03/12/2022
Sabtu, 3 Desember 2022
Dua bulan penantian...
Di sebelah saya adalah seorang anak yang datang ke Taiwan bukan untuk bekerja seperti kalian semua. Dia didatangkan ke Taiwan atas permintaan terakhir Ibundanya yang mengidap kanker darah dan menjalani perawatan dua tahun lebih di Taiwan.
Pertengahan tahun ini kondisi ibunya semakin kritis. Pencangkokan sumsum yang seharusnya dilakukan secepat mungkin terpaksa diundur karena kondisi badan beliau sudah menolak/tidak kuat lagi untuk lakukan operasi.
Anak hebat ini datang atas usaha dan jerih payah TIWA untuk memenuhi permohonan terakhir ibundanya. Saat itu kondisi ibunya sangat kritis sehingga dia hanya dapat menjenguk beberapa jam saja untuk sekali waktu.
Pada akhir September kemarin, Ibundanya mengembuskan napas terakhir di Rumah Sakit National Taiwan University Hospital- Taipei City, Setelah dua tahun setengah menjalani pengobatan dan perawatan didampingi TIWA.
Kami dari Ganas Community selaku organisasi yang ikut menangani kasus Almarhumah, Kabar Bumi, dan TIWA memberitahukan masalah pemulangan jenazah kepada KDEI.
Namun saat itu, mereka bilang KDEI bagian ATNAKER belum pernah menangani kasus PMI seperti ini.Sebab PMI resmi yang meninggal dunia di Taiwan adalah tanggungjawab majikan dan agensi.Sedangkan almarhumah meninggal dalam keadaan tidak ada agency dan majikan
Lebih kaget lagi, mereka bilang bahwa selama ini KDEI selalu melarang pekerja untuk pulang ke Indonesia dalam keadaan sakit. Sejenak saya berpikir, kenapa sampai detik ini masih banyak pekerja yang lolos dipulangkan sepihak dalam keadaan sakit? Terlebih lagi, beberapa teman yang saya temui di lapangan, saat mereka meminta perlindungan namun mereka justru diminta pulang saja oleh orang-orang yang bekerja di KDEI. Hanya Oknum???
Baik. Dan kamipun menjelaskan saat pertama kali kasus Almarhumah masuk, posisi beliau justru sudah diputus kontrak oleh majikan dan dipaksa pulang ke Indonesia oleh agensi. Di posisi demikian, siapakah yang harus disalahkan??? Apakah juga kami, yang berusaha memanusiakan manusia sedemikian rupa demi mendapatkan hak sehatnya? Ibarat saat sehat tenaga diperas habis, namun di saat sakit kita dibuang layaknya sampah. Mau tidak mau, sadar tidak sadar, itulah kondisi pekerja migran di Taiwan sampai detik ini.
Pemerintah Indonesia pusat mengatakan apapun itu status PMI jika meninggal dunia maka biaya kepulangan jenazah tidak boleh dibebankan kepada keluarga.Secara UU memang mengatakan begitu bukan? Dan Kabar Bumi pun membantu proses atas kuasa dari putra almarhumah.Baik, kami tunggu dan masih sabar menunggu.
Sampai pada pertengahan bulan November kemarin, surat kedua dari Kabar Bumi kepada BP2MI kembali dilayangkan dimana isinya adalah sama,permohonan kepulangan jenazah Almarhumah agar segera diurus oleh yang berwenang di Taiwan. (Saking apanya sampai Kabar Bumi melayangkan surat kedua?)...silahkan berpikir sendiri.
Dan tepat dua bulan setelah almarhumah menghembuskan napas, akhirnya terjawab dari perwakilan negara kita bahwa jenazah akan diterbangkan hari ini dengan menggunakan pesawat Cathay Pasific yang akan transit di Hongkong terlebih dulu.
Dua bulan lamanya, kami semua terutama anak beliau menunggu kabar ini. Jasad yang sekian lama disimpan didalam freezer tadi malam dimandikan dan disholatkan. Jasad yang tentunya sudah rindu untuk dikebumikan secepatnya. Dua bulan....
Almarhumah memiliki donasi dari para donatur TIWA. Donasi tersebut dulunya akan digunakan untuk operasi pencangkokan sumsum tulang belakang. Namun beliau terlebih dulu berpulang ke sisi Tuhan YME. Jadi donasi tersebut akan TIWA berikan keseluruhannya kepada anak Almarhumah.
Melihat anak beliau yang belum cukup usia, dan kekhawatiran membawa uang dalam jumlah banyak ke Indonesia, sesuai kesepakatan anak tersebut sebagai ahli waris, uang tersebut akan digunakan untuk;
1. Biaya pemakaman saat jenazah tiba di Indonesia.
2. Biaya agen untuk bekerja di luar negeri saat anak beliau cukup usia.
3. Biaya untuk memperbaiki rumahnya di Indonesia
4. Dipotong dari 3 hal di atas, sisanya TIWA akan mentransfer sebesar 5000 NT setiap bulan untuk mencukupi kebutuhan anaknya sampai uang itu habis.
Di sini, saya sendiri selaku orang yang pernah satu atap dengan anak almarhumah selama dua bulan lebih di Shelter TIWA merasa terharu, speechless, dengan perjuangan TIWA yang begitu besarnya dalam memanusiakan manusia.
Mohon doa untuk kepulangan Almarhumah dan anak beliau hari ini semoga penerbangan tidak ada kendala apapun sampai tiba di Indonesia. Aamiin aamiin ya rabbal alamiin 🤲
Ganas Community