainkan justru menghadirkan nilai-nilai Kerajaan Allah dalam setiap keputusan, kebijakan, dan tindakan publiknya. Ia dipanggil bukan untuk mencari kekuasaan demi kepentingan diri, tetapi untuk melayani, memperjuangkan keadilan, dan menjaga kebenaran di tengah sistem yang sering kali kompromistis. Sebab hanya dengan keberanian yang berlandaskan pengakuan iman inilah kebenaran dapat tetap hidup, keadilan terus diperjuangkan, dan harapan bagi kehidupan bersama tetap terpelihara, “…supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: ‘Yesus Kristus adalah Tuhan,’ bagi kemuliaan Allah, Bapa!” (Filipi 2:10–11).

Duc in Altum
Ad Maiorem Dei Gloriam


DAFTAR PUSTAKA:

Augustine of Hippo. The City of God. Translated by Henry Bettenson. London: Penguin Books, 2003.

Thomas Aquinas. Summa Theologiae. Translated by Fathers of the English Dominican Province. New York: Benziger Bros., 1947.

John Calvin. Institutes of the Christian Religion. Edited by John T. McNeill. Translated by Ford Lewis Battles. Louisville: Westminster John Knox Press, 1960.

Franz Magnis-Suseno. Etika Politik: Prinsip-Prinsip Moral Dasar Kenegaraan Modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1994.

T. B. Simatupang. Iman Kristen dan Pancasila. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1984.

W. A. Roeroe. Teologi “Picah Blanga”. Manado: Harian Komentar, 27 Januari 2007

A Minute of Contemplation - Pdt. Senduk G.A. RoeroeSebuah Refleksi dari novel fiksi sejarah yang berjudul Pilate's WifeT...
27/03/2026

A Minute of Contemplation - Pdt. Senduk G.A. Roeroe
Sebuah Refleksi dari novel fiksi sejarah yang berjudul Pilate's Wife
Tulisan ini saya beri judul:

"Claudia Procula: Suara Profetik yang Menembus Tembok Ketakutan 'Picah Blanga”

“Di saat Pilatus hanya melihat Yesus sebagai masalah politik yang merepotkan (potensi kerusuhan yang bisa membuat jabatannya "pecah"), Claudia justru melihat Yesus sebagai "Terang Ilahi".

Perannya adalah menjadi pengingat bahwa di atas hukum manusia, ada hukum Tuhan yang lebih tinggi”.

Novel Pilate’s Wife karya Antoinette May menceritakan seorang perempuan yang bernama Claudia Procula, yang menjadi isteri dari Pontius Pilate (Pilatus) – di Alkitab Pontius Pilatus yang menjatuhkan hukuman kepada Tuhan Yesus.

Claudia digambarkan sebagai pribadi yang peka dan gelisah terhadap realitas di sekitarnya.

Setelah menikah dengan Pilatus dan pindah ke Yudea, ia mulai mengalami pergumulan batin yang semakin intens.

Di tengah lingkungan yang keras dan penuh intrik kekuasaan, ia justru mengalami pengalaman-pengalaman spiritual yang membawanya pada kesadaran akan kehadiran kebenaran yang lebih tinggi.

Pertemuannya—baik secara langsung maupun melalui kesaksian orang lain—dengan Yesus dari Nazaret menjadi titik balik dalam hidupnya.

Claudia merasakan bahwa Yesus bukan sekadar tokoh religius, melainkan pribadi yang membawa terang dan kebenaran ilahi.
Keyakinan ini semakin diteguhkan melalui mimpi yang ia alami, yang kemudian mendorongnya untuk memperingatkan suaminya agar tidak terlibat dalam penghukuman terhadap Yesus.

Konflik utama dalam cerita mencapai puncaknya saat proses pengadilan Yesus. Claudia berusaha meyakinkan Pilatus bahwa Yesus tidak bersalah, namun Pilatus terjebak dalam tekanan politik dan ketakutan akan kehilangan kekuasaan.

Meskipun menyadari ketidakbersalahan Yesus, ia tetap mengambil keputusan yang berujung pada penyaliban.

Di sinilah novel ini menampilkan benturan tragis antara suara hati dan kepentingan dunia.

Claudia digambarkan sebagai sosok yang tidak memiliki kuasa politik, tetapi memiliki keberanian untuk bersaksi tentang kebenaran, meskipun suaranya tidak mampu mengubah keputusan yang dibuat oleh suaminya.

Secara keseluruhan, Pilate’s Wife menawarkan perspektif yang mendalam dan reflektif terhadap kisah Injil, dengan menempatkan Claudia sebagai simbol iman yang sunyi namun teguh.

Novel ini mengajak pembaca untuk merenungkan bagaimana manusia sering kali dihadapkan pada pilihan antara mengikuti kebenaran atau tunduk pada tekanan dan kepentingan dunia.

Dan novel ini mengisahkan kehidupan Claudia Procula, istri dari Pontius Pilate, dengan pendekatan yang menggabungkan sejarah, imajinasi, dan refleksi spiritual.

Kisah ini dituturkan dari sudut pandang Claudia sebagai seorang perempuan Romawi yang hidup di tengah kekuasaan politik, tetapi memiliki kerinduan mendalam akan kebenaran dan makna hidup.

Berangkat dari novel Pilate’s Wife, muncul sebuah refleksi teologis yang sangat relevan bagi kehidupan iman dan pelayanan gereja masa kini.

Claudia adalah gambaran dari hati nurani yang masih peka di tengah dunia yang telah dikuasai oleh kepentingan. Ia tidak memiliki kuasa politik, tetapi ia memiliki sesuatu yang lebih dalam:
kemampuan untuk mengenali kebenaran.

Dalam mimpinya, ia menerima semacam pewahyuan—sebuah peringatan ilahi—yang mendorongnya untuk bersuara.

Di sini kita melihat bahwa Allah dapat berbicara melalui siapa saja, bahkan melalui mereka yang tidak berada di pusat kekuasaan atau struktur religius resmi.

Ini mengingatkan kita bahwa wahyu tidak selalu datang dari tempat yang kita anggap “resmi”, tetapi justru sering muncul dari pinggiran. Namun, suara kebenaran itu berhadapan dengan realitas kekuasaan.

Pilatus, yang secara rasional tahu bahwa Yesus tidak bersalah, justru memilih jalan aman. Ia bukan tidak tahu kebenaran—ia takut pada konsekuensi dari kebenaran itu.

Di sinilah letak tragedi teologisnya: ketika kebenaran diketahui, tetapi tidak dilaksanakan.

Kita melihat bahwa dosa tidak selalu berbentuk ketidaktahuan, tetapi sering kali berupa kompromi terhadap apa yang sudah kita ketahui sebagai benar.

Refleksi ini menjadi sangat tajam bagi kita (para pendeta, pejabat gereja, pejabat pemerintah).

Betapa sering kia, seperti Pilatus, berada dalam posisi mengetahui kebenaran, tetapi memilih diam demi menjaga stabilitas, jabatan, atau kenyamanan.

Dalam konteks ini, Claudia justru menjadi suara profetik—suara yang kecil, mungkin tidak menentukan secara politis, tetapi benar secara rohani. Ia mengingatkan bahwa kesetiaan kepada kebenaran tidak selalu diukur dari keberhasilan mengubah keadaan, tetapi dari keberanian untuk bersaksi.

Kisah ini juga memperlihatkan bahwa penderitaan Kristus tidak hanya terjadi karena kebencian, tetapi juga karena diamnya mereka yang tahu kebenaran.

Penyaliban bukan hanya hasil dari kejahatan aktif, tetapi juga dari kebaikan yang tidak berani bertindak. Ini adalah peringatan serius bagi setiap orang percaya: bahwa netralitas dalam menghadapi ketidakadilan sesungguhnya adalah keberpihakan yang terselubung.

Dalam terang ini, Claudia dapat dilihat sebagai simbol iman yang kontemplatif sekaligus profetik - bentuk iman yang berakar pada keheningan batin, kedalaman refleksi, dan kepekaan terhadap suara Tuhan di dalam hati . Ia tidak berteriak di ruang publik, tetapi ia tidak juga membungkam hatinya. Ia berdiri di antara dua dunia—antara kekuasaan Romawi dan kebenaran ilahi—dan memilih untuk berpihak, meskipun tanpa jaminan bahwa suaranya akan didengar.
Apakah kita masih peka terhadap suara kebenaran?

Ketika kita tahu apa yang benar, apakah kita berani untuk menyatakannya? Ataukah kita, seperti Pilatus, mencuci tangan dan menyerahkan kebenaran kepada tekanan dunia?

Akhirnya, Pilate’s Wife mengingatkan kita bahwa mengikuti Tuhan Yesus bukan pertama-tama soal posisi atau kuasa, tetapi soal keberanian menyatakan kebenaran.

Dan mungkin, dalam dunia yang bising oleh kepentingan, justru suara-suara kecil seperti Claudia-lah yang masih menyimpan gema kebenaran Tuhan.

Duc in Altum
Ad Maiorem Dei Gloriam (AMDG)

THURSDAY IN BLACK Silahkan lihat chanel YouTube saya Pdt.Senduk G.A. Roeroe, M.Th atau klik link di bawah ini:https://yo...
26/03/2026

THURSDAY IN BLACK
Silahkan lihat chanel YouTube saya Pdt.Senduk G.A. Roeroe, M.Th atau klik link di bawah ini:
https://youtu.be/yE9LKvXYTt0?feature=shared

A GLOBAL MOVEMENT FOR A WORLD WITHOUT R**E AND VIOLENCE

I, Rev.Senduk G.A. Roeroe from Tondano, North Sulawesi, Indonesia, am participating today alongside brothers and sisters around the word dressed in black.

In every country, gender-based violence is a tragic reality. This violence is frequently hidden, and victims are often silent, fearing stigma and further violence.

We all have a responsibility to speak out against violence, to ensure that women and men, boys and girls, are safe from r**e and violence in homes, schools, work, streets – in all places in our societies.

The campaign is simple but profound. Wear black on Thursdays. Wear a pin to declare you are part of the global movement resisting attitudes and practices that permit r**e and violence. Show your respect for women who are resilient in the face of injustice and violence. Encourage others to join you.

Often black has been used with negative racial connotations. In this campaign Black is used as a color of resistance and resilience.

Please visit my YouTube chanel under the name Pdt.Senduk G.A Roeroe or click the link below:

https://youtu.be/yE9LKvXYTt0?feature=shared

https://youtu.be/kOPg2e_Ph10?si=rixufNwR16rdo3LT

and

A Minute of Contemplation - Pdt. Senduk G.A. RoeroeSebuah Refleksi dari Buku Mount Analoque dan Injil Matius 26:57-58"MO...
25/03/2026

A Minute of Contemplation - Pdt. Senduk G.A. Roeroe

Sebuah Refleksi dari Buku Mount Analoque dan Injil Matius 26:57-58

"MOUNT ANALOQUE DAN INJIL MATIUS 26 : 57 - 68:
APAKAH KITA SUNGGUH MENCARI KEBENARAN, ATAU HANYA MENCARI PEMBENARAN DAN MEMANFAATKAN KEBENARAN UNTUK KEPENTINGAN DIRI SENDIRI?

Mount Analogue adalah sebuah karya fiksi filosofis / novel alegoris yang sarat makna simbolik dan refleksi spiritual yang tidak hanya berbicara tentang pendakian gunung secara fisik, tetapi lebih dalam lagi, tentang perjalanan manusia menuju kebenaran yang tersembunyi.

Karya ini diterbitkan secara anumerta pada tahun 1952, dan kemudian dikenal luas melalui edisi bahasa Inggris yang terbit pada tahun 1959.

Novel ini mengisahkan sekelompok penjelajah yang berusaha menemukan sebuah gunung misterius yang diyakini sebagai penghubung antara dunia manusia dan realitas yang lebih tinggi.

Gunung ini tidak dapat ditemukan dengan peta biasa atau perhitungan ilmiah semata, melainkan hanya dapat dijangkau oleh mereka yang memiliki kesiapan batin dan kesadaran yang lebih dalam.

Kisah ini diceritakan melalui sudut pandang seorang narator yang bergabung dalam sebuah ekspedisi kecil yang dipimpin oleh Pierre Sogol, seorang tokoh yang melambangkan rasio sekaligus penuntun menuju makna yang lebih dalam.

Nama Sogol sendiri merupakan permainan kata dari “logos,” yang berarti akal, sabda, atau prinsip kebenaran.

Bersama timnya, mereka melakukan perjalanan panjang melintasi laut hingga akhirnya menemukan gunung yang selama ini tersembunyi dari pandangan dunia biasa.

Setibanya di kaki gunung, mereka tidak hanya menemukan sebuah objek geografis, tetapi juga sebuah komunitas yang hidup dengan cara yang berbeda.

Bagi penduduk di sana,
"Mendaki bukanlah sekadar aktivitas fisik untuk mencapai puncak, melainkan sebuah disiplin spiritual yang menuntut perubahan diri."

"Climbing is not merely a physical activity aimed at reaching the summit; rather, it constitutes a spiritual discipline that demands profound self-transformation."

"Setiap langkah pendakian menjadi simbol dari usaha manusia untuk meninggalkan keterikatan duniawi dan bergerak menuju kesadaran yang lebih tinggi.

Each step of the ascent becomes a symbol of the human endeavor to relinquish worldly attachments and move toward a higher state of consciousness.

Semakin tinggi seseorang mendaki, semakin ia dituntut untuk memurnikan dirinya, karena gunung ini tidak dapat ditaklukkan dengan kekuatan fisik semata.

The higher one ascends, the more one is required to purify oneself, for this mountain cannot be conquered by physical strength alone.
Dalam perjalanan tersebut, menjadi jelas bahwa gunung itu sendiri adalah simbol dari realitas yang lebih tinggi—sebuah jembatan antara yang kelihatan dan yang tak kelihatan.

Pendakian melambangkan usaha manusia untuk memahami kebenaran, sementara kesulitan yang dihadapi mencerminkan pergumulan batin yang harus dilalui setiap orang.

Gunung itu tampak tersembunyi bukan karena ia tidak ada, tetapi karena manusia sering kali belum siap untuk melihatnya.

Karya ini juga memperlihatkan bagaimana ilmu pengetahuan dan spiritualitas tidak harus dipertentangkan.

Daumal dengan cermat menggabungkan pendekatan ilmiah dengan refleksi metafisik, seolah ingin menunjukkan bahwa pencarian kebenaran sejati membutuhkan keduanya: ketajaman akal dan kedalaman jiwa.

Namun, pada akhirnya, ia menegaskan bahwa transformasi diri - transformatio sui - adalah syarat utama untuk memahami realitas yang lebih tinggi.

Menariknya, novel ini tidak pernah selesai. Daumal meninggal sebelum menyelesaikan kisahnya, sehingga perjalanan para pendaki terhenti di tengah jalan.

Namun justru di situlah letak kekuatan simboliknya. Ketidakselesaian ini mencerminkan kenyataan bahwa pencarian kebenaran tidak pernah benar-benar berakhir.

Pendakian itu terus berlangsung, bukan hanya dalam cerita, tetapi juga dalam kehidupan setiap pembaca.

Mount Analogue bukan sekadar sebuah cerita petualangan, melainkan sebuah refleksi mendalam tentang kehidupan manusia. Ia mengajak kita untuk melihat bahwa hidup adalah sebuah pendakian—bukan untuk menaklukkan dunia, tetapi untuk menaklukkan diri sendiri (se ipsum vincere).

Gunung yang kita cari mungkin tidak pernah terlihat secara kasat mata, tetapi ia nyata bagi mereka yang bersedia menjalani proses, disiplin, dan transformasi batin.

Pada akhirnya, pesan yang ditinggalkan sangat kuat: perjalanan terbesar dalam hidup manusia bukanlah perjalanan ke luar, melainkan perjalanan ke dalam—sebuah pendakian tanpa akhir menuju kebenaran yang sejati.

Namun, refleksi ini menemukan gema yang sangat tajam dalam Injil Matius 26:57–68.

Jika dalam Mount Analogue kebenaran tampak tersembunyi dan harus dicari dengan kesungguhan, dalam Injil justru sebaliknya:
Kebenaran itu hadir secara nyata dalam diri Yesus, berdiri di hadapan para pemimpin agama, namun tetap tidak dikenali—bahkan ditolak.

Di hadapan Kayafas dan para ahli Taurat, Yesus tidak tersembunyi. Ia tidak berada di puncak yang jauh. Ia dekat, nyata, dan berbicara.
Namun hati yang tertutup oleh kepentingan, ketakutan kehilangan kuasa, dan kenyamanan membuat mereka gagal melihat.

Mereka yang seharusnya menjadi “pendaki rohani” justru berhenti pada ketinggian semu.

Di sinilah kita dihadapkan pada pertanyaan yang paling mendalam: apakah kita sungguh mencari kebenaran, atau hanya mencari apa yang membuat kita tetap nyaman, atau kita memanipulasi dan memanfaatkan kebenaran itu untuk kepentingan diri kita?

Pada akhirnya, kebenaran tidak tersembunyi—kitalah yang sering menolaknya (nemo veritatem audit libenter).

Bahkan dalam penyusunan dan revisi tata gereja, kita bisa terjebak: berbicara tentang kebenaran, tetapi sesungguhnya memperjuangkan kepentingan.

Ketika aturan dijadikan alat untuk mengamankan posisi atau mempertahankan kuasa, di situlah yang terbaik berubah menjadi yang terburuk (corruptio optimi pessima).

Karena itu, panggilan terbesar bagi setiap penyusun dan pengusul revisi Tata Gereja, bukanlah sekadar merumuskan pasal, tetapi menaklukkan diri sendiri—se ipsum vincere— di bawah terang Roh Kudus agar gereja sungguh berdiri di atas kebenaran, bukan kepentingan. Sehingga gereja tidak dijadikan alat untuk kepentingan diri sendiri. Baik yang mengusul dan yang akan melaksanakan perubahan. "SAMUA PRIKSA DIRI"

Duc in Altum
Ad Maiorem Dei Gloriam (AMD)

A Minute of Contemplation“BUKAN GUNUNG YANG KITA TAKLUKKAN, MELAINKAN DIRI KITA SENDIRI - “IT IS NOT THE MOUNTAIN WE CON...
24/03/2026

A Minute of Contemplation
“BUKAN GUNUNG YANG KITA TAKLUKKAN, MELAINKAN DIRI KITA SENDIRI - “IT IS NOT THE MOUNTAIN WE CONQUER, BUT OURSELVES.” René Daumal (Mount Analogue)

Dalam Injil Matius 26:57–68, Yesus berdiri di hadapan Kayafas dan para pemimpin agama.

Tuhan Yesus tidak melawan, tidak membela diri menurut cara dunia, tetapi memilih diam dan taat.

Di hadapan ketidakadilan, Ia justru menunjukkan kemenangan batin: penguasaan diri, kesetiaan, dan keberanian untuk tetap berada dalam kebenaran.

Tuhan Yesus tidak sedang “menaklukkan” orang-orang yang mengadili-Nya, melainkan menaklukkan penderitaan dalam diri-Nya dengan ketaatan total kepada kehendak Bapa.

Sebaliknya, para pemimpin agama gagal menaklukkan diri mereka sendiri. Mereka dikuasai oleh ketakutan, ambisi, dan keinginan mempertahankan kuasa.

Mereka menghadapi “gunung” kebenaran, tetapi memilih mundur karena tidak sanggup menghadapi diri sendiri.

Pendakian bukan sekadar aktivitas fisik, melainkan perjalanan spiritual menuju kebenaran yang tersembunyi - Climbing is not merely a physical activity, but a spiritual journey toward hidden truth - René Daumal dalam bukunya Mount Analogue

Gunung menjadi simbol jalan batin:
semakin seseorang “mendaki,” semakin ia dipaksa berhadapan dengan dirinya sendiri—dengan keterbatasan, ilusi, dan ego.

Dalam terang itu, Yesus adalah “pendaki sejati.”
Ia menapaki jalan penderitaan bukan untuk menaklukkan dunia, tetapi untuk menyingkapkan kebenaran melalui ketaatan. Ia tidak mencari puncak kemuliaan duniawi, melainkan mencapai “puncak” dalam kesetiaan kepada Allah.

Hidup ini adalah pendakian rohani. Kita sering mengira bahwa yang harus kita kalahkan adalah masalah, orang lain, atau keadaan, yang terutama harus kita taklukkan adalah diri kita sendiri: ego, ketakutan, dan kecenderungan untuk menghindari kebenaran.

Karena pada akhirnya, hanya mereka yang berani mendaki ke dalam dirinya sendiri yang akan sampai pada kebenaran yang sejati.

"You cannot stay on the summit forever; you have to come down again. So why bother in the first place? Just this: What is above knows what is below, but what is below does not know what is above."

"Kau tidak bisa tinggal di puncak selamanya; kau harus turun kembali. Jadi, mengapa bersusah payah sejak awal? Hanya karena ini: Apa yang ada di atas tahu apa yang ada di bawah, tetapi apa yang ada di bawah tidak tahu apa yang ada di atas."

The Mountain is the bond between Earth and Sky. Its single summit touches the world of eternity, and its base projects into the world of time."

Gunung adalah ikatan antara Bumi dan Langit. Puncaknya yang tunggal menyentuh dunia keabadian, dan dasarnya memproyeksi ke dalam dunia waktu."

Duc In Altum
Ad Maiorem Dei Gloriam (AMD)

Address

Tomohon

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Senduk G.A. Roeroe - Azer posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share

Category