30/09/2020
MENOLAK LUPA !
Saat meletus peristiwa G-30S/PKI
Lirboyo adalah kiblat perjuangan masyarakat di eks-Karisedenan Kediri.Peran sentral itu tidak lepas dari sejarah perjalanan panjang Lirboyo dalam memimpin masyarakat sejak zaman kolonialisme Belanda dan Jepang.
Pasukan PETA misalnya, dibentuk di Lirboyo dan berawal dari inisiatif Kiai Ibrahim (Banjar melati, ipar Kiai Abdul Karim), sedangkan Laskar Hizbullah-Sabilillah di Kediri di sponsori oleh Kiai Mahrus Aly, yang belakang hari menjadi embrio terbentuknya Kodam V Brawijaya.
Peran sentral itu tidak hanya berhenti disitu,Dimasa pembrontakan PKI aksi sepihak yang dilancarkan diberbagai daerah menggugah kesadaran para pengasuh Lirboyo untuk bertindak.
Saat peristiwa Madiun Kiai Mahrus Aly bersama para santrinya berangkat ke Madiun untuk menumpas pembrontakan PKI disana. Kiai Mahrus Aly bergabung dengan Brigade S.Soerahmad dan berhasil menumpas pembrontakan disana.Gus Maksum sebagai orang dekat Kiai Mahrus Aly didapuk menjadi komandan tempur lapangan setiap aksi penumpasan.
Menjadi Komandan Penumpasan PKI
Sabotase aksi sepihak dan aksi teror yang dilakukan PKI hampir merambah keseluruh wilayah Nusantara. Kediri daerah yang menjadi tempat tinggal Gus Maksum juga tak luput dari aksi-aksi itu. Penculikan, penyerobotan tanah, pembunuhan dan tindakan brutal lainnya hampir menghiasi kehidupan kabupaten Kediri.
Melihat aksi sewenang-wenang itu, Gus Maksum mempunyai keyakinan bahwa PKI yang selama ini sebagai partai politik resmi yang diakui pemerintah telah berbuat makar dan ingin merebut kekuasaan sekaligus mengubah ideology Pancasila menjadi komunis.
Sebagai orang muslim Gus Maksum sangat tidak rela jika Negara ini berubah menjadi Negara komunis.
Dengan bekal kemampuan yang dimilikinya, Gus Maksum sebagai seorang yang sangat muda waktu itu (umur 18 Tahun ) telah diberi amanat menjadi Komandan Pemberantasan PKI, beliau orang yang berani terang-terangan menyatakan “Ganyang PKI” di Kediri.Dan telah membuktikannya dengan tindakannya.
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖