25/06/2014
Mungkin Pilpres tanggal 9 Juli 2014 nanti adalah pesta rakyat paling meriah setelah Pemilu 1999. Kehebohan ini tidak lepas dari figur Jokowi yang sejak menjadi Gubernur DKI tampil menjadi tokoh fenomenal dan menjadi penantang kandidat yang sudah bertahun-tahun mempersiapkan diri menjadi presiden, Prabowo Subianto. Persiapan matang Prabowo yang optimis dapat mewujudkan mimpinya mendadak mendapat tantangan tak terduga dari figur Jokowi yang populer. Persaingan kedua kubupun menjadi begitu panas.
Hingar-bingar kampanye kedua kubu, baik kampanye positif, kampanye negatif, bahkan kampanye hitam terus dilancarkan untuk untuk menggiring opini rakyat. Nyaris semua survey menjelang pilpres selalu mengunggulkan Jokowi. Akibatnya kubu Prabowo harus bekerja ekstra keras untuk mengejar ketertinggalan. Tidak heran kalau begitu banyak kampanye hitam muncul untuk menyerang figur Jokowi agar pop**aritasnya merosot. Hi**er mengatakan. "Sebarkanlah kebohongan, sebarkanlah terus-menerus, maka kebohongan itu akan menjadi kebenaran..." Pandangan ekstrim manusia macam Hi**er ini mungkin menjadi alasan munculnya kampanye hitam yang masif dan sistematis terhadap Jokowi.
Yang dirugikan tentu saja rakyat karena fakta-fakta tentang capres jadi terdistorsi oleh kebohongan, citra palsu, dan fitnah. Penggambaran sosok Prabowo sebagai pemimpin yang tegas dan berwibawa, sementara Jokowi sebagai capres boneka yang bermental pesuruh menjadi contoh distorsi opini yang terjadi. Ada pepatah, "Don't judge the book by its cover" (jangan menilai buku dari sampulnya). Pepatah ini juga berlaku saat kita memilih capres.
Pemilihan presiden kali ini adalah pertarungan dua figur: Prabowo vs Jokowi. Keduanya tentu bukan malaikat, mereka punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Kita tidak mungkin menemukan figur sempurna tanpa cacat, cukup kita pilih siapa diantara keduanya yang lebih baik dan lebih layak untuk menjadi presiden. Sesederhana itu sebetulnya. Untuk mencari siapa yang terbaik di antara mereka, kita perlu membandingkan keduanya paling tidak dalam tiga domain ini: masa lalu (bagaimana rekam jejak dan prestasi mereka), sekarang (seperti apa karakter mereka saat ini), dan masa depan (apa visi dan misi mereka). Jadi tidak cukup hanya menilai visi dan misinya saja, atau berdasarkan rekam jejaknya saja, semuanya harus menjadi bagian dari proses pemilihan yang kita lakukan. Dengan cara ini diharapkan kita mampu menilai isi, bukan sampul, dari kedua figur calon presiden.
Masa lalu
Saya tidak akan membahas secara lengkap rekam jejak keduanya karena akan terlalu panjang. Saya hanya mengambil apa yang penting dan menonjol saja. Memahami masa lalu Prabowo tidak lepas dari karir militernya di Komando Pasukan Khusus. Pernah diterjunkan dalam pertempuran di Timor-Timor, karirnya kemudian melesat, mungkin karena faktor statusnya sebagai menantu presiden saat itu. Dia pernah menjadi Danjen Kopassus dan kemudian Pangkostrad. Sayangnya karir militer Prabowo tidak berakhir manis, atas rekomendasi DKP dia diberhentikan dari dinas kemiliteran akibat berbagai pelanggaran. Prabowo adalah satu-satunya perwira tinggi yang diberhentikan dengan alasan pelanggaran selama sejarah TNI/ABRI.
Jokowi mengawali karir kepemimpinananya sebagai Walikota Solo. Kecintaan dan kepeduliannya pada rakyat serta keberhasilannya membangun kota Solo membuat Jokowi sangat dicintai rakyat Solo. Terbukti dia terpilih memimpin Solo untuk periode yang kedua dengan suara lebih dari 90%. Selain itu berbagai penghargaan juga diraihnya selama memimpin Solo.
Setelah terpilih menjadi Gubernur DKI, Jokowi hanya sempat menjalankan tugasnya kurang dari dua tahun sebelum akhirnya diminta untuk menjadi calon presiden. Akibatnya banyak sekali pekerjaan dan program-programnya yang belum tuntas. Tentu saja kurang adil kalau kita menilai Jokowi berdasarkan apa yang belum sempat diselesaikannya, cukuplah kita menilai berdasarkan apa yang telah dilakukannya selama menjadi Gubernur DKI. Dari sudut ini kerja kerasnya meningkatkan kesejahteraan rakyat (dengan KJP dan KJS), menangani banjir (perbaikan waduk, pembersihan kali), menata rumah-rumah kumuh (kampung deret), menata transportasi untuk mengurangi kemacetan, membenahi pasar-pasar tradisional, dan lain-lain, layak mendapat apresiasi.
Sekarang
Ada yang hal yang cukup menarik dari kedua figur. Muncul pencitraan yang kuat berkembang di masyarakat bahwa Prabowo adalah pemimpin yang tegas, berwibawa, dan bersikap ksatria, sementara Jokowi hanyalah capres boneka. Pencitraan ini menurut pengamatan saya cukup berhasil. Saya bertemu dengan teman saya, seorang dosen PTN ternama di Bandung, yang jelas-jelas mengatakan akan memilih Prabowo karena bermental pemimpin sementara Jokowi cuma bermental jongos yang tidak layak memimpin negeri ini. Memang agak mengejutkan juga mengingat dengan intelektualitas seperti itu ternyata masih juga ia terjebak menilai sampul, bukan isi. Untungnya penilaian dangkal semacam ini hanya bersifat sementara karena berakar pada upaya pencitraan, bukan pada realita. Ketika fakta-fakta tentang kedua figur semakin banyak terungkap dan waktu memilih semakin dekat, orang akan lebih serius mempertimbangkan realita dan mulai meninggalkan citra palsu.
Menurut saya berbagai fakta yang muncul selama proses kampanye pilpres sedikit banyak mulai memunculkan realita yang berbeda dari stereotip kedua figur yang selama ini berkembang. Contohnya mengenai ketegasan, faktanya Jokowi dengan tegas berani mencanangkan koalisi tanpa syarat demi pemerintahan yang bersih dan kuat. Sementara Prabowo yang sebelumnya dicitrakan sebagai pemimpin yang tegas justru melakukan tawar-menawar kekuasaan dengan rekan koalisi. Hasil pencitraan berbeda dengan realita, justru Jokowi yang lebih tegas dari Prabowo. Ketegasan bukanlah tercermin dari kata-kata yang keras dan pidato yang berapi-api, tapi seperti kata Jokowi, "Tegas buat saya adalah berani memutuskan dan berani mengambil resiko..."
Demikian juga dengan citra capres boneka yang sering dialamatkan kepada Jokowi semakin lama semakin jauh dari kenyataan. Orang banyak yang memiliki persepsi bahwa Prabowo merupakan sosok pemimpin sementara Jokowi hanyalah pengikut yang menjalankan perintah tuannya. Namun dalam tiga kali kesempatan debat capres setidaknya saya mencatat sudah tiga kali Prabowo menyatakan setuju dengan pemikiran Jokowi. Lalu cara berkampanye blusukan yang biasa dilakukan oleh Jokowi beberapa kali diikuti oleh Prabowo meski dengan gaya yang agak canggung. Selain itu Prabowo juga menunjukkan sikap tidak percaya diri dengan selalu mengikuti gaya penampilan B**g Karno, sementara Jokowi selalu tampil percaya diri dengan gaya sederhana apa adanya. Cukup dengan akal sehat kita bisa menyimpulkan siapa yang bermental pemimpin dan siapa yang bermental pengikut.
Beredarnya video yang menunjukkan sikap Prabowo menolak cipika-cipiki Jokowi saat di ruang tunggu sementara saat di panggung debat justru menyambut dengan hangat membuat mata publik terbuka. Betapa sikap hangat dan ksatria yang ditampilkan oleh Prabowo di hadapan publik hanyalah suatu pencitraan palsu yang berbeda dengan kenyataan sesungguhnya.
Masa depan
Visi dan misi yang ditawarkan kedua capres saya masukkan ke dalam domain masa depan karena ini menyangkut janji politik yang ditawarkan kepada rakyat jika kelak terpilih. Meski dengan formula kata-kata yang berbeda secara umum saya menilai keduanya sama-sama menginginkan Indonesia menjadi negara yang hebat, yang jaya, yang berdaulat. Yang menarik adalah bagaimana cara untuk mencapainya karena pada titik ini keduanya memiliki perbedaan yang mendasar.
Bagi Prabowo, kata kuncinya adalah pemberdayaan ekonomi. Baik dengan cara menutup kebocoran anggaran, mencegah kekayaan negara yang hilang, memberdayakan desa-desa dengan program 1 desa 1 milyar, menaikkan gaji pegawai negeri, upah buruh, dan sebagainya. Intinya bagi Prabowo Indonesia jaya melalui pemberdayaan ekonomi.
Bagi Jokowi pendekatannya berbeda. Jokowi memilih pendekatan yang lebih mendasar yaitu pemberdayaan manusia. Ini tampak nyata ketika dia merangkum seluruh visi dan misinya dalam dua kata: 'Revolusi Mental'. Fokus Jokowi pada pemberdayaan manusia juga tercermin dalam program KIS/KIP (Kartu Indonesia Sehat dan Kartu Indinesia Pintar) yang pada dasarnya merupakan upaya meningkatkan kualitas manusia Indonesia. Demikian p**a pada rencananya mengubah pola pendidikan yang mulai memberikan porsi lebih besar pada pendidikan karakter. Intinya, bagi Jokowi Indonesia akan hebat jika manusia-manusianya hebat. Otomatis dengan manusia yang berkualitas dan memiliki karakter, maka pemberdayaan ekonomi akan mengikuti dengan sendirinya.
Saya ambil ilustrasi sederhana. Soal korupsi, dalam jangka pendek memang menaikkan gaji bisa memberikan solusi, tapi kalau mental korup tidak diubah maka penambahan gaji hanya akan diikuti oleh naiknya kebutuhan. Jika sebelum gaji naik, mobilnya cukup Avanza maka setelah gaji naik mobil Avanza sudah terasa tidak layak lagi, maunya ganti BMW atau Lexus. Liburan juga tidak cukup ke Bali, maunya ke Singapura, dan sebagainya. Akhirnya gaji yang sudah besarpun masih terasa kurang dan kembali korupsi lagi.
Berbeda jika yang diubah adalah mental atau karakter manusianya. Memang ini bukan solusi jangka pendek, ini solusi jangka panjang. Dengan membangun manusia-manusia yang berkarakter, bermental jujur, siap hidup sederhana, dan tidak konsumtif seperti yang dicontohkan oleh Jokowi sendiri, maka berapapun gaji yang diterima (asalkan layak) akan terasa cukup. Tidak perlu mencari tambahan dengan cara korupsi.
Dengan melihat perbedaan ini saya bisa menyimpulkan bahwa apa yang ditawarkan oleh Jokowi jauh lebih baik dan memberikan solusi yang fundamental bagi persoalan bangsa. Saya pikir Jokowi mungkin mendapat bisikan malaikat sewaktu dia mengatakan "Revolusi Mental".
Jadi siapa yang anda pilih?