30/04/2026
Negara Muslim terbesar di dunia. Tapi partai Islam tidak pernah sekali pun memenangkan pemilu.
Bukan karena rakyatnya tidak saleh. Bukan karena Islam tidak relevan. Tapi karena kehancuran itu datang dari dalam tubuh partai Islam itu sendiri, diam-diam, tanpa pernah mereka sadari.
Irsyad Zamjani dalam bukunya mengajukan hipotesis yang tidak populer, tapi hampir tidak bisa dibantah. Partai-partai Islam Indonesia menjalani proses sekularisasi dari dalam dirinya sendiri, bukan karena dipaksa musuh, bukan karena serangan ideologi luar.
Mereka tetap memakai nama Islam, tetap membawa simbol-simbol agama ke panggung politik, tapi orientasi, cara berpikir, dan struktur kekuasaan mereka sudah bergerak jauh dari nilai yang mereka klaim diperjuangkan. Zamjani memberi nama fenomena ini dengan tepat: sekularisasi setengah hati.
Indonesia memasuki era demokrasi liberal pasca-proklamasi dengan harapan yang luar biasa besar. Masyumi dan NU masuk arena dengan keyakinan penuh bahwa rakyat Muslim akan berdiri di belakang mereka, sebab siapa lagi yang akan mereka pilih kalau bukan partai yang membawa nama agama mereka.
Tapi Pemilu 1955, yang para sejarawan sebut sebagai pemilu paling demokratis dalam sejarah Indonesia, memberi tamparan keras. Dengan populasi Muslim hampir 90 persen, hasil suara justru menempatkan partai nasionalis bersaing ketat di puncak. Sesuatu yang salah bukan di luar, melainkan di dalam.
Di Sidang Konstituante 1956 hingga 1959, partai-partai Islam berjuang mati-matian agar tujuh kata Piagam Jakarta masuk ke dalam konstitusi resmi negara ini. Ini bukan sekadar perdebatan hukum, ini adalah pertaruhan identitas dan masa depan politik Islam di Indonesia.
Namun ketika Dekrit Presiden 1959 turun, Piagam Jakarta hanya disebut menjiwai UUD 1945, bukan bagian yang sah dan mengikat. Inilah momen paling simbolik yang Zamjani analisis panjang lebar: kompromi itu bukan kemenangan, itu adalah titik di mana sekularisasi setengah hati mencapai puncaknya.
Zamjani tidak berhenti di periode formatif. Di akhir bukunya, ia menoleh ke era reformasi, menyaksikan partai-partai Islam baru bermunculan dengan wajah segar dan klaim-klaim lama yang sudah akrab. Apakah polanya berubah? Jawabannya membuat siapa pun yang membacanya berhenti sejenak.
Sekularisasi itu bukan paksaan dari luar. Ia tumbuh dari dalam, dari tarik-menarik kepentingan, dari ambisi kekuasaan yang pelan-pelan mengalahkan idealisme, dari politisi yang lebih takut kehilangan kursi daripada kehilangan identitas mereka sendiri. Dan itu masih terjadi hari ini, hanya dengan kostum yang berbeda.
Kalau kamu pikir sejarah politik Islam Indonesia sudah cukup kamu pahami dari pelajaran sekolah, buku ini akan membongkar segalanya dari akar. Zamjani menulis dengan pisau analisis yang tajam, tidak berpihak, dan jujur sampai ke bagian yang paling tidak nyaman sekalipun.