31/08/2026
AGRESSI MILITER SOEKARNO KE MALUKU, MEMBUAT PUSAT KOTA AMBON LUMPU TOTAL, SEHINGGA MENYEBAR SAMPAI KE HARUKU, BURU SAMPAI 13 TAHUN PERANG DI NUSA INA
Model "propaganda" dalam menjelaskan bagaimana media massa bekerja sebagai sistem penyaring informasi. Melalui 5 filter: kepemilikan, iklan, sumber berita, flak, dan ideologi anti-komunis, media cenderung memproduksi berita yang selaras dengan kepentingan negara dan korporasi. Akibatnya, korban agresi dapat diposisikan sebagai pelaku, sementara pelaku agresi diposisikan sebagai pihak yang "menjaga ketertiban". Model ini menjelaskan proses pembalikan peran moral dalam pemberitaan konflik. Noam Chomsky - Manufacturing Consent, Chomsky dan Herman (1988)
APA YANG TERJADI SEBELUMNYA
Pada tahun 1949, Belanda kalah dalam pertempuran politik dan mendirikan Federasi Indonesia Serikat (RIS).
RIS didirikan sebagai penerus hukum untuk Hindia Belanda. Pada awalnya Republik Indonesia Serikat terdiri dari negara-negara yang berbeda satu sama lain dalam hal bahasa, budaya dan sejarah. Masing-masing negara memiliki beberapa kekuatan otonom. Saat kekuatan otonom mengancam untuk membahayakan, ada kesempatan untuk negara memilih penarikan dari Federasi. Juga daerah (sebagai bagian dari negara) memiliki jenis hak otonom. Dalam serah terima juga berbicara tentang hak setiap bangsa untuk merdeka.
KONPERENSI MEJA BUNDAR
Awal Konperensi Meja Bundar (RTC) di Den Haag dimana kaum minoritas di Indonesia mendapatkan kesempatan untuk menyerahkan daftar masalah yang mempengaruhi mereka. Perwakilan dari masyarakat Minahasa, Maluku dan Timor memberitakan tetap mau keluar dari Republik Indonesia Serikat.
Pada 11 Maret 1947, Dewan Maluku Selatan memutuskan untuk sementara berpartisipasi dengan Negara Indonesia Timur (NIT). Dengan syarat bahwa jika NIT tidak bisa menjamin kepentingan Maluku Selatan dalam federasi, maka Maluku Selatan memiliki hak untuk menarik diri dari Federasi. Tetapi ketika pada 15 Februari 1950, Presiden Soekarno dari Republik Indonesia, mengumumkan pembentukan sebuah Negara Kesatuan dengan kekerasan, SOEKARNO segera melikuidasikan 15 negara yang lain dengan agressi Militer. Kemudian pada bulan Maret 1950, Dr. Chr.R.S. Soumokil, Menteri Kehakiman dari Negara Indonesia Timur, mengusulkan untuk Tjokorda Gde Raka Soekawatti, presiden dari Negara Indonesia Timor, untuk memutuskan semua hubungan dengan RIS dan memproklamasikan kemerdekaan Negara Indonesia Timur. Atas tekanan dari Soekarno, Tjokorda Gde Raka Suekawatti menyerah dan pada 16 April, 1950 Negara Indonesia.
Timur dibubarkan.
Di bawah pimpinan Mr.Dr. Chr. Soumoikil dan Ir. J.A. Manusama, yang tidak setuju untuk bergabung dengan Negara Kesatun, maka Republik Maluku Selatan yang merdeka dan berdaulat diproklamirkan pada 25 April 1950. Selain itu, para pemimpin RMS didukung oleh pertemuan massa besar dalam Kongres Kilat di Ambon. J.H. Manuhutu menjadi presiden pertama dari Republik Maluku Selatan. Pada tanggal 2 Mei 1950 tepat pada jam 10.00 pagi bendera RMS dinaikkan di depan gedung Pemerintah. Dua hari sebelum tanggal 4 Mei 1950, atas keputusan Pemerintah di Berita Ambon menempatkan bentuk dan makna dari bendera baru dengan ukuran: 2 sampai 3.
- Warna: Biru, Putih, Hijau, Merah
- Rasio bendera: 1/9: 1/9: 1/9: 6/9 25 Mei 1950
Dan setalah itu, Undang-Undang Dasar Sementara “Republik Maluku Selatan” disahkan oleh wakil-wakil Rakyat Islam dan Kristen dari pelbagai daerah. Sultan Ternate tidak hadir sebab diasingkan ke Jawa. Maluku pada waktu itu di blokade oleh kapal-kapal perang Indonesia, tulis Nyonya Soumokil, Isteri dari mendiang Mr. Christiaan Robbert Steven Soumokil dalam buku 13 Tahun Perjuangan di Nusa Ina, halaman ke 8.
Setelah proklamasi Republik Maluku Selatan, banyak orang Maluku di Ambon berada dalam suasana hati yang gembira, sebab mereka memiliki negara sendiri. Mereka percaya atas dasar perjanjian RTC untuk mendapatkan dukungan dari Belanda dan PBB. Tapi itu adalah harapan sia-sia. Di sisi lain, Indonesia melihat proklamasi RMS sebagai upaya pemisahan diri.
Maka pada tanggal 15 Juli 1950 Setelah upaya negosiasi antara dr. J. Leimena (wakil dari Soekarno) dan Mr.dr. Chr. Soumokil telah gagal dan pasukan RI menembus daerah RMS, presiden J.H. Manuhutu menyatakan RMS ada dalam keadaan perang dan pengepungan (SOB). Pada Agustus 1950 sesuai informasi dari Pulau Haruku bahwa Divisi Siliwangi yang ditugaskan Soekarno untuk menumpas RMS telah berhasil memprovokasi Masyarakat Kailolo dan RMS sehingga Divisi Siliwangi membakar Negeri Kailolo, sesuai dengan kesaksian Saptenno, Sarsan K. Malawau, Waitina Sinay, Ruben Sinay dan Tn. Ohoilulin selaku Kepala Pasukan RMS Pulau Haruku.
Mereka mengatakan bahwa personal AP-RMS di Pulau Haruku hanya 40 0rang, mana mungkin katong mau bakar keluagra sendiri, yang punya senjata, pesawat tempur dan bom Adalah TNI dari Divisi Siliwangi. Hal sepura terjadi juga dengan Negeri Latu, Sepa dan Kaibobo, menutur kesaksian Sarsan Malawau, Tn. Nussy, sekalipun nTn. Nussy berkhianat dan berbalik kepada Indonnesia, bahwa yang membakar Negeri Latu, Sepa dan Kaibobo Adalah TNI Divisi Siliwangi, namun disisi lain orang Latu juga meminta bantuan dan berterima kasih kepada Sarsan Sakranus Malawau dalam membantu Negeri Latu disaat Negeri mereke Dibakar.
Jadi kejahatan negara Indonesia ini sudah diatur secara sistematis dan terstrukur, agar opini negative terhadap RMS, membuat kepercayaan publik menurun. Buku Membongkar Konspirasi dibalik Konfik Maluku, karangan Semual Waileruny juga membongkar kejahatan negara Indonesia dengan secara terpecinci, bahwa Negara Indoneisa dalang dibalik Konflik Maluku.
Lewat buku Membongkar Konspirasi di balik Konflik Maluku, Semuel Waileruny mendapat banyak sekali penghargaan international.
Pada 28 September 1950 Militer Indonesia lakukan blokade laut dan invasi di Ambon, sehingga Pada 5 Nopember 1950 Kota Ambon jatuh di tangan tentara Indonesia. Ketika akhir Nopember 1950 TNI menyerang negeri-negeri pegunungan di kota Ambon, maka Komando Angkatan Darat memutuskan untuk mengevakuasi pemerintah RMS ke p**au Seram. Pada tanggal 4 dan 5 Desember 1950, pemerintah RMS dan APRMS mundur ke p**au Seram. Selama perang di Ambon lima dari tiga belas menteri telah jatu di tangan musuh. Pada sesi pertama tanggal 15 Januari 1951 di Walemoit, Pemerintah memutuskan untuk melakukan reorganisasi. Atas usul dari Mr.Dr. Chr. Soumokil pemerintah baru mendapat nama “Pemerintah Perjuangan”. Susunan Pemerintah Perjuangan ada seperti berikut:
- Presiden J.H. Manuhutu, Presiden
- Ptn. A. Wairisal, Perdana Menteri dan Menteri dalam Negeri,
- Ptn. Mr.Dr. Chr. Soumokil, Menteri Luar Negeri dan Keadilan
- Ptn. Ir. J.A. Manusama, Menteri Pertahanan
- Ptn. Raya Ibr. Ohorella, Menteri Bekalan Makanan
- Ptn. G.H. Apituley, Menteri Kewangan
- Ptn. M.A. Tetelepta, Menteri Pelajaran
- Ptn. Z. Pesuwarissa, Menteri Penerangan dan Sosial
- Ptn. Dr. M. Haulussy, Menteri Kesehatanan
- Ptn. H.F. Pieter, Menteri Verbinding
CATATAN DARI NJ. J. SOUMOKIL-TANIWEL TENTANG 13 TAHUN PERJUANGAN RMS DI NUSA INA
Sehabis evacuasi Pemerintah RMS dari Ambon ke Ceram, Mr.Dr.Chr. Soumokil dengan pasukannya tinggal di negeri Sumeit. Dalam bulan Januari 1951, pada pertama kali, Mr.Dr. Chr. Soumokil dari negeri Sumeit, datang ke Hukuanakota, sesuai sesaksian Isteri dari Mendiang Mr. Soumokil.
Pada waktu itu semua gadis dapat perintah dari Raja dan toko agama untik penjemputan Mr. Soumokil besar-besaran. Banyak orang datang untuk menari, kecuali Nyonya Soumokil dan saudaranya Sophia Taniwel tidak turut menari melainkan mereka sembunyi.
Mr.Dr. Chr. Soumokil tinggal beberapa hari di Negeri Hukuanakotta, sesudah itu ia meneruskan perjalanannya ke Kamboti, atau Hunitetu, tempat tinggal dari Tn. Th. Nussy dengan pasukan panah panah atau pasukan Honge. Mengapa tempat ini dinamakan Kamboti? Sebab siapa yang penghianat bangsa, maka kepalanya di potong di-isi didalam kamboti dan di taru dimuka tempat tinggal dari Tn. Nussy, agar supaya semua orang bisa dapat lihat itulah hukuman terhadap seorang penghianat bangsa. Dari Kamboti Mr.Dr. Chr. Soumokil kembali ke tempat tinggalnya di negeri Sumeit.
Pada Maret 1951 Mr.Dr. Chr. Soumokil pindah dari negeri Sumeit, datang tinggal di negeri Hukuanakota dan tinggal di rumah dari Keluarga R. Wattimena. Pada tanggal 19 October 195, Mr. Soumokil menerima kabar dari Tn. Th. Nussy, bahwa musuh akan menyerang tempat-tempat tinggal dari pasukan A.P.R.M.S. Teristimewa tempat tinggal dari Th. Nussy dengan pasukannya di Kamboti (Hunitetu, Seram Barat).
Tn. Nussy dengan pasukannya mundur, dari Hunitetu, datang di negeri Hukuanakota. Sebagian pasukan dari Th. Nussy, teruskan perjalannya ke negeri Ahiolo. Huku Kecil dan Abio.
Desember 1951 Pemerintah RMS yang lain-lain pada waktu itu semua tinggal di Ahiolo.
Mr. Soumokil menerima sepucuk surat dari Ahiolo, dengan permintaan untuk datang merayakan Hari Natal dengan pemerintah yang lain lain di Ahiolo. Akan tetapi Mr. Soumokil tidak setuju, karena pada waktu itu keadaan tidak mengijinkan untuk merayakan Natal bersama. Jika pada waktu itu Mr. Soumokil merayakan Natql di Ahiolo, maka musuh sudah menunggu kedatangan Mr. Soumokil. Dan berarti perjuangan RMS sudah selesai. Tidak ada lagi bendera yang berwarna biru, putih, hijau dan merah.
Masih berlanjut dengan kesaksian Nyonya Soumokil, selaku isteri dari Mr. Soumokil bahwa Pada tanggal 24 Desember 1951 pagi, TNI sudah menyerang negeri Ahiolo. Tanggal 24 Desember 1951 juga katong p**ang ke negeri Hukuanankota untuk merayakan Hari Natal. Kami bertemu dengan Raja Seit dan keluarganya. Pada tanggal 25 Desember pagi kami sudah tinggalkan Raja Seit dan keluarganya. Sesudah itu maka kami tidak pernah lagi bertemu dengan Raja Seit. Kami kembali ke tempat kami, yang bernama Air Dobi. Di pertengahan jalan menuju walang, kira-kira jam 5 sore, maka kami dengar bunyi tembahkan yang ramai, sebab musuh sudah masuk negeri kami Hukuanakota. Mr. Soumokil dan Nyonya Soumokil meneruskan perjalanan menuju tempat tinggal. Sejak itu Mr. Soumokil tidak pernah lagi hubungan dengan pemerintah lain-lain, kemudian kami mendengar bahwa mereka sudah ditangkap oleh musuh pada tanggal 5 Januari 1952.
Bersambung……