Kraton Jogja

Kraton Jogja Laman resmi Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat

X :
YouTube : Kraton Jogja
TikTok : .id
Instagram : & .event

Pada Kamis Kliwon, 21 Sapar Be 1960 (06/08), Keraton Yogyakarta baru saja menggelar upacara Khaul Surud Dalem di Kagunga...
15/08/2026

Pada Kamis Kliwon, 21 Sapar Be 1960 (06/08), Keraton Yogyakarta baru saja menggelar upacara Khaul Surud Dalem di Kagungan Dalem Tratag Gedhong Prabayeksa. Dalam khidmat, prosesi ini bertujuan untuk mendoakan dan mengenang keteladanan serta rekam jejak perjuangan Sinuhun Sri Sultan Hamengku Buwono IX.

Prosesi doa bersama dipimpin langsung oleh Sri Sultan Hamengku Bawono Ka 10. Hadir serta Para Putra Dalem Putri, Mantu Dalem, Wayah Dalem, Sentana Dalem, serta perwakilan Abdi Dalem Tepas/Kawedanan di lingkungan Keraton Yogyakarta.

Lantunan doa, zikir, dan tahlil dipanjatkan oleh Abdi Dalem Kanca Kaji untuk mendoakan almarhum Sri Sultan HB IX, serta memohon keselamatan bagi Sri Sultan HB Ka 10 beserta seluruh keluarga dan Abdi Dalem. Rangkaian acara diakhiri dengan pembagian hidangan Kersanan Dalem (menu favorit almarhum HB IX) dan dilanjutkan ziarah Utusan Dalem ke Kedhaton Saptarengga, Pajimatan Imogiri.

Selama bertakhta (1940–1988), Sri Sultan Hamengku Buwono IX tidak hanya membawa Yogyakarta masuk ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia dan menjabat sebagai Wakil Presiden RI ke-2, namun juga berjasa besar menyatukan organisasi kepanduan menjadi Gerakan Pramuka.

Semoga semangat pengabdian, kesederhanaan, dan cinta tanah air Sang Bapak Pramuka Indonesia senantiasa menyala dan menuntun langkah generasi penerus bangsa.

© Kawedanan Tandha Yekti

15/08/2026

Sahabat, tepat sehari menjelang Peringatan Hari Pramuka ke-65, yakni pada Kamis (13/08) lalu bertempat di Auditorium Sukarman, Perpustakaan Nasional RI, Jakarta Pusat, lembar-lembar gagasan Takhta, Darma, & Karsa resmi tersingkap. Agenda bermakna yang diinisiasi oleh Yayasan Tunas Bakti Indonesia Emas bersama Kwarda DIY ini dibuka dengan semarak dan enerjik melalui penampilan Tari Sugriwa Subali persembahan Kontingen Jambore Nasional Kwarcab Kulonprogo.

Lebih dari sekadar selebrasi karya literatur, momen ini mengajak untuk merunduk dan merenungi kembali jalinan hidup Bapak Pramuka Indonesia Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Momen yang berlangsung khidmat ini diresmikan secara langsung oleh Sri Sultan Hamengku Bawono Ka 10 dan turut dihadiri oleh Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed. (Mendasmen RI), Prof. H. E. Aminudin Aziz (Kepala Perpusnas RI), Dr. Mego Pinandito (Kepala ANRI), Prof. KH. Yudian Wahyudi (Kepala BPIP RI), Jenderal Pol (Purn) Ahmad Dofiri (Penasihat Khusus Presiden), Laksdya TNI Erwin S. Aldedharma (Wagub Lemhannas RI), GKR Mangkubumi (Ketua Pembina Yayasan), GKR Hayu (Ka. Kwarda DIY), Acep Somantri (Ketua Yayasan TBIE), hingga David Baden Powell (cicit pendiri Kepanduan Dunia) yang menjadi saksi betapa api keteladanan itu senantiasa abadi dan tetap relevan.

Rangkaian agenda yang juga berlangsung secara daring ini ditutup secara hangat dan mendalam melalui sesi bedah buku bersama kedua penulis buku, Dr. Harto Juwono dan Anis Ilahi Wahdati, serta dipandu oleh pemikiran jernih Prof. Dr. Agus Mulyana (Ketua MSI) selaku penanggap.

Mari bersama-sama menjaga agar jejak langkah kepemimpinan Sri Sultan Hamengku Buwono IX yang arif ini tak sekadar terpatri dalam lembaran sejarah, tetapi terus mengalir tajam menjadi jangkar moral bagi generasi penerus Nusantara. 🇮🇩⚜️

Sahabat Kraton Jogja, usai menghadirkan ulasan terkait Ndalem Pangeran, masih berkait kelindan dengan pameran Smara Bawa...
08/08/2026

Sahabat Kraton Jogja, usai menghadirkan ulasan terkait Ndalem Pangeran, masih berkait kelindan dengan pameran Smara Bawana, Tata Ruang Kasultanan Yogyakarta, media sosial dalam beberapa pekan ke depan akan membahas salah satu pesanggrahan peninggalan Sri Sultan Hamengku Buwono VII, yaitu Pesanggrahan Ambarrukmo.

Berbagai informasi mengenai pesanggrahan tersebut akan diulas secara komprehensif. Sahabat Kraton Jogja dapat bertanya terkait topik tersebut melalui .

Simak ulasan lengkapnya selama beberapa hari ke depan melalui media sosial Kraton Jogja:
Instagram: Keraton Yogyakarta
Facebook: Kraton Jogja
Tiktok: kratonjogja.id
Website: kratonjogja.id
_____

Friends of , following our recent post about Ndalem Pangeran, which is still closely related to the "Smara Bawana: Spatial Planning of the Yogyakarta Sultanate" exhibition, our social media channels will feature one of Sri Sultan Hamengku Buwono VII's royal retreats over the next few weeks: Pesanggrahan Ambarrukmo.

All of the details about this royal retreat will be covered in depth, and you can ask questions about it using the hashtag .

Stay tuned for more coverage over the next few days on our social media channels:
Instagram: Keraton Yogyakarta
Facebook: Kraton Jogja
Tiktok: kratonjogja.id
Website: kratonjogja.id

FIGUR | ꦩꦤꦸꦁꦱMas Riya Pringgoseno (asma timur Suwantoro) majeng dados kanca beksa karaton wiwit tahun 2010. Piyambakipun...
01/08/2026

FIGUR | ꦩꦤꦸꦁꦱ

Mas Riya Pringgoseno (asma timur Suwantoro) majeng dados kanca beksa karaton wiwit tahun 2010. Piyambakipun malah sampun amakili Karaton Ngayogyakarta kagem semoan ing monca negari, antawisipun dhateng Abu Dhabi lan Jepang. Ananging, piyambakipun saweg saged ngempelaken tekad majeng dados Abdi Dalem wonten ing tahun 2020. Boten dangu sasampunipun kawisuda Abdi Dalem, Pak Toro, menawi sami ngaturi, kakersahaken dening Penghageng Kawedanan Kridhamardawa KPH Notonegoro majeng dados pemucal beksa ing Kawedanan kasebut, laras kaliyan ayahan pedintenanipun minongka guru tari.

Lampahing wekdal ing sawatawis warsa ngersahaken piyambakipun majeng dados prajurit Langenastra. Sasampunipun pinten-pinten dasawarsa suwuk, Bregada Langenastra majeng semoan wonten ing Hajad Dalem Garebeg Besar JE 1958/2025M kapengker. Mas Pringgoseno kapatah Panji setunggal, ngiras hanggladhi lampah tayungan dhumateng para prajurit sesarengan pemucal sanesipun. Wucalan paling ageng ingkang katampi saking Karaton inggih unggah-ungguh, pemanggihipun, mligi ing lembah manah. Mas Riya Pringgoseno nggadhahi tekad majeng Abdi Dalem ing Karaton Ngayogyakarta ing salaminipun salira taksih mikantuki, “Sasaged kula, sakiyat kula sadumuginipun yuswa pinten.”

© Kawedanan Tandha Yekti



Mas Riya Pringgoseno, born Suwantoro, has been a royal court dancer since 2010. However, it was not until 2020 that he decided to become an Abdi Dalem. Shortly after his inauguration as an Abdi Dalem, Pak Toro, as he is affectionately known, was asked by Penghageng Kridhamardawa KPH Notonegoro to serve as a pemucal (instructor) for the dancers in Kridhamardawa, in addition to his day job as a dance teacher.

His journey through time led him to join the Langenastra royal troop a few years later. After decades of inactivity, the Langenastra Brigade made its first public appearance in 2025, during the Hajad Dalem Garebeg Besar Je 1958 ceremony. Mas Pringgoseno was assigned the role of Panji Satu, and he trained the soldiers the lampah tayungan dance alongside other dance instructors. The most important lesson he learned from the pal

Hubungan historis yang mendalam antara Daerah Istimewa Yogyakarta dan Kabupaten Sragen kembali disegarkan melalui agenda...
31/07/2026

Hubungan historis yang mendalam antara Daerah Istimewa Yogyakarta dan Kabupaten Sragen kembali disegarkan melalui agenda akbar Muhibah Budaya Mataraman. Diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY bersama Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat, rangkaian acara ini menjadi panggung perekat sejarah sekaligus upaya nyata melestarikan budaya adiluhung Mataram.

Rangkaian kegiatan diawali dengan Workshop Busana Adat Gaya Yogyakarta, Workshop Tari, hingga Workshop Macapat di Sentral Industrial Kerajinan Kreatif Sragen pada 5-7 Juli 2026. Tak sekadar praktik lahiriah, para pegiat seni dan warga lokal diajak memahami filosofi, pakem, serta etika mendalam di balik warisan budaya tersebut.

Momen sakral terjadi saat Gubernur DIY sekaligus Raja Keraton Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X, melakukan napak tilas ke situs-situs bersejarah tempat gerilya Pangeran Mangkubumi (Sri Sultan HB I), seperti Pendopo Pandak, Goa Mangkubumi, Petilasan Sentana, dan Sendang Sumberan. Sragen yang dahulu dikenal sebagai Bumi Sukowati merupakan pilar utama dan basis perjuangan lahirnya trah Mataram Yogyakarta sebelum Perjanjian Giyanti 1755.

Kamis malam (9/7) Bertempat di Kantor Pemerintahan Terpadu Kabupaten Sragen, malam puncak dihadiri oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X dan Bupati Sragen Sigit Pamungkas. Pentas diplomasi budaya ini menampilkan Tari Golek Kutut Manggung, Beksan Lawung Ringgit (Yasan Dalem Sri Sultan Hamengku Buwono I), serta Seni Macapat yang dibawakan langsung oleh para peserta workshop.

"Sukowati bukanlah sekadar persinggahan, melainkan salah satu pilar yang menopang lahirnya Ngayogyakarta Hadiningrat." Ujar Sri Sultan Hamengku Buwono X.

Semoga momentum ini tak hanya menguatkan ingatan sejarah, tetapi juga mempererat sambung roso dan persaudaraan antar daerah untuk generasi mendatang.

Ada beberapa Ndalem yang fasad bangunannya dirombak dan beralih fungsi menjadi gedung sekolah seperti Ndalem Mangkukusum...
29/07/2026

Ada beberapa Ndalem yang fasad bangunannya dirombak dan beralih fungsi menjadi gedung sekolah seperti Ndalem Mangkukusuman yang sekarang menjadi SMA PIRI, Ndalem Mangunjayan yang berubah menjadi SMA Budi Luhur, dan Ndalem Pugeran yang bersalin wujud menjadi SMA N 7 Yogyakarta. Sementara itu, Ndalem Purboseputran kini menjadi Kampus Pascasarjana ISI Yogyakarta, dan Ndalem Mangkuyudan beralih menjadi Politeknik Kesehatan Kemenkes.

Ada p**a Ndalem yang sebagian areanya beralih fungsi, kebanyakan menjadi sekolah, seperti bagian barat Ndalem Suryodiningratan yang berubah wujud menjadi SMP Stella Duce 2, dan bagian pendopo Ndalem Kumendaman yang menjadi SMP Taman Dewasa. Bagian samping dan pendopo Ndalem Suryonegaran difungsikan sebagai SMA Gajah Mada. Selain itu, kegiatan belajar mengajar di SD Netral C menggunakan sebagian besar area Ndalem Sosrodipuran, dan sebagian area Ndalem Yudonegaran kini difungsikan sebagai kediaman pangeran.

Keberadaan Ndalem memiliki nilai penting secara historis maupun kultural sebagai penanda eksistensi Keraton Yogyakarta. Dibangunnya Ndalem-ndalem tidak lepas dari wujud pengayoman raja sebagai pelindung, sekaligus bentuk penghargaan untuk para pangeran dan kerabat yang setia mengelola tanah Sultan melalui hak serta kewenangan mereka. Bangunan bersejarah tersebut menjadi titik-titik tumbuh kehidupan masyarakat keraton yang menjadi inti kehidupan awal kota Jawa.

Saat ini, melalui Keputusan Wali Kota Yogyakarta Nomor 435 Tahun 2018 dan Nomor 297 serta 406 Tahun 2019 yang disusun berdasarkan Perda DIY Nomor 6 Tahun 2012 tentang Pelestarian Warisan Budaya dan C***r Budaya, keberadaan Ndalem pun mulai diperhatikan dan dijadikan sebagai bangunan warisan budaya.

© Kawedanan Tandha Yekti



Several Ndalem have been renovated and repurposed as educational institutions. Notable examples include Ndalem Mangkukusuman, now SMA PIRI; Ndalem Mangunjayan, which became SMA Budi Luhur; and Ndalem Pugeran, transformed into SMA 7 Yogyakarta. Additionally, Ndalem Purboseputran now serves as the ISI Yogyakarta Graduate School campus, while Ndalem Mangkuyudan has been converted into the Health Polytechnic of the Mini

Di sekitar Keraton Yogyakarta, terdapat tidak kurang 40 Ndalem yang dahulu ditinggali putra-putri dan kerabat Sultan. Sa...
28/07/2026

Di sekitar Keraton Yogyakarta, terdapat tidak kurang 40 Ndalem yang dahulu ditinggali putra-putri dan kerabat Sultan. Saat ini sebagian kepemilikannya masih atas nama keraton, sementara lainnya menjadi fasilitas umum maupun milik pribadi.

Beberapa Ndalem yang berada di dalam benteng keraton, misalnya: Benawan, Purbonegaran, Joyokusuman, Kaneman, Suryoputran, Ngadisuryan, Prabukusuman, Madukusuman dan Mangkubumen. Hingga sekarang, sebagian Ndalem ini masih dipergunakan sebagai tempat tinggal, namun sebagian lainnya mengalami perubahan fungsi.

Ndalem Mangkubumen kini direvitalisasi sebagai ruang budaya guna mendukung Hajad Dalem Garebeg. Ndalem Pakuningratan pernah disewakan untuk Akademi Seni Drama dan Film (ASDRAFI) pada 1955. Pendopo Ndalem Kaneman saat ini dimanfaatkan sebagai sanggar tari yang dikelola Yayasan Siswa Among Beksa, sedangkan Ndalem Suryoputran digunakan sebagai asrama polisi.

Beberapa Ndalem yang terletak di luar benteng keraton di antaranya Yudhaningratan atau Yudonegaran, Mangunkusuman, Padmokusuman/Suryonegaran, Notoprajan, Puspodiningratan, Tejokusuman, Kertonegaran, Kumendaman, Pujokusuman, Brontokusuman, Purbadirjan, Suryowijayan, Suryobrangtan, Notoyudan, Sosrodipuran, Kusumodiningratan, dan Suryaden.

© Kawedanan Tandha Yekti



Around the Palace of Yogyakarta, there are over 40 Ndalem, which were historically homes to the Sultan’s children and relatives. While some remain under palace ownership, others have been repurposed as public facilities or are privately owned.

Notable Ndalem within the palace walls include Benawan, Purbonegaran, Joyokusuman, Kaneman, Suryoputran, Ngadisuryan, Prabukusuman, Madukusuman, and Mangkubumen. Currently, some of these Ndalem still serve as residences, while others have transitioned to different uses.

Ndalem Mangkubumen is now being revitalized as a cultural space to accommodate Hajad Dalem Garebeg. In 1955, Ndalem Pakuningratan was leased to the Academy of Drama and Film Arts (ASDRAFI). Additionally, the Pendopo of Ndalem Kaneman is now utilized as a dance studio by the Siswa Among Beksa Foundation, and Ndalem Suryoputran functions as a police dormitory.

So

Keraton Yogyakarta melalui Kawedanan Kridhamardawa kembali menghadirkan peringatan Wiyosan Dalem (Hari Kelahiran Sri Sul...
27/07/2026

Keraton Yogyakarta melalui Kawedanan Kridhamardawa kembali menghadirkan peringatan Wiyosan Dalem (Hari Kelahiran Sri Sultan Hamengku Bawono Ka-10) berupa Uyon-Uyon Hadiluhung pada bulan Juli 2026. Sebagai sajian perdana di tahun Be 1960 sekaligus mendekati momentum Hari Anak Nasional, maka Uyon-Uyon Hadiluhung kali ini merupakan edisi spesial hari anak dengan menampilkan: Beksan Golek Layung Seta dan Gendhing Dolanan Anak oleh Karawitan Anak dari Omah Cangkem Mataraman.

Beksan Golek Layung Seta sendiri tercipta sekitar tahun 1906, hampir bersamaan dengan Golek Gambir Sawit dan Golek Kutut Manggung. Tarian ini diciptakan oleh KRT. Wiraguna, putra KGPA. Mangkubumi, menggambarkan tingkah laku perempuan yang berhias diri dengan gembira sebab sedang merasa kasmaran. Dalam penampilannya pada Uyon Uyon Hadiluhung malam Selasa Wage (20/07) lalu, tarian ini dibawakan lima orang Mataya putri dengan busana gladhen.

Uyon-Uyon Hadiluhung bulan ini juga menjadi ruang berekspresi anak-anak dari Karawitan Anak Omah Cangkem Mataraman yang menghadirkan serangkaian Gendhing Dolanan Anak. Tembang-tembang dolanan anak seperti Menthok-Menthok, Kucingku, Kupu Kuwi, dan sebagainya dibawakan dengan ceria dan penuh kemeriahan oleh tak kurang dari 70 anak dan remaja.

Mana kah momen favorit Sahabat di Uyon-Uyon Hadiluhung Spesial Hari Anak kemarin? Mari bagikan ceritanya di kolom komentar!

© Kawedanan Tandha Yekti

TAMANAN | ꦠꦩꦤꦤ꧀Sahabat, di bulan Juli 2026 kali ini bertepatan dengan bulan yang memuat momen Hari Anak Nasional, rubrik...
27/07/2026

TAMANAN | ꦠꦩꦤꦤ꧀

Sahabat, di bulan Juli 2026 kali ini bertepatan dengan bulan yang memuat momen Hari Anak Nasional, rubrik tamah anak Tamanan menghadirkan seri ke-60 bertema “Plesiran: Pengalaman Pertama Kirana ke Pasar Tiban”.

Mengunjungi ruang publik atau pasar tradisional merupakan salah satu kegiatan edukatif yang bisa dilakukan oleh siapa pun, termasuk anak-anak. Salah satunya Pasar Tiban yang dapat diamati secara langsung hiruk-pikuknya dan dirasakan kedekatan budayanya bagi generasi penerus. Pasar kaget ini merupakan bagian dari ruang sosial masyarakat yang memainkan peran penting dalam menjaga denyut nadi tradisi dan interaksi lokal.

Dalam Komik Strip kali ini, Keraton Yogyakarta memberikan ilustrasi mengenai petualangan Kirana menelusuri keseruan suasana Pasar Tiban. Orang tua dapat mengajak anak untuk membaca bersama dan melakukan diskusi lanjutan setelahnya.

Sahabat Kraton Jogja dapat menyimak komik dan audio lengkapnya di situs web resmi kratonjogja.id.

© Kawedanan Tandha Yekti

Malam perlahan turun di pelataran Museum Benteng Vredeburg, Sabtu (19/7). Di bawah langit Yogyakarta yang teduh, nada-na...
23/07/2026

Malam perlahan turun di pelataran Museum Benteng Vredeburg, Sabtu (19/7). Di bawah langit Yogyakarta yang teduh, nada-nada dari negeri seberang menjelma bahasa yang tak memerlukan terjemahan. Bersama Yogyakarta Royal Orchestra (YRO), Yogyakarta Royal Choir (YRC), dan para musisi Italia di bawah arahan maestro Aurelio Canonici, konser Bel Canto: The Italian Voice kembali menjadi ruang perjumpaan dua budaya yang dipersatukan oleh musik.

Selama lebih dari dua jam, karya-karya Gioachino Rossini, Vincenzo Bellini, dan Gaetano Donizetti mengalun bak kisah yang dituturkan melalui melodi. Bersama tiga solois Italia—Soprano Eva Polimeni, Tenore Daniele Falcone, dan Baritone Matteo Mancini—setiap aria menghadirkan cinta, harapan, kehilangan, hingga semangat yang bergelora. Tradisi opera Italia pun turut menemukan rumahnya di Yogyakarta, membuktikan bahwa keindahan mampu melampaui batas bahasa dan budaya.

Konser hasil kolaborasi Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat, Kedutaan Besar Italia di Indonesia, dan IIC Jakarta ini turut dihadiri oleh GKR Mangkubumi, RM. Drasthya Wironegoro, Duta Besar Italia untuk Indonesia Roberto Colaminè, Direktur Istituto Italiano di Cultura (IIC) Michele Cavallaro, Wamendiktisaintek Prof. Stella Christie, Ph.D., serta Kepala Bakamla RI Laksamana Madya TNI Dr. Irvansyah, S.H., M.Tr.Opsla.

Antusiasme publik telah terasa sejak masa reservasi dibuka, 1.300 tiket habis dalam waktu singkat, menjadi bukti bahwa konser tahunan ini semakin mendapat tempat di hati masyarakat.

Puncak emosi hadir saat Guerra, Guerra! dari opera Norma menggema. Denting orkestra, paduan suara, dan seruan yang berulang membangkitkan energi hingga penonton dan tamu undangan memberikan standing ovation.

Malam kemudian ditutup dengan encore Tutto cangia, il ciel s’abbella yang kembali mengundang tepuk tangan panjang dan seruan bravi. Yogyakarta dan Italia pun kembali membuktikan bahwa musik adalah jembatan persahabatan yang mampu menyatukan manusia melampaui ruang, bahasa, dan waktu.

© Kawedanan Tandha Yekti

Address

Rotowijayan
Yogyakarta City

Opening Hours

Tuesday 08:30 - 14:30
Wednesday 08:30 - 14:30
Thursday 08:30 - 14:30
Friday 08:30 - 14:30
Saturday 08:30 - 14:30
Sunday 08:30 - 14:30

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Kraton Jogja posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Organization

Send a message to Kraton Jogja:

Shortcuts

Share